Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Daftar Negara yang Pernah Alami Kebakaran Hutan Hebat, Mana Saja?

6 min read
Daftar Negara yang Pernah Alami Kebakaran Hutan Hebat, Mana Saja?
kebakaran hutan besar di Australia pada 2009 (commons.wikimedia.org/Georgehobbs)
  • Yunani, Kanada, Portugal, Australia, dan Indonesia menghadapi kebakaran hutan dengan dampak terhadap permukiman, kesehatan, pariwisata, ekonomi, serta lingkungan.

  • Sejumlah negara memperkuat pencegahan melalui teknologi satelit, pemantauan lahan, pengelolaan vegetasi, pembakaran terkendali, dan kesiapan pemadaman.

  • Indonesia masih menghadapi karhutla berulang dan membahas tawaran bantuan dengan koordinasi teknis bersama BNPB serta instansi terkait.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya menjadi persoalan Indonesia. Sejumlah negara di dunia juga pernah mengalami kebakaran hebat yang menghancurkan kawasan hutan, mengancam permukiman, hingga menelan korban jiwa. Dampaknya bahkan bisa menjalar ke sektor pariwisata, kesehatan, dan perekonomian.

Yunani, Kanada, Portugal, dan Australia merupakan beberapa negara yang pernah menghadapi kebakaran hutan berskala besar. Pengalaman tersebut mendorong pemerintah masing-masing untuk memperkuat upaya pencegahan, meningkatkan kemampuan pemadaman, hingga memanfaatkan teknologi untuk memantau titik api.

Indonesia pun masih menghadapi ancaman serupa, terutama ketika kondisi cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran. Berikut daftar negara yang pernah mengalami kebakaran hutan hebat beserta upaya yang dilakukan untuk menghadapinya:

  1. 1. Yunani

    Kebakaran hutan di semenanjung Peloponnese, Yunani, yang lokasinya berada di dekat situs kuno Olympia, tempat kelahiran Olimpiade.
    Kebakaran hutan di semenanjung Peloponnese, Yunani, yang lokasinya berada di dekat situs kuno Olympia, tempat kelahiran Olimpiade. (commons.wikimedia.org/Eusebius)

    Yunani pernah menghadapi kebakaran hutan besar yang mengancam kawasan permukiman dan destinasi wisata. Kebakaran di sejumlah wilayah negara tersebut juga pernah memaksa wisatawan dievakuasi dari kawasan liburan. Peristiwa kebakaran di kawasan pesisir dan pulau-pulau wisata memperlihatkan bagaimana bencana ini dapat mengganggu industri pariwisata yang menjadi salah satu sektor penting bagi Yunani.

    Ancaman kebakaran yang berulang mendorong Yunani memperkuat sistem pemantauan melalui teknologi satelit. Badan Antariksa Eropa (ESA) melaporkan, empat satelit kecil atau CubeSat dalam program Hellenic Fire System diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX dari Vandenberg, Amerika Serikat, pada 3 Mei 2026.

    Sistem tersebut dirancang untuk mendeteksi kebakaran dan anomali panas, mengukur intensitas radiasi kebakaran, serta memantau aktivitas api. Program ini direncanakan mencakup 13 satelit. Saat laporan ESA diterbitkan, sistem masih menjalani tahap pengujian dan komisioning sebelum beroperasi penuh.

    Direktur Observasi Bumi ESA, Simonetta Cheli, mengatakan kerja sama tersebut dapat membantu mengubah inovasi teknologi menjadi kemampuan operasional untuk kebutuhan nasional.

    “Hellenic Fire System merupakan contoh kuat tentang apa yang dapat dicapai melalui kolaborasi. Dengan menyatukan pemerintah Yunani, industri, dan ESA, sistem ini menunjukkan bagaimana kerja sama Eropa dapat mengubah inovasi menjadi kemampuan operasional,” ujar Cheli dikutip dari pernyataan ESA.

