Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Klaim Iran Minta AS Lanjut Negosiasi

Trump Klaim Iran Minta AS Lanjut Negosiasi
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang sedang diwawancara oleh wartawan di Gedung Putih, Washington D.C., pada 8 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Donald Trump mengklaim Iran meminta AS melanjutkan negosiasi setelah sebelumnya ia menghentikannya akibat serangan di Selat Hormuz.
  • Pemerintah Iran membantah klaim Trump dan menegaskan tidak pernah meminta negosiasi ulang serta siap membalas jika AS melanggar gencatan senjata.
  • Negosiasi lanjutan awalnya dijadwalkan di Doha usai pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, namun batal karena serangan Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengklaim Iran telah meminta negaranya untuk melanjutkan negosiasi. Sebab, Trump pada Rabu (8/7/2026) telah memutuskan untuk mengakhiri negosiasi dengan Iran karena mereka melakukan serangan di Selat Hormuz.

Dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Jumat (10/7/2026), Trump mengatakan, AS sudah mengabulkan permintaan Iran untuk melanjutkan negosiasi. Namun, ia tidak menjelaskan kapan negosiasi lanjutan dengan Iran akan dilakukan. 

1. Trump menegaskan gencatan senjata dengan Iran sudah berakhir

Gencatan senjata.
ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Omar Ramadan)

Meski permintaan negosiasi Iran sudah dikabulkan oleh AS, Trump menegaskan bahwa gencatan senjata kedua negara tetap berakhir. Artinya, AS diizinkan untuk melakukan serangan lagi ke Iran jika mereka melanggar aturan. Salah satu contohnya seperti melakukan serangan ke Selat Hormuz. 

"Republik Islam Iran telah meminta kami untuk melanjutkan perundingan. Kami telah menyetujuinya. Namun, Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka (Iran) dengan tegas bahwa gencatan senjata telah berakhir! Terima kasih atas perhatian Anda untuk masalah ini,” tulis Trump.

2. Iran membantah klaim Trump untuk lanjutkan negosiasi

Esmaeil Baghaei sedang berpidato.
potret Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei (commons.wikimedia.org/Foad Ashtari)

Namun, klaim Trump tadi dibantah oleh Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan, pihaknya sama sekali tidak pernah meminta langsung kepada AS atau Trump untuk melanjutkan negosiasi. Ia menegaskan, Iran tidak akan meminta negosiasi lanjutan dengan AS dan akan melakukan serangan balasan jika mereka melanggar gencatan senjata. 

"Republik Islam Iran tidak mengajukan permintaan untuk bernegosiasi dengan AS. Pelanggaran berulang AS terhadap kerangka kesepakatan perdamaian yang ditandatangani bulan lalu tetap berdasarkan prinsip komitmen untuk komitmen. Oleh karena itu, setiap pelanggaran komitmen oleh Washington akan dibalas dengan tindakan timbal balik oleh Teheran," ujar Baghaei, seperti dilansir Anadolu Agency.

3. Negosiasi lanjutan AS dan Iran sebelumnya akan digelar usai pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

Negosiasi damai.
ilustrasi negosiasi (pexels.com/Monstera Production)

Sebelumnya, negosiasi antara AS dan Iran akan dilanjutkan di Doha, Qatar, setelah prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei selesai dilaksanakan pada Kamis (9/7/2026). Sebab, sebelumnya, negosiasi kedua negara juga dilakukan Doha pada 1 Juli.

Sayangnya, proses negosiasi ini terganggu karena Iran menyerang tiga kapal komersial di Selat Hormuz pada Senin (5/7/2026). Serangan ini akhirnya memicu amarah Trump sehingga ia memutuskan untuk menghentikan negosiasi dan gencatan senjata dengan Iran. Sebab, menurut Trump, serangan Iran di Selat Hormuz telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sehingga tidak bisa dimaklumi lagi. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More