Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Makna di Balik Lempar Jumrah pada Puncak Haji
Jemaah haji saat melaksanakan lontar jumrah di lantai 3 Jamarat, Minggu (8/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

  • Lempar jumrah di Jamarat bermakna simbolis untuk mengusir gangguan terhadap ketaatan kepada Allah, meneladani kisah Nabi Ibrahim saat menghadapi godaan setan.
  • Pemerintah Arab Saudi mengatur jadwal lempar jumrah demi keselamatan jemaah, terutama lansia, dengan larangan melempar pada pukul 5–10 pagi dan penempatan khusus di lantai tiga.
  • Setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, jemaah melanjutkan lempar jumrah Aqabah Kubra dengan tujuh kerikil, dilanjutkan penyembelihan hewan hadyu serta tahalul sebelum tawaf Ifadah dan sai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
9 Zulhijjah 1447 atau 26 Mei 2026

Jemaah haji melaksanakan wukuf di Arafah sebagai puncak ibadah haji, kemudian bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengambil kerikil.

Rabu (27/5/2026) atau 10 Dzulhijjah

Jutaan jemaah haji, termasuk dari Indonesia, melakukan lempar jumrah Aqabah di Jamarat, Mina. Kementerian Haji dan Umrah RI juga mengimbau tata cara pengambilan kerikil melalui media sosial.

10 Dzulhijjah

Lempar jumrah Aqabah dilaksanakan dengan tujuh lemparan batu disertai takbir. Setelah itu jemaah menyembelih hewan hadyu dan melakukan tahalul pertama sebelum tawaf Ifadah dan sai. Pemerintah Arab Saudi melarang pelemparan pada pukul 5–10 pagi demi keselamatan jemaah lansia.

11–13 Dzulhijjah

Pada hari-hari tasyriq ini, jemaah dapat melakukan lempar jumrah kapan saja tanpa batasan waktu tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hari ini banyak orang haji di Mina melempar batu kecil ke tiang di tempat bernama Jamarat. Mereka datang dari Arafah lalu tidur di Muzdalifah dulu. Katanya, lempar batu itu tanda melawan godaan jahat dan ingat sama Allah. Pemerintah bilang jangan lempar pagi-pagi biar aman, apalagi buat orang tua.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makkah, IDN Times - Hari ini, Rabu (27/5/2026), jutaan jemaah haji, termasuk dari Indonesia, melakukan lempar jumrah Aqabah di Jamarat, Mina, Arab Saudi. Ibadah ini wajib dilakukan bagi jemaah haji yang telah melaksanakan wukuf di Arafah pada hari sebelumnya dan mabit atau bermalam di Muzdalifah.

Pembimbing Ibadah dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2024, KH Muhammad Adnan, membeberkan filosofi dari aktivitas melempar tiang yang berlokasi di Jamarat tersebut. 

1. Makna lempar jumrah adalah mengusir gangguan terhadap ketaatan pada Allah

Jemaah haji saat melaksanakan lontar jumrah di lantai 3 Jamarat, Minggu (8/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Menurut KH Adnan, lempar jumrah Aqabah sudah dimulai sejak memasuki Rabu, 27 Mei 2026 atau bertepatan dengan 10 Dzulhijjah. Di sana, kata dia, ribuan tahun lalu, Nabi Ibrahim mendapatkan gangguan dari setan saat hendak menyembelih putranya, Nabi Ismail. Penyembelihan itu merupakan perintah Allah SWT yang kemudian diganti dengan kambing.

''Kalau saat ini, tujuh lemparan batu itu bukan untuk melempar setan, tapi maknanya adalah melempar gangguan syahwat. Melempar gangguan atas ketaatan kepada Allah,'' kata dia, ditemui di Jamarat.

Menurut KH Adnan, inti dari semua ibadah haji adalah mengingat kepada Allah SWT dan melawan bujukan setan.

''Dan itu syiarnya, lambangnya adalah melempar jumrah Aqabah 10 Dzulhijjah atau yang biasa dengan hari Nahar,'' kata dia. 

2. Jemaah diminta patuhi jadwal lempar jumrah demi keselamatan

Kondisi di Jamarat, Mina, Minggu (16/6/2024), saat jemaah haji akan melakukan lempar jumrah Aqabah. (IDN Times/Faiz Nashrillah)

Meski jemaah sudah bisa melakukan lempar jumrah sejak Selasa dini hari, tetapi pemerintah Arab Saudi telah mengatur waktunya. Salah satu larangannya adalah melempar jumrah pada pukul 5-10 pagi.

Larangan ini disampaikan karena mayoritas jemaah dari seluruh dunia akan melakukannya pada waktu tersebut, sesuai imbauan Nabi Muhammad. Mengingat jemaah haji Indonesia banyak lansia, terlalu berisiko jika melakukan jumrah pada waktu tersebut.

''Demi keselamatan, terutama jemaah lansia, kami melarang lempar jumrah pada waktu tersebut,'' kata KH Adnan.

Selain itu, jemaah pun diminta melakukan lempar jumrah di lantai tiga. Di sana memang telah disepakati menjadi lokasi lempar jumrah bagi jemaah dari Asia Tenggara. Namun, larangan itu hanya berlaku pada 10 Zulhijjah, sedangkan untuk 11-13 Dzulhijjah jemaah bisa melakukan kapan saja. 

3. Dari Arafah bergerak ke Muzdalifah

Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Setelah menjalani puncak haji atau wukuf di Arafah pada 9 Zulhijjah 1447 atau 26 Mei 2026, jemaah haji bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit atau bermalam.

Di Muzdalifah, jemaah menunaikan salat magrib dan isya dengan jamak takhir. Jemaah juga dianjurkan mengambil tujuh kerikil untuk melempar jumrah Aqaba Kubra.

"Kerikil dapat dikumpulkan dari tempat yang sesuai mana pun, tidak harus dari Muzdalifah," demikian imbauan dari Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj RI) dalam media sosialnya, Instagram, dikutip Rabu (27/5/2026).

Saat melempar jumrah Aqaba Kubra dengan tujuh kerikil di Jamarat pada 10 Zulhijah atau Rabu, 27 Mei 2026, setiap jemaah haji harus mengucapkan takbir pada setiap lemparannya.

Selesai lempar jumrah, jemaah harus menyembelih hadyu atau dam (denda) untuk haji Tamattu dan Qiran. Lalu, jemaah mencukur atau memotong rambut (tahalul). Bagi jemaah laki-laki mencukur lebih utama, sedangkan jemaah perempuan memotong sedikit bagian rambut.

Pada tahalul pertama atau selesai lempar jumrah Aqabah Kubra, jemaah diperbolehkan melakukan segala sesuatu, kecuali berhubungan badan bagi suami istri.

Proses selanjutnya, jemaah melakukan tawaf Ifadah dan sai, yang merupakan rukun haji alias wajib dilakukan semua jemaah haji.

4. Tips lempar jumrah

Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan jemaah haji antara lain mencuci kerikil sebelum melempar jumrah, melempar sekaligus, melempar jumrah sebelum tengah hari (zawal) pada hari-hari tasyriq, dan tidak mengucapkan takbir saat melempar.

Cara yang benar saat melempar jumrah adalah kerikil harus dilempar satu per satu, menunda pelemparan hingga setelah zawal atau siang hari, mengucap takbir pada saat melempar jumrah.

Selain itu, tetap menjaga ketenangan dan ketertiban dalam setiap pergerakan. Jemaah agar berkumpul dan terpisah dari kelompok atau rombongannya agar tidak tersesat.

Editorial Team

Related Article