Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

CEK FAKTA: Apakah Alat HAARP di AS Bisa Picu Gempa dan Erupsi Gunung?

CEK FAKTA: Apakah Alat HAARP di AS Bisa Picu Gempa dan Erupsi Gunung?
Ilustrasi Cek Fakta (IDN Times/Aditya Pratama)
  • HAARP di Alaska adalah fasilitas riset ionosfer yang memakai 180 antena radio HF untuk mengamati respons plasma terhadap gangguan kecil, lokal, sementara, dan terkontrol.
  • Meski pernah dikelola bersama militer AS, fasilitas HAARP dialihkan ke University of Alaska Fairbanks pada 2015; keterlibatan militer bukan bukti alat ini senjata bencana.
  • Ahli kebencanaan Daryono menegaskan tidak ada mekanisme fisika atau bukti ilmiah bahwa HAARP dapat memicu gempa, tsunami, maupun erupsi gunung api.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Media sosial sedang membahas mengenai konspirasi bencana alam bisa dipicu oleh suatu teknologi. Alat tersebut disebut bernama High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) yang berada d Gakona, Alaska, Amerika Serikat.

Terlebih, salah satu orang yang bekerja di pemerintahan dalam sebuah podcast memunculkan spekulasi, bencana bisa diciptakan akibat sedang berkonflik dengan Amerika Serikat (AS).

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan HAARP itu digunakan untuk mempelajari sifat serta perilaku ionosfer, yaitu bagian atmosfer atas yang mengandung ion dan elektron bebas serta berinteraksi kuat dengan radiasi matahari dan gelombang radio.

"Instrumen utamanya, Ionospheric Research Instrument (IRI), terdiri atas 180 antena radio HF yang tersusun sebagai phased array dan mampu memancarkan daya radio hingga sekitar 3,6 MW ke ionosfer. HAARP memang menggunakan gelombang radio berfrekuensi tinggi untuk memberikan gangguan kecil dan terkontrol pada plasma ionosfer, kemudian mengamati responsnya," ujar Daryono dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, HAARP merupakan teknologi nyata yang memiliki pemancar berdaya tinggi yang dikembangkan bersama unsur militer.

"Dalam narasi tersebut, HAARP dituduh mampu mengendalikan cuaca, memicu gempa bumi, menghasilkan tsunami, memicu letusan gunung api, bahkan menciptakan berbagai bencana alam," ucap dia.

"Persoalannya bukan apakah HAARP benar-benar ada, HAARP memang ada, melainkan apakah kemampuan luar biasa yg dituduhkan kepadanya sesuai dengan hukum fisika dan bukti observasional. Di sinilah persoalan tersebut harus dikembalikan dari ranah spekulasi ke ranah sains," sambungnya.

  1. 1. HAARP bukan senjata bencana

    Ilustrasi Cek Fakta (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Cek Fakta (IDN Times/Aditya Pratama)

    Daryono mengatakan, HAARP memang pernah dikembangkan oleh militer Amerika Serikat. Namun, hal itu bukan berarti menjadi bukti HAARP sebagai senjata bencana.

    "Ada satu fakta yg harus diakui secara jujur, HAARP memang memiliki sejarah keterlibatan militer. Program ini dimulai pada 1990 dan hingga 2014 dikelola bersama oleh U.S. Air Force dan U.S. Navy, antara lain utk memperluas pengetahuan mengenai ionosfer dan pengaruhnya terhadap propagasi gelombang radio, komunikasi, serta sistem navigasi. Namun, pada 11 Agustus 2015, fasilitas dan peralatan HAARP secara formal dialihkan dari militer kepada University of Alaska Fairbanks (UAF) untuk kepentingan penelitian dan lab mahasiswa," kata dia.

    Daryono menyampaikan, fakta HAARP pernah dikembangkan oleh militer, bukan berarti teknologi tersebut mampu menciptakan bencana alam. Status proyek yang pernah dikembangkan oleh militer bukan otomatis membuktikan semua kemampuannya bisa disebut sebagai senjata.

    "Dalam ilmu pengetahuan, kemampuan sebuah alat harus dibuktikan berdasarkan mekanisme fisik, besaran energi, lokasi interaksi, hasil eksperimen, dan reproduktibilitas, bukan berdasarkan siapa yang pernah membiayai atau mengembangkan teknologi tersebut," ucap dia.

