Jakarta, IDN Times - Setiap tahunnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal selalu dirayakan dengan cara yang berbeda-beda, namun memiliki makna yang sama dikalangan ulama, tokoh masyarakat hingga generasi muda saat ini yang kerap disebut dengan millennials.
Guru Besar Psikologi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Abdul Mujib kepada IDN Times mengatakan seharusnya millennials muslim bisa merayakan momen ini dengan suasana yang leebih baik dan semarak.
"Maulid itu, dalam psikologi diartikan sebagai regenerasi. Dari hal yang usang ke hal baru dengan (ditandai) lahirnya sosok yang memberikan inovasi dan pencerahan," katanya.
Berkaitan dengan regenerasi, Abdul Mujib memberikan contoh oleh adanya perilaku remaja yang kadang dinilai nakal oleh banyak kalangan.
"Kalau dikaitkan dengan remaja, mereka itu kan orang yang sedang mencari identitas. Bahkan ingin keluar dari tradisi yang sedang berkembang. Terkadang dibilang nakal, tapi maksudnya adalah mereka ingin mencari suasana baru," kata pria yang saat ini menjabat sebagai Dekan Psikologi UIN Jakarta.
Bagi Mujib, momen kelahiran Nabi Muhammad harusnya memberikan warna baru terhadap identitas remaja.
"Nabi hadir justru ingin mencari nilai atau makna hidup yang menjadikan remaja memiliki orientasi hidup. Dia kan lahir saat Arab masih Jahiliyyah, terus dia hidup bisa menjadikan Arab lebih baik. Harusnya remaja melihat itu," tambahya.
Ia pun angkat bicara mengenai Maulid Nabi yang dikatakan bid'ah oleh beberapa kalangan.
"Kalau saya melihatnya, sebagai tradisi atau budaya tidak apa-apa ya dirayakan, bukan masalah. Paling tidak, remaja yang ikut merayakan mereka memuji Nabi-nya. Itukan nilai baik," tutur Mujib.
