Jakarta, IDN Times — Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 77.912 rumah mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan kerusakan rumah tersebut tersebar di tujuh kabupaten, yakni Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, dan Sikka.
“Saat ini di dalam catatan kami sebanyak 77.912 rumah rusak. Ini secara total. Dan ini tentu ada yang rusak berat, rusak sedang maupun rusak ringan,” ujar Berton dalam jumpa pers daring, Selasa (25/8/2026).
Dari total tersebut, BNPB mencatat 24.597 rumah rusak berat. Kemudian sebanyak 18.537 rumah mengalami rusak sedang dan 34.776 rumah lainnya masuk kategori rusak ringan.
Berton menegaskan data tersebut masih akan melalui proses pendataan dan verifikasi. BNPB perlu memastikan tingkat kerusakan setiap rumah sebelum memberikan penanganan.
“BNPB tentu akan melakukan upaya-upaya untuk rumah-rumah rusak tersebut. Namun sebelumnya BNPB akan melakukan pendataan dan verifikasi apakah rumah tersebut termasuk rusak berat atau rusak ringan atau bahkan tidak rusak sama sekali, tapi dilaporkan kepada kami sebanyak itu,” katanya.
Saat ini, tim dari Kedeputian Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB telah melakukan pendampingan di tujuh kabupaten terdampak. Verifikasi tersebut dilakukan untuk mempercepat peralihan dari masa tanggap darurat menuju tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Berton menjelaskan proses pendataan tidak hanya untuk mengetahui kondisi fisik rumah, tetapi juga memastikan identitas pemilik rumah yang terdampak.
BNPB akan melengkapi data berupa nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK) dari warga terdampak. Data tersebut kemudian digunakan untuk memvalidasi penerima berdasarkan nama dan alamat atau by name, by address.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kesalahan dalam penyaluran bantuan, termasuk kemungkinan rumah dilaporkan rusak tetapi kepemilikannya tidak sesuai dengan data warga yang mengajukan.
“Tentu kami akan melakukan ini secara cermat sehingga tidak ada hak-hak dari warga yang terlewatkan,” ucap Berton.
Menurutnya, pendampingan BNPB saat ini difokuskan pada percepatan assessment atau penilaian tingkat kerusakan. Tim juga menyiapkan standar dan nilai kerusakan berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Hasil assessment tersebut nantinya akan dituangkan dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). Dokumen tersebut tidak hanya memuat kebutuhan penanganan rumah warga, tetapi juga berbagai infrastruktur yang terdampak seperti jembatan dan fasilitas lainnya.
Gempa utama yang mengguncang NTT terjadi pada 15 Agustus 2026. Hingga kini, dampak bencana tersebut masih dirasakan masyarakat karena aktivitas gempa susulan terus terjadi.
BNPB mencatat korban meninggal dunia akibat gempa NTT telah mencapai 103 jiwa. Data tersebut dihimpun hingga Selasa (25/8/2026) pukul 16.00 WIB.
“Hari ini kami mencatat ada penambahan tiga jiwa meninggal, menjadi 103 untuk hari ini catatan kami. Kami tetap menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya,” kata Berton dalam jumpa pers secara daring.
Korban meninggal terbanyak tercatat di Manggarai sebanyak 41 jiwa, disusul Manggarai Timur 34 jiwa, Nagekeo 13 jiwa, Sikka enam jiwa, Ngada lima jiwa, Ende tiga jiwa, dan Manggarai Barat satu jiwa.
Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.666 orang mengalami luka-luka. Jumlah tersebut bertambah 63 orang dibandingkan data sebelumnya.
Di sisi lain, aktivitas gempa susulan masih berlangsung. Berdasarkan catatan BMKG yang disampaikan BNPB, hingga kini telah terjadi 7.029 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1.
Sebanyak 141 gempa susulan dilaporkan dapat dirasakan masyarakat dalam periode kemarin hingga hari ini. Kondisi tersebut membuat proses pemulihan harus dilakukan secara bertahap, sembari memastikan keselamatan warga dan akurasi pendataan kerusakan.
Berton mengatakan pola gempa susulan masih berpotensi berlangsung selama beberapa pekan setelah gempa utama.
“Pola ini akan terus berlangsung sampai 4 sampai 3 minggu setelah gempa utama terjadi,” ujarnya.
