Jakarta, IDN Times - Menteri Haji dan Umrah, Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengakui dua putranya diangkat menjadi tenaga ahli di kementerian yang dipimpinnya. Dua putra yang diangkat menjadi tenaga ahli yakni Barbarossa Muhammad Farros dan Gibran Muhammad.
Kedua namanya terungkap di dalam lampiran dokumen Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2026 tentang pengangkatan tenaga ahli. Publik pun menyoroti dengan tajam pengangkatan putra Menteri Haji sebagai tenaga ahli. Salah satu yang mengomentari adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Mujani. Di akun media sosialnya, Saiful mencuit, dunia sudah dekat kiamat lantaran sang ayah mengangkat anak jadi penasihat kementerian yang dipimpinnya.
Komentar lain disampaikan oleh mantan Ketua Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK), Yunus Husein. Ia menyebut, pengangkatan anak sebagai tenaga ahli di kementerian yang dipimpin ayahnya, tak sepatutnya dilakukan.
Sebab, peristiwa dugaan korupsi di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berpotensi terulang kembali. Mantan Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto mengangkat adiknya sebagai tenaga ahli. Kemudian, adiknya itu terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Gus Irfan pun mengisahkan awal mula penunjukan tersebut berakar dari terbentuknya Badan Penyelenggara (BP) Haji pada akhir 2024. Ketika itu, ia dan Wakil Menteri Haji, Dahnil Anzar Simanjuntak, belum memiliki fasilitas kerja atau staf.
Ia menyebut, kedua anak dan para santrinya sejak awal sudah terlibat dalam pembentukan Badan Penyelenggara Haji (BP Haji). Itu termasuk proses pengangkatan dan kompetensi tenaga ahli.
"Keluar dari Istana, kami gak punya staf. Kami gak punya kantor, kami gak punya apa-apa," ungkap Gus Irfan yang dikutip dari situs resmi Kementerian Haji dan Umrah, Minggu (25/10/2026).
Dalam kondisi tersebut, sejumlah pihak terdekat turut membantu pekerjaan pembentukan lembaga. Gus Irfan menyebut anak dan para santri terlibat secara sukarela hingga empat bulan tanpa menerima gaji.
"Akhirnya, Bang Dahnil disambut timnya dari Kementerian Pertahanan, saya ddisambut oleh santri-santri saya dan anak saya. Mereka ini yang tanpa diminta membantu pembentukan Badan Penyelenggara Haji. Tanpa gaji, tanpa apa-apa selama 3 atau bulan. Itu yang terjadi," katanya.
