Kecam KTT NATO, Korut Sebut Denuklirisasi Harus Dimulai dari Sekutu AS

- Korut mengecam hasil KTT NATO di Turki yang menyerukan denuklirisasi, menuding AS dan sekutunya memperburuk ketegangan global lewat peningkatan belanja pertahanan serta kerja sama keamanan Indo-Pasifik.
- Pyongyang menolak seruan denuklirisasi penuh dan berjanji memperkuat kemampuan nuklirnya sesuai arahan Kim Jong Un, sambil menyebut senjata nuklir penting bagi kedaulatan nasional.
- China menegaskan dukungan terhadap Korut dan meminta NATO meninggalkan mentalitas Perang Dingin, menekankan bahwa Beijing adalah kekuatan pendukung perdamaian dunia tanpa mengancam keamanan kawasan.
Jakarta, IDN Times – Korea Utara (Korut) mengecam hasil KTT NATO di Turki pada awal pekan ini yang kembali menyerukan denuklirisasi penuh terhadap Pyongyang. Korut justru menuding Amerika Serikat (AS) dan sekutunya memperburuk ketegangan global melalui peningkatan belanja pertahanan dan perluasan kerja sama keamanan dengan sejumlah negara di Indo-Pasifik.
Dalam KTT NATO pada Senin, para pemimpin aliansi pertahanan Barat itu mengumumkan kesepakatan pengadaan militer dan industri pertahanan senilai lebih dari 50 miliar dolar AS (setara Rp904 triliun). Kesepakatan itu dicapai saat Eropa menghadapi tekanan dari Presiden AS, Donald Trump, untuk meningkatkan belanja pertahanannya, mengutip laporan The Straits Times.
Korut menegaskan bahwa upaya Barat untuk memaksanya melepaskan senjata nuklir telah berakhir secara permanen. Pyongyang berpendapat bahwa denuklirisasi seharusnya dimulai dari Korea Selatan, Jepang, serta negara-negara anggota NATO yang ikut dalam pengaturan berbagi senjata nuklir di bawah perlindungan Washington.
Negara rival Barat itu juga menyebut NATO sebagai aliansi yang berorientasi pada perang dan konfrontasi. Aliansi tersebut disebut mengejar kepentingan geopolitik eksklusif dengan mengorbankan perdamaian dan keamanan di Eropa maupun di kawasan Asia-Pasifik.
1. Korut bakal memperkuat kemampuan nuklirnya

Korut menolak seruan NATO untuk melakukan denuklirisasi secara penuh. Pihaknya menuding para pemimpin aliansi tersebut sengaja menggambarkan pelaksanaan hak kedaulatan Pyongyang sebagai ancaman terhadap keamanan internasional. Negara rival Barat itu menyatakan bahwa senjata nuklir tetap menjadi elemen penting untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.
Media pemerintah Korut, KCNA, melaporkan bahwa Pyongyang akan terus memperkuat kemampuan nuklirnya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Hal tersebut sesuai dengan arahan Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un untuk memodernisasi militer dan memperkuat kemampuan penangkalan nuklir.
Sebelumnya, dalam deklarasi KTT Ankara, NATO menyampaikan perhatian serius terhadap perkembangan program rudal balistik dan senjata nuklir Korut. Aliansi pertahanan Barat tersebut kembali menyerukan denuklirisasi penuh serta meminta Pyongyang mematuhi seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB.
2. Xi Jinping tegaskan dukungan China kepada Korut
Respons Korut muncul setelah Presiden China, Xi Jinping, menegaskan komitmennya untuk mempertahankan hubungan erat dengan Pyongyang. Dalam peringatan 65 tahun Perjanjian Persahabatan kedua negara, Xi mengatakan kebijakan Beijing untuk menjaga dan mengembangkan hubungan persahabatan tidak akan berubah meski situasi internasional terus berkembang.
Merespons Xi, Kim Jong Un menyatakan bahwa hubungan Pyongyang dan Beijing telah mencapai tingkat strategis baru. Kim berjanji akan terus memperkuat kerja sama bilateral dengan China. Perkembangan terbaru itu dinilai semakin mempertegas perbedaan posisi antara NATO dan Korut, di tengah dukungan Negeri Tirai Bambu, dilansir The Times of India.
3. Beijing minta NATO tinggalkan mentalitas Perang Dingin

China juga mengkritik KTT NATO dan meminta aliansi tersebut untuk meninggalkan apa yang disebutnya sebagai mentalitas Perang Dingin dalam memandang Beijing. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, menegaskan China merupakan kekuatan yang mendukung perdamaian dunia dan tidak mengancam negara mana pun maupun keamanan kawasan Euro-Atlantik.
Pernyataan itu muncul setelah Sekjen NATO, Mark Rutte, bertemu dengan para pejabat dari empat mitra Indo-Pasifik aliansi tersebut. Pertemuan itu dihadiri Presiden Korsel, Lee Jae Myung, Menteri Luar Negeri Korsel, Cho Hyun, Menlu Jepang, Toshimitsu Motegi, Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, Menteri Industri Pertahanan Australia, Pat Conroy, serta Menhan Selandia Baru, Chris Penk, dilansir Turkiye Today.




















