Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Deretan Pernyataan Prabowo dari Ndasmu, Bego, hingga Londo Ireng
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Presiden Prabowo Subianto beberapa kali memakai ungkapan spontan saat berpidato di berbagai acara selama memimpin Indonesia.

  • Sejumlah pernyataan muncul ketika Prabowo merespons kritik, pemberitaan media, korupsi, serta pandangan terhadap pemerintah.

  • Ungkapan tersebut menjadi sorotan publik karena menyinggung kritik, pengawasan, persatuan, dan kepentingan asing.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sabtu (15/2/2025)

Prabowo mengucapkan kata “ndasmu” saat menghadiri perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra di SICC, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Rabu (5/2/2025)

Prabowo menyebut “tolol” dan “bajingan tolol” dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-102 NU di Istora Senayan, Jakarta.

Jumat (22/8/2025)

Prabowo menggunakan istilah “antek-antek asing” saat memberikan pengarahan kepada kepala sekolah dan guru Sekolah Rakyat di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Rabu (10/6/2026)

Prabowo menggunakan ungkapan “nyenyenye” dalam Munas XVIII HIPMI di Bandar Lampung, Lampung.

Jumat (10/7/2026)

Prabowo menggunakan kata “bajingan” saat membahas korupsi dan mengucapkan “emang gue pikirin” ketika menyinggung pemberitaan media dalam acara peresmian sejumlah bendungan di Nusa Tenggara Barat.

Minggu (12/7/2026)

Prabowo kembali menggunakan kata “bajingan” dalam puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta Pusat.

Kamis (23/7/2026)

Prabowo menggunakan istilah “Londo Ireng” dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di JCC, Senayan, Jakarta.

Jumat (18/9/2026)

Prabowo menyampaikan pernyataan “saking pintarnya jadi goblok” saat menghadiri perayaan HUT ke-28 PAN di JCC, Senayan, Jakarta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Presiden Prabowo Subianto melontarkan sejumlah ungkapan yang menjadi sorotan publik dalam berbagai pidato.
  • Who?
    Presiden Prabowo Subianto, serta sejumlah kelompok dan tokoh yang disebut dalam konteks pidatonya.
  • Where?
    Berbagai acara di Jakarta, Kabupaten Bogor, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.
  • When?
    Selama dua tahun memimpin Indonesia, dengan pernyataan yang tercatat pada 2025 dan 2026.
  • Why?
    Prabowo menyampaikan respons terhadap kritik, pemberitaan media, korupsi, persaingan politik, dan pandangan tentang pemerintah.
  • How?
    Ungkapan disampaikan secara spontan dalam pidato, pengarahan, dan interaksi Prabowo dengan wartawan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Presiden Prabowo sering berbicara di banyak acara. Ia memakai kata-kata seperti “ndasmu”, “bajingan”, dan “Londo Ireng” saat membahas kritik, wartawan, korupsi, dan orang yang tidak setuju dengan pemerintah. Kata-kata itu lalu dibicarakan banyak orang. Prabowo juga menyampaikan pesan tentang persatuan, usaha, dan Indonesia yang sejahtera.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Rangkaian pidato tersebut menunjukkan Prabowo menyampaikan pesan tentang pemerintahan yang bersih, ketekunan pengusaha muda, persatuan, pengawasan, serta cita-cita Indonesia sejahtera. Di tengah pilihan kata yang menjadi sorotan, terdapat pula penekanan pada pembangunan usaha, perekonomian nasional, dan kehidupan anak-anak yang lebih baik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto beberapa kali melontarkan kata-kata yang menarik perhatian publik saat berpidato di sejumlah acara selama dua tahun memimpin Indonesia. Mulai dari “ndasmu,” “bajingan tolol,” hingga “Londo ireng,” pernyataannya pun menjadi perbincangan publik.

Prabowo mengucapkan kata “ndasmu” saat menghadiri perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/2/2025).

Dalam pidatonya, saat itu dia menanggapi kritik mengenai ukuran Kabinet Merah Putih yang dinilai terlalu besar. Prabowo juga merespons anggapan dirinya berada di bawah kendali Presiden ke-7 RI, Joko “Jokowi” Widodo.

“Ada orang-orang pintar yang mengatakan bahwa kabinet ini terlalu besar atau gemuk. Ndasmu!” ujar Prabowo dalam pidatonya.

Ungkapan dalam bahasa Jawa tersebut menjadi sorotan karena disampaikan secara spontan ketika Prabowo merespons kritik terhadap pemerintahannya.

