Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dino Patti Kritik Prabowo Sering ke Luar Negeri, Qodari: Manfaat untuk RI
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Dino Patti Djalal mengkritik frekuensi tinggi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo yang dinilai boros anggaran dan tidak lazim, serta menyarankan efisiensi lewat teknologi komunikasi.
  • Dino juga menyoroti kunjungan spontan yang dianggap kurang terencana dan mengusulkan agar misi diplomatik tertentu didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri untuk menekan biaya protokoler.
  • M. Qodari menegaskan setiap kunjungan luar negeri Presiden memiliki asas manfaat bagi bangsa, termasuk hasil signifikan dari lawatan ke Prancis, meski kritik soal pemborosan tetap muncul.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Presiden Prabowo sering pergi ke luar negeri, lalu Pak Dino bilang itu terlalu sering dan bisa bikin uang negara habis. Tapi Pak Qodari bilang perjalanan itu ada gunanya buat Indonesia. Dino kasih saran supaya lebih hemat dan pakai videocall saja. Sekarang orang-orang masih membicarakan soal manfaat dan biayanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, M. Qodari, merespons kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, terhadap Presiden Prabowo Subianto yang sering kunjungan ke luar negeri. Menurut Qodari, kegiatan Prabowo ke luar memiliki manfaat untuk Indonesia.

"Yang pertama, terima kasih atas masukan dan saran, apalagi memang kalau relevan. Yang kedua, pasti asas manfaat menjadi suatu yang utama bagi Presiden dalam mengambil langkah-langkah, termasuk soal ke luar negeri. Manfaat itu dalam pengertian untuk bangsa dan negara," ujar Qodari di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026).

Saat disinggung mengenai seringnya kunjungan luar negeri Presiden bisa membuat boros anggaran, Qodari tak menjawab gamblang. Lagi-lagi dia menyampaikan kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri ada manfaatnya.

"Ya kembali lagi, bagaimana kemudian asas kemanfaatan yang dibawa itu kan juga harus dipertimbangkan atau diperhitungkan. Dan kita yakin bahwa apa yang bisa diperoleh dari kunjungan dari Perancis kemarin itu memang betul-betul bisa besar dan signifikan," ucap dia.

1. Dino Patti Djalal kritik Presiden Prabowo sering kunjungan ke luar negeri

Founder FPCI Dino Patti Djalal soal AS minta akses udara Indonesia. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Sebelumnya, Dino Patti mengkritik tingginya frekuensi perjalanan ke luar negeri Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai tidak lazim dan boros anggaran negara. Dia mengingatkan adanya tanggung jawab moral untuk menyampaikan kondisi ini apa adanya, demi merespons jeritan publik.

"Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri, dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran," kata Dino dalam rekaman video yang diunggah di akun X pribadinya, dikutip Sabtu, 30 Mei 2026.

Dino memaparkan satu kali perjalanan internasional bisa menelan biaya hingga ratusan miliar rupiah, karena mencakup logistik rombongan yang besar. Guna menghemat anggaran, dia memberikan lima saran konkret, salah satunya adalah mengoptimalkan teknologi komunikasi dan mencontoh efisiensi kepala negara lain, seperti Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum.

"Jadi dengan satu videocall yang benilai 0 rupiah, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan keluar negeri, dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama," ujarnya.

2. Soroti kunjungan spontan yang dinilai tidak direncanakan

Founder FPCI Dino Patti Djalal soal AS minta akses udara Indonesia. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Selain itu, Dino menyarankan Istana menerapkan formula "1 plus 8", yaitu memanfaatkan satu forum internasional untuk melakukan pertemuan bilateral dengan setidaknya delapan kepala negara lain yang hadir.

Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu juga menyoroti sejumlah kunjungan spontan Prabowo yang dinilai tidak direncanakan dengan baik, serta mengusulkan agar misi diplomatik taktis didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri Sugiono, demi memangkas biaya protokoler kepresidenan.

3. Masyarakat menuntut adanya empati dan transparansi

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Dino menegaskan, di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, masyarakat menuntut adanya empati dan transparansi dari pemimpin negara terkait penggunaan anggaran publik. Kesan kemegahan protokoler diplomatik sudah tidak lagi membuat rakyat kagum, jika harus dibayar dengan biaya yang sangat besar.

"Rakyat mengharapkan pemimpin mereka bisa menunjukkan kepekaan dan kepatutan dalam melakukan perjalanan ke luar negeri," kata dia.

Editorial Team

Related Article