  2. 2. Kanada

    ilustrasi kebakaran hutan wilayah barat laut Kanada (wikimedia.org/USDA Forest Service)
    ilustrasi kebakaran hutan wilayah barat laut Kanada (wikimedia.org/USDA Forest Service)

    Kanada menjadi salah satu negara yang menghadapi kebakaran hutan dalam skala sangat luas. Pada 2026, lebih dari 5.400 kebakaran dilaporkan membakar sekitar 4,5 juta hektare lahan. Sejumlah wilayah terdampak, termasuk Ontario bagian barat laut, British Columbia bagian selatan, dan Northwest Territories.

    Kebakaran tersebut juga memaksa puluhan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Berdasarkan data pemerintah Kanada yang menjadi bahan laporan, lebih dari 33.750 orang telah dievakuasi sejak April 2026, termasuk lebih dari 8.800 warga First Nations. Besarnya wilayah yang terbakar membuat penanganan membutuhkan dukungan armada pemadam dan personel tambahan.

    Untuk memperkuat kemampuan pemadaman, pemerintah Kanada menyewa 10 pesawat pemadam kebakaran dengan nilai kontrak 316,7 juta dolar Kanada selama lima tahun. Pesawat-pesawat itu dilaporkan mencatat lebih dari 2.120 jam terbang dan melakukan lebih dari 14.400 penjatuhan air maupun bahan pemadam. Kanada juga menerima bantuan lebih dari 560 petugas pemadam kebakaran dari sejumlah negara.

    Menteri Kesiapsiagaan Darurat Kanada, Eleanor Olszewski, mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam menghadapi musim kebakaran tersebut.

    “Musim panas ini menunjukkan kekuatan dari apa yang dapat kita capai ketika bekerja bersama,” kata Olszewski dalam pernyataan di situs resmi pemerintah Kanada.

  3. 3. Portugal

    Suasana kebakaran hutan di Portugal sebagai akibat gelombang panas tahun 2018. twitter.com/Meteos_
    Suasana kebakaran hutan di Portugal sebagai akibat gelombang panas tahun 2018. twitter.com/Meteos_

    Portugal pernah mengalami salah satu tragedi kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarah modernnya pada 2017. Kebakaran tersebut menewaskan 64 orang dan melukai lebih dari 250 orang. Api menyebar dengan cepat dan menimbulkan korban di tengah upaya warga menyelamatkan diri. Tragedi itu menjadi titik balik bagi Portugal dalam mengevaluasi sistem penanganan kebakaran.

    Setelah kejadian tersebut, pemerintah Portugal memperkuat pendekatan pencegahan. Pemerintah melakukan perubahan tata kelola lahan, membatasi penanaman baru pohon eukaliptus, serta membentuk badan pengelolaan terpadu kebakaran hutan bernama AGIF. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi risiko kebakaran sebelum api membesar.

    Upaya lain dilakukan melalui pembersihan vegetasi di sekitar permukiman, pembakaran terkendali, pembuatan jalur pemisah api, dan penggembalaan hewan untuk mengurangi tumbuhan kering. Langkah-langkah tersebut penting karena vegetasi yang menumpuk dapat menjadi bahan bakar dan mempercepat penyebaran api ketika musim panas tiba.

    Direktur AGIF, Tiago Oliveira, menilai penanganan kebakaran perlu berfokus pada penyebabnya, bukan hanya dampak yang muncul setelah api meluas. Dalam laporan World Economic Forum berdasarkan materi Thomson Reuters Foundation, Oliveira mengatakan, “Terlalu banyak uang sebelumnya dihabiskan untuk menangani dampak kebakaran, alih-alih mengatasi penyebabnya,” kata dia.

  4. 4. Australia

    ilustrasi kebakaran hutan di Australia pada tahun 2020 (pixabay.com/Patou Ricard)
    ilustrasi kebakaran hutan di Australia pada tahun 2020 (pixabay.com/Patou Ricard)

    Australia menghadapi musim kebakaran hutan besar pada 2019–2020 yang dikenal sebagai Black Summer. Peristiwa tersebut menjadi salah satu musim kebakaran terburuk dalam sejarah negara itu, dengan wilayah terdampak yang sangat luas. Kebakaran merusak habitat satwa, mengancam permukiman, dan memicu evaluasi besar-besaran terhadap cara Australia mengelola risiko kebakaran hutan.

