Trump: Tak Memilih di Pemilu Sela, Kalian Masuk Neraka!

- Donald Trump menyerukan pendukung Partai Republik memilih dalam pemilu sela November 2026.
- Trump meminta peserta konvensi memilih pada 3 November atau memanfaatkan pemungutan suara lebih awal.
- JD Vance turut mendorong mobilisasi pemilih Republik dan tampil menonjol menjelang pemilu presiden 2028.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menutup konvensi Partai Republik di Dallas, Texas, dengan menyerukan pendukungnya untuk turun memilih dalam pemilu sela atau midterm pada November 2026.
Dalam pidatonya pada Kamis malam waktu setempat, Trump bahkan meminta peserta konvensi mengucapkan sumpah untuk memilih pada 3 November atau menggunakan kesempatan pemungutan suara lebih awal. Ia menekankan pentingnya mempertahankan kendali Partai Republik atas House of Representatives dan Senat.
Trump kembali menyampaikan klaim keberhasilan pemerintahannya sekaligus memperingatkan pendukung tentang konsekuensi jika Partai Demokrat berhasil merebut kembali kekuasaan di Kongres.
Mobilisasi tersebut datang ketika pemilu midterm semakin dekat. Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi dalam pemilu sela, sehingga Trump menghadapi tantangan untuk mempertahankan mayoritas Republik di kedua kamar Kongres.
1. Trump minta pendukung Republik turun memilih

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Michael Vadon) Trump meminta peserta konvensi mengucapkan sumpah untuk menggunakan hak pilih dalam pemilu November.
“Saya bersumpah kepada presiden terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Saya akan mengajak teman-teman saya, keluarga saya, dan kami akan memilih pada 3 November, atau kami akan memilih lebih awal,” kata Trump di hadapan para pendukungnya, dikutip dari Anadolu, Jumat (11/9/2026).
Trump kemudian melontarkan pernyataan yang menyinggung dugaan kecurangan dalam pemilu. Ia mengatakan akan berusaha keras untuk memilih, termasuk dengan kalimat yang menyiratkan bahwa Partai Demokrat melakukan kecurangan.
“Saya tidak peduli apakah saya terdaftar atau tidak. Saya akan berusaha curang sekuat tenaga, seperti yang mereka lakukan,” ujarnya.
Setelah para peserta mengucapkan sumpah tersebut, Trump kembali memancing respons massa dengan mengatakan, “Kalian tahu apa yang terjadi kalau kalian tidak memilih? Kalian masuk neraka.”
Seruan Trump memperlihatkan bagaimana kampanye Partai Republik mulai diarahkan untuk meningkatkan partisipasi basis pemilih menjelang pemilu November. Pemilu tersebut akan menentukan komposisi House dan Senat selama sisa masa jabatan kedua Trump.
2. Trump klaim berhasil penuhi janji politik

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menari di acara kampanye pemilihan Presiden AS pada 23 Agustus 2024 di Glendale, Arizona. (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore) Trump juga menggunakan konvensi tersebut untuk mempromosikan sejumlah kebijakan yang menurutnya telah memenuhi janji pada kampanye sebelumnya.
“Dalam 19 bulan, saya telah memenuhi setiap janji yang saya buat,” kata Trump.
Ia menggambarkan pemerintahannya telah membawa AS keluar dari apa yang disebutnya sebagai “masa gelap” menuju “era keemasan Amerika”. Trump merujuk pada kenaikan pasar saham, penurunan harga obat resep, serta peningkatan belanja militer sebagai sejumlah indikator keberhasilannya.
Trump juga mengklaim kebijakannya telah membuat AS menjadi kekuatan energi dan militer dunia.
Di bidang imigrasi, Trump menyoroti penurunan tajam penyeberangan perbatasan secara ilegal. Ia juga memuji sejumlah kebijakan yang disahkan melalui Kongres, termasuk keringanan pajak untuk pendapatan lembur, tip, dan pembayaran Social Security.
Namun, pidato Trump tidak hanya berisi daftar capaian pemerintah. Ia juga menggunakan kekhawatiran terhadap Partai Demokrat sebagai alat untuk mendorong pendukung Republik mempertahankan mayoritas di Kongres.
Trump memperingatkan jika Demokrat kembali berkuasa, mereka akan “menyita kekayaan kalian, menghancurkan industri minyak dan gas Texas, serta membebaskan para kriminal untuk merampok, memperkosa, dan membunuh seperti yang terjadi dua tahun lalu.”
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari strategi Trump untuk menggambarkan pemilu midterm sebagai pertarungan besar mengenai arah kebijakan AS, terutama terkait ekonomi, energi, keamanan, dan imigrasi.
Secara historis, partai presiden sering kehilangan kursi dalam pemilu sela. Trump mengatakan dirinya ingin membalikkan pola tersebut dan mempertahankan mayoritas Partai Republik di House maupun Senat.
3. JD Vance mulai diposisikan untuk 2028

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, sedang berpidato di acara AmericaFest 2025 di Phoenix Convention Center, Arizona. (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore) Wakil Presiden AS JD Vance menjadi pembicara utama sebelum Trump menyampaikan pidatonya. Vance juga meminta pemilih Republik keluar memberikan suara demi mempertahankan mayoritas partai di Kongres.
“Jangan serahkan negara ini kepada sekelompok orang gila hanya karena kalian tidak setuju dengan kami mengenai satu atau dua isu kebijakan,” kata Vance.
“Kita harus mengirimkan pesan pada November ini bahwa negara ini bukan milik kaum radikal. Negara ini bukan milik para birokrat. Negara ini bukan milik penawar tertinggi. Negara ini diwariskan kepada kita oleh orangtua kita dan generasi sebelum mereka,” lanjutnya.
Seruan Vance dan Trump tidak hanya berorientasi pada pemilu November 2026. Konvensi tersebut juga menjadi panggung untuk membangun basis politik Partai Republik menuju pemilu presiden 2028.
Trump tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga setelah menyelesaikan periode keduanya di Gedung Putih. Karena itu, perhatian di dalam Partai Republik mulai beralih kepada figur yang berpotensi meneruskan agenda politik Trump.
Vance menjadi salah satu tokoh yang paling menonjol dalam posisi tersebut. Sebagai wakil presiden, ia berada di garis depan pemerintahan Trump dan semakin sering tampil untuk menyampaikan agenda politik kepada basis Partai Republik.
Dalam pidatonya di Dallas, Vance tidak secara langsung mengumumkan pencalonan untuk 2028. Namun, kehadirannya sebagai pembicara utama dan seruannya untuk mempertahankan mayoritas Republik menunjukkan bahwa ia mulai mengambil peran penting dalam mobilisasi politik partai.
Dengan demikian, konvensi Republik di Texas tidak hanya menjadi ajang persiapan menghadapi midterm. Pertemuan tersebut juga memperlihatkan bagaimana Trump dan Vance mulai membangun kesinambungan politik Partai Republik menjelang kontestasi presiden berikutnya.


