1. “Tolol” dan “bajingan tolol” saat Harlah NU

Presiden Prabowo Subianto pidato di acara Puncak Harlah ke-102 NU di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (5/2/2025).

Pada Rabu (5/2/2025), Prabowo menyinggung ejekan yang menurutnya pernah dilontarkan orang lain kepadanya. Pernyataan itu disampaikan dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-102 Nahdlatul Ulama (NU) di Istora Senayan, Jakarta.

“Dan saudara-saudara, jangan kira kami-kami ini bodoh. Memang ada yang mengatakan saya ini tolol, ada, gak apa-apa. Ada yang mengatakan saya bajingan yang tolol, ya kan, tapi saya gak sebut namanya, kalian sudah tahu, gak apa-apa,” kata Prabowo.

Dia tidak menyebut identitas orang yang dimaksud. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menegaskan komitmennya membangun pemerintahan yang bersih serta mengingatkan jajaran pemerintah agar tidak melakukan penyelewengan.

Kata “tolol” dan “bajingan tolol” dalam pernyataan itu merupakan ejekan yang diklaim Prabowo pernah ditujukan kepadanya, bukan makian yang ia arahkan kepada orang lain.

2. “Antek-antek asing” saat pembekalan guru sekolah rakyat

Presiden Prabowo Subianto (YouTube Setpres)

Prabowo kembali menggunakan istilah “antek-antek asing” ketika memberikan pengarahan kepada kepala sekolah dan guru Sekolah Rakyat di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (22/8/2025).

Dia menyinggung pihak-pihak yang menurutnya tidak menginginkan Indonesia bangkit dan menjadi negara kuat. Prabowo mengaitkan pandangan tersebut dengan upaya pemerintah mengelola kekayaan nasional.

“Ada segelintir orang, ada saya kira mereka entah sadar atau tidak sadar, mereka, ya, itu, sudah jadi antek-antek asing, gak apa-apa saya bicara di depan wartawan. Saya katakan, mereka sadar atau tidak, mereka antek asing, mereka tidak suka Indonesia bangkit, mereka tidak suka Indonesia bangkit,” ujar Prabowo.

Pernyataan tersebut menuai perhatian karena Prabowo menggunakan istilah yang mengaitkan pihak-pihak yang dinilainya berseberangan dengan pemerintah dengan kepentingan asing.

3. “Nyenye-nyenye” saat Munas HIPMI

Presiden Prabowo Subianto dalam Munas HIPMI pada Rabu (10/6/2026). (YouTube/ Sekretariat Presiden)

Dalam Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Lampung, Rabu (10/6/2026), Prabowo menyampaikan pesan kepada pengusaha muda agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan.

“Inti-intinya sudah saya sampaikan. Kita butuh pengusaha-pengusaha yang militan, yang semangat, yang cerdas, yang tidak mengenal menyerah. Jatuh, bangkit lagi! Jatuh, bangkit lagi!” ujar Prabowo.

Dia kemudian menyindir pihak yang dinilainya gemar mencibir dan menghasut masyarakat.

“Kalau ada yang menghasut, memecah-belah, yakinlah dia bekerja untuk orang lain, bukan untuk orang Indonesia. Yang nyinyir-nyinyir, biar aja. Nyenyenye,” kata Prabowo.

Ungkapan “nyenyenye” digunakan untuk menggambarkan cibiran yang menurutnya tidak perlu mengalihkan perhatian dari upaya membangun usaha dan perekonomian nasional.

4. “Saya gak boleh bilang koruptor itu bajingan” saat meresmikan bendungan

Joint press statement di sela Pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El Sisi di Istana Merdeka. (Tangkapan Youtube Sekretariat Presiden)

Prabowo menggunakan kata “bajingan” ketika membahas korupsi dalam acara peresmian sejumlah bendungan di Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7/2026). Dia mengatakan, harus berhati-hati memilih kata-kata ketika berbicara di hadapan jurnalis.

“Ini ada wartawan jadi saya gak boleh bicara. Saya harus bicara hati-hati, saya harus bicara sopan, saya gak boleh bilang koruptor itu bajingan. Gak boleh itu,” ujar Prabowo.

Prabowo kemudian berkelakar mengenai kemungkinan media menyoroti ucapannya tersebut.

“Nanti ini, yang di-blow up, yang ini. ‘Prabowo bajinga.’ Presiden ngomongnya harus sopan, halus,” kata dia.