    Setelah peristiwa tersebut, Australia semakin mendorong pengelolaan kebakaran yang tidak hanya mengandalkan pemadaman. Teknologi seperti citra satelit, drone, dan kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk membantu memetakan risiko serta memantau kondisi lahan. Pendekatan ini membantu petugas mengenali wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran dan merencanakan langkah pencegahan.

    Australia juga memberi perhatian pada pengetahuan masyarakat adat dalam mengelola lanskap. Salah satu praktik yang digunakan adalah cultural burning, yakni pembakaran terkendali dengan intensitas relatif rendah untuk mengurangi tumpukan bahan bakar di lahan. Praktik tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan pengetahuan lokal.

    Peneliti kebakaran hutan Marta Yebra mengatakan pengelolaan kebakaran mulai bergeser ke arah antisipasi risiko.

    “Salah satu perubahan terbesar yang kita lihat dalam pengelolaan kebakaran hutan adalah pergeseran dari sekadar bereaksi terhadap kebakaran menjadi mengantisipasi risiko dan bertindak lebih awal,” ujar Yebra, dikutip dari BBC.

    Bahkan, kala itu pasukan tentara Indonesia juga membantu Negeri Kanguru mengatasi kebakaran lahan dan hutan dengan pengalaman yang dimiliki. Saat itu juga ramai di berita internasional, banyak hewan endemik asli Australia, seperti Kanguru dan Koala, terluka hingga mati terpanggang. Hal yang sama dengan yang terjadi di Indonesia saat ini.

  5. 5. Indonesia

    IMG_3175.jpeg
    Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Antoni terus memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Hari ini, water bombing telah dilakukan 26 kali water bombing di wilayah Sungai Perlu dan Teluk Rengas, Tanjung Puting. (Dok. Kemenhut)

    Indonesia saat ini kembali menghadapi persoalan karhutla yang berulang, terutama ketika kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran. Selain merusak hutan dan lahan, kebakaran dapat menghasilkan kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, transportasi, serta aktivitas ekonomi dan kehidupan satwa liar yang hampir punah. Kebakaran di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan sulit dipadamkan sepenuhnya.

    Dampak karhutla juga dapat meluas melampaui lokasi kebakaran. Asap yang terbawa angin berpotensi mencapai wilayah lain, sementara pencemaran udara dapat mengganggu aktivitas masyarakat. Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman, tetapi juga pemantauan kualitas udara, perlindungan kesehatan, pengawasan pemanfaatan lahan, dan penegakan hukum.

    Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyampaikan pembahasan teknis mengenai tawaran bantuan untuk menangani situasi karhutla berada di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    “Bapak Presiden juga, seperti kita ketahui, sudah menyampaikan persetujuannya. Ini juga sudah dalam proses pembahasan di level teknis. Jadi, level teknisnya adalah BNPB,” kata Arrmanatha di DPR, pada 15 Oktober.

    Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menyatakan pemerintah menilai Indonesia masih mampu menangani situasi tersebut.

    “Masalah penetapan bencana nasional, negara kita masih sanggup,” ujarnya pada 19 Oktober 2026.

    Pemerintah tetap membuka pembahasan mengenai bantuan dari negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia, dengan koordinasi teknis dilakukan bersama instansi terkait.

    Pengalaman berbagai negara tersebut menunjukkan, kebakaran hutan dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari kerusakan lingkungan hingga ancaman terhadap keselamatan manusia. Penanganannya pun tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Pengawasan lahan, sistem deteksi dini, kesiapan petugas, dan upaya mengurangi risiko sebelum kebakaran terjadi menjadi bagian penting untuk mencegah tragedi serupa terulang.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More