Ilustrasi survei. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Idrus menilai, hasil survei yang kemudian diikuti dengan dorongan reshuffle kabinet perlu dilihat secara kritis. Menurut dia, jika hasil survei tersebut dijadikan dasar untuk mendesak pergantian menteri, maka persoalannya bukan lagi sekadar hasil penelitian.
“Saya hanya kaget di sini bahwa ya, bagaimana sebuah kesimpulan yang dibuat sedemikian rupa dan memberikan kesan sudah seakan-akan itu hanya ya, satu pandangan, suatu persepsi lalu kemudian di di akhir survei itu muncul raport merah, kemudian atas dasar itu baru semacam desakan atau reshuffle untuk melakukan ya, reshuffle kabinet,” kata dia.
Idrus bahkan menyebut Celios menggunakan “logika sungsang” karena hasil surveinya dinilai bertentangan dengan fakta yang ada. Dia meminta Celios memperbaiki metode survei dan proses pengambilan data.
“Celios harus kembali ke jalan yang benar agar pertanggungjawaban di bidang akademik itu bisa bisa dilihat agar jangan memunculkan kontradiksi-kontradiksi yang nanti memusatkan publik Indonesia,” kata dia.
Meski demikian, Idrus menegaskan Golkar tidak khawatir dengan hasil survei tersebut. Partai berlambang pohon beringin itu memilih tidak mempercayai hasil survei karena dinilai bertentangan dengan fakta.
“Golkar tidak khawatir, sama sekali, bukan tidak khawatir, bahkan kita tidak percaya karena berseberangan dengan rasa, nalar, dan fakta,” ujar Idrus.
Dia kembali menegaskan pertanyaan yang menurutnya perlu dijawab Celios terkait hasil survei tersebut.
“Karena itu di dalam judul itu saya pertanyakan, ‘Apa ini survei atau sudah konspirasi?’ ‘Apa ini survei atau sudah merupakan inspirasi gerakan skenario politik?’” kata dia.