Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sisa Topan Dolphin di China, Sejumlah Wilayah Lumpuh akibat Banjir

Sisa Topan Dolphin di China, Sejumlah Wilayah Lumpuh akibat Banjir
Ilustrasi banjir. (pexels.com/Pok Rie)
  • Sisa Topan Dolphin memicu hujan lebat dan banjir parah di Beijing serta China tengah-timur, melumpuhkan transportasi, merendam permukiman, dan mendorong evakuasi massal.
  • Di Beijing, 250 rute bus ditangguhkan, 150 lokasi wisata ditutup, dan 10 jalur metro dibatasi; hujan per jam di Changping dan Shunyi mendekati 90 mm.
  • Di Hubei dan Henan, waduk meluap, ribuan warga dievakuasi, proyek konstruksi serta tempat wisata ditutup, sementara China memperkuat prediksi cuaca ekstrem memakai model AI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sisa Topan Dolphin, yang disebut sebagai badai terkuat yang menerjang China sepanjang tahun 2026, membawa hujan lebat dan banjir parah di ibu kota Beijing serta di sejumlah provinsi di China bagian tengah dan timur. Badai yang kini berstatus depresi tropis tersebut melumpuhkan sistem transportasi, merendam area pemukiman, dan memaksa evakuasi massal di berbagai daerah.

Kantor berita resmi Xinhua melaporkan pada Rabu (12/8/2026) bahwa di Beijing, pihak berwenang mengaktifkan peringatan badai hujan tertinggi kedua setelah jalan raya multi jalur berubah menjadi aliran sungai. Dampak cuaca ekstrem ini, menangguhkan 250 rute bus, penutupan 150 tempat wisata, dan pengoperasian 10 jalur kereta bawah tanah dengan kecepatan terbatas untuk mengantisipasi risiko keselamatan.

  1. 1. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan banjir di berbagai wilayah di China

    Ilustrasi banjir di China. (unsplash.com/Tati Odintsova)
    Ilustrasi banjir di China. (unsplash.com/Tati Odintsova)

    Intensitas hujan di ibu kota mencatatkan angka mengkhawatirkan, dengan Distrik Changping dan Shunyi mencatat curah hujan per jam mendekati 90 mm. Video yang beredar di media sosial China memperlihatkan mobil dan bus sebagian terendam banjir di sejumlah jalan.

    Empat distrik di pinggiran kota bahkan bersiap menghadapi akumulasi curah hujan 24 jam yang diperkirakan setara dengan lebih dari sepertiga rata-rata curah hujan tahunan Beijing.

    Saat bergerak ke wilayah utara, Topan Dolphin menempuh lintasan sepanjang 6 ribu km, hingga akhirnya menghantam daratan di Provinsi Zhejiang. Walau badai telah melemah, sisa-sisa pita awan raksasanya terus menyedot kelembapan tropis jauh ke pedalaman hingga sejauh 1.000 km, yang melipatgandakan risiko banjir di sepanjang jalurnya.

  2. 2. Banjir memaksa penangguhan proyek konstruksi hingga penutupan tempat wisata

    Ilustrasi banjir. (pexels.com/Pok Rie)
    Ilustrasi banjir. (pexels.com/Pok Rie)

    Asahi Shimbun melaporkan, kondisi kritis juga melanda Provinsi Hubei di China tengah, yang merupakan pusat manufaktur otomotif dan elektronik. Di kota Xiangyang, luapan air di 35 waduk melampaui ambang batas aman. Akibatnya, memaksa evakuasi 9.705 warga dan penutupan sementara berbagai kawasan wisata seperti Bendungan Tiga Ngarai yang populer di Yichang. Selain itu, puluhan proyek konstruksi pun dihentikan, dari 107 proyek pembangunan jalan raya dan jalur air utama yang sedang berlangsung di provinsi tersebut, 26 proyek yang dianggap berisiko tinggi telah ditangguhkan.

    Pemerintah Provinsi Henan, yang berbatasan dengan Hubei, turut mengeluarkan peringatan banjir bandang tingkat merah seiring tingginya curah hujan yang bergeser ke utara. Rekor curah hujan harian tertinggi untuk bulan Agustus terjadi di sejumlah daerah, termasuk kota Wugang yang mencatat curah hujan hingga 209,5 mm dan Xiangyang sebesar 169,1 mm.

    Masyarakat di kawasan terdampak terpaksa beradaptasi di tengah gangguan aktivitas harian. Sebagian warga memilih mengungsikan kendaraan mereka ke area yang lebih tinggi, yakni beberapa kilometer dari kediaman mereka sebelum hujan turun.

    "Bagian yang paling merepotkan adalah hal itu memengaruhi pekerjaan dan kehidupan. Sangat merepotkan untuk urusan makanan dan transportasi," kata Zhao Junxia, 32 tahun, warga di Luohe, Provinsi Henan, dikutip dari The Straits Times.

    Sementara, warga lainnya harus menerobos genangan air yang merendam jalanan dan mengancam pemukiman.

  3. 3. Kerentanan China terhadap perubahan iklim

    Ilustrasi bendera China. (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)
    Ilustrasi bendera China. (unsplash.com/CARLOS DE SOUZA)

    Fenomena ini semakin mempertegas kerentanan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut terhadap cuaca ekstrem yang dipicu oleh pola El Nino dan perubahan iklim. Setiap tahunnya, gelombang badai dan banjir lebat menimbulkan kerugian ekonomi bernilai miliaran dolar akibat terhentinya produksi industri serta rusaknya sektor pertanian.

    Untuk mengantisipasi ancaman serupa di masa depan, otoritas meteorologi China mulai mengintegrasikan model kecerdasan buatan (AI) generasi baru ke dalam sistem peramalan tradisional. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan ketepatan prediksi cuaca ekstrem dan memperkuat sistem peringatan dini nasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More