CEK FAKTA: Stok Obat Oseltamivir di Rumah Sakit dan Apotek Kosong

Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan oseltamivir masih tersedia di rumah sakit, membantah narasi bahwa stok obat tersebut kosong di Indonesia.
Oseltamivir tidak diberikan kepada semua pasien influenza, melainkan terbatas untuk pasien bergejala berat atau memiliki komorbid yang membutuhkan antivirus.
Pembatasan penggunaan diterapkan untuk mencegah resistansi antivirus; pemerintah meminta peningkatan influenza direspons lewat surveilans dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.
Jakarta, IDN Times - Seiring meningkatnya kasus Influenza di Indonesia muncul narasi yang menyebutkan bahwa obat oseltamivir di Indonesia sudah kosong termasuk di rumah sakit dan apotek.
Narasi tersebut ramai disuarakan di media sosial @threads, salah satunya pengguna medsos dengan akun @xxx****e yang sulit mencari obat tersebut di apotek.
"Diresepin oseltavimir, di suruh cari sndri di luar RS yang kyknya uda ga ada di indo. Uda cari di semua apotik dan RS luar juga pada kosong," tulisnya
Benarkan obat oseltamivir kosong?
1. Obat oseltamivir tidak untuk semua pasien

Menkes Budi Gunadi Sadikin bersama Sekda Jateng saat konferensi pers terakhir perkembangan terbaru layanan CKG untuk wilayah Jateng. (IDN Times/Fariz Fardianto) Menkes Budi Gunadi Sadikin menegaskan, obat antivirus seperti oseltamivir tidak ditujukan untuk semua pasien influenza. Berdasarkan masukan para ahli, obat ini diberikan secara terbatas hanya pada pasien dengan kondisi berat atau pasien dengan komorbid yang memang membutuhkan antivirus. Dia memastikan obat tersebut tersedia di rumah sakit
"Jadi obat oseltamivir itu ada di rumah sakit, tapi berdasarkan para ahli yang menyampaikan bahwa tidak bisa sembarangan diberikan karena bisa mengakibatkan resistensi," ujar Menkes Budi.
2. Penggunaan oseltamivir dibatasi

ilustrasi oseltamivir (commons.wikimedia.org/Mk2010) Pembatasan penggunaan oseltamivir diperlukan untuk mencegah terjadinya resistansi terhadap obat antivirus. Menkes mengibaratkan hal tersebut dengan penggunaan antibiotik yang tidak tepat yang dapat mendorong terjadinya resistansi antimikroba.
“Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistansi. Kalau resistansi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa, seperti influenza H5Nx,” lanjut Menkes.
3. Kabar tersebut disinformasi

Ilustrasi Cek Fakta General. (IDN Times/Anjani Asra) Budi mengimbau agar peningkatan kasus influenza perlu direspons dengan penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan dengan kepanikan
Jadi kabar oseltamivir kosong merupakan disinformasi atau hoaks, karena Menkes menjamin bahwa obat tersebut masih tersedia di rumah sakit.

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