  2. 2. Apa sebenarnya yang dilakukan HAARP

    ilustrasi cek fakta disinformasi (IDN Times/Lia Hutasoit)
    ilustrasi cek fakta disinformasi (IDN Times/Lia Hutasoit)

    Dalam kesempatan itu, Daryono menjelaskan apa yang sebenarnya dilakukan HAARP. Dia menjelaskan, HAARP tidak bekerja dengan memancarkan energi ke dalam kerak bumi, sasaran eksperimennya adalah ionosfer yang berada sekitar 60-80 kilometer hingga 500 kilometer di atas permukaan bumi.

    "Gelombang radio HF dari HAARP berinteraksi dengan elektron bebas di ionosfer dan dapat menghasilkan perturbasi plasma yang kecil, lokal, sementara, serta dapat dikontrol waktu dan lokasinya," ujar dia.

    "Inilah salah satu sumber kesalahpahaman paling besar. Pernyataan 'HAARP dapat memanaskan ionosfer' adalah benar secara ilmiah. Tetapi pernyataan 'karena dapat memanaskan ionosfer maka HAARP dapat memanaskan kerak Bumi, menggerakkan sesar, atau memicu gunung api' adalah lompatan kesimpulan yang tidak mempunyai dasar mekanisme fisika, alias sesat pikiran," sambungnya.

  3. 3. HAARP bisa sebabkan gempa bumi, tsunami dan erupsi gunung?

    Ilustrasi Cek Fakta (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi Cek Fakta (IDN Times/Aditya Pratama)

    Lebih lanjut Daryono menjelaskan mengenai spekulasi HAARP bisa menyebabkan gempa bumi, tsunami dan erupsi gunung. Daryono menyampaikan, gempa tektonik terjadi ketika ada tegangan yang terakumulasi pada kerak bumi dan bidang sesar akhirnya melampaui kekuatan geseknya, sehingga slip tiba-tiba. Energi gempa berasal dari energi gempa elastik yang telah tersimpan dalam sistem kerak bumi akibat deformasi tektonik selama waktu yang panjang.

    Sampai saat ini tidak terdapat mekanisme fisika yang telah terbukti untuk menjelaskan rantai sebab-akibat tersebut. HAARP bekerja melalui interaksi gelombang radio dgn plasma di ionosfer, sedangkan gempa tektonik merupakan proses mekanik-geologi yg berlangsung pada batuan kerak Bumi. Kedua sistem tersebut berada pada lingkungan fisik, mekanisme energi, dan skala yg sangat berbeda," ucap dia.

    Daryono memastikan, hingga kini tidak terbukti secara ilmiah HAARP dapat menciptakan gempa.

    Selain itu, Daryono juga menegaskan, HAARP tidak bisa menghasilkan tsunami. Sebab, tsunami umumnya terjadi dan membutuhkan perpindahan massa air secara tiba-tiba dengan sekala besar.

    Salah satu pemicu penting terjadinya tsunami adalah deformasi dasar laut akibat gempa bumi. Tsunami juga bisa disebabkan oleh longsoran bawah laut.

    "Jika seseorang menyatakan HAARP menyebabkan tsunami, maka harus dijelaskan rantai mekanismenya:

    HAARP - >perubahan ionosfer ->perubahan kerak Bumi >rupture sesar bawah laut ->deformasi dasar laut ->perpindahan massa air -> tsunami," kata Daryono.

    Kemudian, apakah ada kaitannya HAARP dan erupsi gunung api? Menurutnya, Sistem vulkanik dikendalikan oleh proses di dalam kerak dan manel atas, termasuk pergerakan magma, tekanan fluida dan gas. Selain itu, ada perubahan tekanan, rekahan batuan, serta kondisi sistem magmatik.

    "Erupsi dapat berlangsung sangat eksplosif karena energi dan volatil yang tersimpan dlm sistem magma. Namun tidak ada bukti bahwa gelombang radio HAARP dpt mentransfer energi ke dapur magma dalam cara yg dapat meningkatkan tekanan magmatik hingga menyebabkan erupsi," ujar dia.

    Kesimpulannya, HAARP tidak bisa menyebabkan gempa bumi, tsunami dan erupsi gunung api.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More