Pernyataan itu disampaikan dalam konteks pembahasan korupsi dan cara media memberitakan ucapan Presiden. Prabowo tidak sedang menyebut seluruh pengkritik pemerintah sebagai koruptor.

5. “Bajingan” saat Hari Koperasi Nasional

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79, di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/6/2026). (IDN Times/M. Ilman Nafian)

Pada Minggu (12/7/2026), Prabowo kembali menggunakan kata “bajingan” dalam puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat.

Dalam pidatonya, dia mengingatkan masyarakat agar menjaga persatuan di tengah perbedaan latar belakang dan pilihan politik.

“Tidak ada keberhasilan dengan pertikaian. Tidak ada. Untuk apa kita bertikai? Kita ini satu keluarga, apa pun latar belakang kita, apa pun suku kita, apa pun latar belakang kita. Apa pun partai kita. Semua partai banyak patriot, dan semua partai banyak bajingannya juga,” ucap Prabowo.

Setelah itu, dia bertanya kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengenai boleh tidaknya seorang Presiden menggunakan kata tersebut.

“Presiden boleh ngomong bajingan gak? Boleh? Aku gak tanya kalian, aku tanya Menteri Pendidikan. Gimana, boleh gak?” kata Prabowo.

Dia kemudian berkelakar mengenai penggunaan kata “bajingan” dan mengaitkannya dengan bahasa Betawi. Pernyataan tersebut muncul ketika dia membicarakan persaingan politik dan pentingnya menghindari permusuhan.

6. “Emang gue pikirin” saat peresmian bendungan

Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan peresmian proyek hilirisasi di Halmahera Tengah. (setneg.go.id)

Masih dalam acara peresmian sejumlah bendungan di Nusa Tenggara Barat pada Jumat (10/7/2026), Prabowo melontarkan ungkapan “emang gue pikirin” ketika menyinggung pemberitaan media mengenai ucapannya.

“Coba di-delete. Eh, friend ya, wartawan kita kompak ya. Coba yang gitu-gitu, nanti gue dihajar lagi itu. Emang gue pikirin?” kelakar Prabowo.

Ucapan tersebut memperlihatkan gaya komunikasi spontan Prabowo ketika berinteraksi dengan jurnalis. Dia menyinggung kemungkinan pernyataannya kembali menjadi sorotan media.

7. “Londo ireng” saat Harlah ke-28 PKB

Presiden Prabowo Subianto (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

Prabowo menggunakan istilah “Londo Ireng” dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Dia terlebih dahulu menegaskan sikapnya terhadap kritik dan pengawasan dalam sistem demokrasi.

“Kita negara demokrasi. Kita tidak antikritik. Kritik itu perlu, pengawasan itu perlu,” ujar Prabowo.

Namun, dia menilai ada orang Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan bangsa lain.

“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu dari dulu ada. Dulu waktu zaman penjajahan ada. Itu yang dulu kita sebut Londo ireng,” kata dia.

Prabowo kemudian menyebut istilah tersebut masih relevan menurut pandangannya.

“Londo-Londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain,” ucap Prabowo.

Dia juga menyebut sejumlah profesi dan kelompok masyarakat yang menurutnya dapat menjadi bagian dari kelompok tersebut.

“Dia pakai baju wartawan, pakai baju jurnalis, pakai baju pengamat, pakai baju LSM,” lanjut dia.

Istilah Londo ireng memiliki latar sejarah yang berkaitan dengan orang pribumi yang bekerja sama dengan penguasa kolonial Belanda. Penggunaannya dalam pidato Prabowo menjadi sorotan karena turut menyinggung wartawan, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

8. “Saking pintarnya jadi goblok” saat HUT ke-28 PAN

Presiden Prabowo Subianto menjadi Inspektur Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI, Senin (5/10/2026). (Youtube/Sekretariat Kabinet)

Pernyataan lain yang menjadi sorotan disampaikan Prabowo saat menghadiri perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (18/9/2026).

Dalam pidatonya, dia berbicara mengenai cita-cita mewujudkan Indonesia sejahtera, termasuk memastikan anak-anak mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan terbebas dari kelaparan serta kekurangan gizi. Prabowo kemudian menyinggung para pakar yang menurutnya melontarkan kritik terhadap pemerintah.

“Itu bukan sumpah saya, saya bersumpah untuk melihat Indonesia sejahtera, itu sumpah saya, terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.

Pernyataan itu memunculkan perdebatan mengenai cara pejabat publik merespons kritik dan pandangan para ahli terhadap kebijakan pemerintah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article