Ahli: Meningkatnya Aktivitas Gunung Api Tak Otomatis Picu Megathrust

- Empat gunung api Indonesia—Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu—erupsi bersamaan pada 6 September 2026, namun tidak otomatis memicu gempa megathrust.
- Menurut Daryono, megathrust terjadi akibat pelepasan tegangan tektonik di zona subduksi, sedangkan erupsi dipengaruhi pergerakan serta tekanan magma dalam sistem vulkanik.
- Aktivitas serentak beberapa gunung bukan fase erupsi nasional atau indikator megathrust; warga sekitar tetap perlu siaga terhadap awan panas, lava, abu, gas, lahar, dan potensi gangguan laut.
Jakarta, IDN Times - Empat gunung berapi di Indonesia mengalami erupsi secara bersamaan pada 6 September 2026, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan meningkatnya aktivitas gunung api tidak otomatis memicu gempa megathrust.
"Tidak tepat mengatakan bahwa meningkatnya aktivitas gunung api otomatis akan memicu gempa megathrust," ujar Daryono kepada IDN Times, Jumat (11/9/2026).
1. Bagaimana gempa megathrust terjadi?
.jpg)
Ilustrasi gempa (IDN Times/Arief Rahmat) Daryono menjelaskan, gempa megathrust terjadi akibat pelepasan energi elastik pada bidang kontak lempeng di zona subduksi, ketika tegangan tektonik yang terakumulasi dilepaskan. Sementara, erupsi gunung api terutama berkaitan dengan proses pergerakan dan tekanan magma di dalam sistem vulkanik.
"Memang secara fisika, gempa dan aktivitas vulkanik sama-sama berada dalam sistem tektonik yang lebih besar, sehingga interaksi antara proses tektonik dan magmatik dapat terjadi," ucap dia.
2. Gempa besar terjadi bisa karena aktivitas vulkanik?

Ilustrasi gempa bumi. (IDN Times/Sukma Shakti) Dalam kondisi tertentu, gempa besar juga bisa terjadi karena pengaruh sistem vulkanik dan perubahan tekanan kerak. Meski demikian, Daryono menegaskan, tidak ada dasar ilmiah yang menyimpulkan erupsi bisa picu gempa megathrust.
"Gempa besar dapat dalam kondisi tertentu memengaruhi sistem vulkanik, dan perubahan tekanan kerak dapat memengaruhi aktivitas magma. Tetapi tidak ada dasar ilmiah utuk menyimpulkan bahwa 'banyak gunung api aktif = megathrust segera terjadi'," kata dia.
"Demikian pula, aktivitas beberapa gunung api yang berlangsung bersamaan bukan indikator prediktif, bahwa gempa megathrust akan segera terjadi," sambung Daryono.
3. Banyaknya erupsi gunung di Indonesia bukan sebagai fase erupsi nasional

Ilustrasi gempa. (IDN Times) Lebih lanjut, Daryono menyampaikan, meski sejumlah gunung di Indonesia mengalami erupsi, hal itu tidak bisa dianggap sebagai fase erupsi nasional. Apalagi, erupsi dianggap memicu aktivitas gunung yang lain.
"Aktivitas beberapa gunung api secara bersamaan tidak otomatis berarti Indonesia sedang memasuki fase 'erupsi nasional' atau bahwa satu gunung memicu gunung lainnya. Indonesia memang memiliki banyak gunung api aktif, karena berada pada zona subduksi dan pertemuan lempeng yang sangat aktif. Aktivitas masing-masing gunung pada dasarnya dikontrol oleh sistem magmatik lokal, sehingga harus dianalisis berdasarkan parameter masing-masing gunung," kata dia.
Daryono menyebut potensi bahaya erupsi ada pada setiap gunung berapi. Oleh karena itu, diperlukan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung berapi aktif.
"Potensi bahayanya juga berbeda, erupsi dapat menghasilkan awan panas, lava, lontaran batu pijar, hujan abu, gas vulkanik, dan lahar. Pada gunung yang berada dekat laut, seperti Anak Krakatau, perlu pula diperhatikan potensi gangguan laut atau tsunami akibat proses vulkanik, meski mekanismenya berbeda dengan tsunami akibat gempa megathrust," ujar dia.


















