Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Banyaknya Erupsi di Indonesia Tak Otomatis Jadi Fase Erupsi Nasional
ilustrasi gunung erupsi (pexels.com/Diego Girón)
  • Empat gunung—Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu—erupsi pada awal September 2026, tetapi IABI menegaskan kondisi ini bukan fase erupsi nasional.
  • Aktivitas tiap gunung dikendalikan sistem magmatik lokal dan memiliki bahaya berbeda, seperti awan panas, lava, abu, gas, lahar, serta potensi gangguan laut di Anak Krakatau.
  • Peningkatan aktivitas vulkanik tidak otomatis memicu gempa megathrust; belum ada dasar ilmiah bahwa erupsi bersamaan menjadi indikator megathrust akan segera terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
awal September 2026

Empat gunung di Indonesia—Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu—mengalami erupsi.

Jumat (11/9/2026)

IABI menyatakan erupsi beberapa gunung secara bersamaan tidak berarti Indonesia memasuki fase erupsi nasional atau satu gunung memicu gunung lain. Aktivitas vulkanik juga tidak otomatis memicu gempa megathrust.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Empat gunung api di Indonesia mengalami erupsi pada awal September 2026, namun kondisi tersebut tidak dinilai sebagai fase erupsi nasional maupun indikator gempa megathrust segera terjadi.
  • Who?
    Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu mengalami erupsi. Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia menyampaikan penjelasan mengenai aktivitas vulkanik dan megathrust.
  • Where?
    Aktivitas terjadi di Indonesia, pada lokasi masing-masing Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu. Pernyataan Daryono disampaikan dari Jakarta.
  • When?
    Erupsi berlangsung pada awal September 2026. Daryono menyampaikan keterangannya pada Jumat, 11 September 2026.
  • Why?
    Setiap gunung api memiliki sistem magmatik lokal dan potensi bahaya berbeda. Gempa megathrust terjadi karena pelepasan energi elastik pada bidang kontak lempeng di zona subduksi.
  • How?
    Erupsi dapat menghasilkan awan panas, lava, batu pijar, hujan abu, gas vulkanik, dan lahar. Masyarakat sekitar gunung aktif perlu siaga; dekat laut juga perlu memperhatikan potensi gangguan laut atau tsunami vulkanik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pada awal September 2026, Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu meletus. Pak Daryono bilang ini bukan berarti semua gunung saling membuat meletus. Ini juga bukan tanda gempa megathrust akan segera datang. Orang yang tinggal dekat gunung tetap harus siap karena bisa ada abu, lava, dan awan panas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penjelasan IABI membantu menempatkan rangkaian erupsi secara lebih proporsional: aktivitas gunung api memiliki sistem magmatik dan potensi bahaya yang berbeda-beda, sehingga tidak perlu dibaca sebagai tanda fase erupsi nasional atau gempa megathrust yang segera terjadi. Pendekatan berbasis parameter tiap gunung memberi ruang bagi kesiapsiagaan yang lebih terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pada awal September 2026, ada empat gunung di Indonesia mengalami erupsi, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu. Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan, meski sejumlah gunung di Indonesia mengalami erupsi, hal itu tidak bisa dianggap sebagai fase erupsi nasional. Apalagi, erupsi dianggap memicu aktivitas gunung yang lain.

"Aktivitas beberapa gunung api secara bersamaan tidak otomatis berarti Indonesia sedang memasuki fase 'erupsi nasional' atau bahwa satu gunung memicu gunung lainnya. Indonesia memang memiliki banyak gunung api aktif, karena berada pada zona subduksi dan pertemuan lempeng yang sangat aktif. Aktivitas masing-masing gunung pada dasarnya dikontrol oleh sistem magmatik lokal, sehingga harus dianalisis berdasarkan parameter masing-masing gunung," ujar Daryono kepada IDN Times, Jumat (11/9/2026).

Daryono mengatakan, potensi berbeda bahaya erupsi pada setiap gunung berapi. Oleh karena itu, diperlukan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi aktif.

"Potensi bahayanya juga berbeda, erupsi dapat menghasilkan awan panas, lava, lontaran batu pijar, hujan abu, gas vulkanik, dan lahar. Pada gunung yang berada dekat laut, seperti Anak Krakatau, perlu pula diperhatikan potensi gangguan laut atau tsunami akibat proses vulkanik, meski mekanismenya berbeda dngan tsunami akibat gempa megathrust," ujar dia.

1. Erupsi tak otomatis picu gempa megathrust

Ilustrasi Gempa Bumi. (IDN Times/Anjani Asra)

Daryono juga mengatakan, meningkatnya aktivitas gunung api tidak otomatis memicu gempa megathrust.

"Tidak tepat mengatakan bahwa meningkatnya aktivitas gunung api otomatis akan memicu gempa megathrust," ujar dia.

2. Bagaimana gempa megathrust yang terjadi?

Ilustrasi Gempa Bumi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Daryono menjelaskan, gempa megathrust terjadi akibat pelepasan energi elastik pada bidang kontak lempeng di zona subduksi ketika tegangan tektonik yang terakumulasi dilepaskan. Sementara erupsi gunung api terutama berkaitan dengan proses pergerakan dan tekanan magma di dalam sistem vulkanik.

"Memang secara fisika, gempa dan aktivitas vulkanik sama-sama berada dalam sistem tektonik yang lebih besar sehingga interaksi antara proses tektonik dan magmatik dapat terjadi," kata dia.

3. Gempa besar terjadi bisa karena aktivitas vulkanik?

Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Esti Suryani)

Dalam kondisi tertentu, gempa besar juga bisa terjadi karena pengaruh sistem vulkanik dan perubahan tekanan kerak. Meski demikian, kata Daryono, tidak ada dasar ilmiah yang menyimpulkan erupsi bisa memicu gempa megathrust.

"Gempa besar dapat dalam kondisi tertentu memengaruhi sistem vulkanik dan perubahan tekanan kerak dapat memengaruhi aktivitas magma, tetapi tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa 'banyak gunung api aktif sama dengan megathrust segera terjadi'," kata dia.

"Demikian pula, aktivitas beberapa gunung api yang berlangsung bersamaan bukan indikator prediktif, bahwa gempa megathrust akan segera terjadi,"ucap Daryono.

Curated For You

Editorial Team

Related Article