Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ini Pandangan Gen Z Mengenai Nilai Sumpah Pemuda di Era Digital
Ilustrasi para pemuda di Museum Sumpah Pemuda (IDN Times/Febriyanti Revitasari)
  • Gen Z memaknai Sumpah Pemuda sebagai tonggak persatuan dan bukti peran penting pemuda dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

  • Semangat persatuan diterapkan lewat menghargai perbedaan, berteman tanpa diskriminasi, memakai media sosial secara positif, menyuarakan isu sosial, serta mendukung produk lokal.

  • Mayoritas memilih nilai persatuan dalam keseharian, dengan kewaspadaan terhadap informasi internet agar konektivitas digital tidak memicu perpecahan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
28 Oktober 1928

Sumpah Pemuda menjadi tonggak penguatan persatuan bangsa melalui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Selasa (27/10/2026)

Chaesya Amanda menyatakan Sumpah Pemuda merupakan bentuk perjuangan pemuda Indonesia untuk kesatuan dan persatuan.

saat ini

Gen Z memaknai semangat Sumpah Pemuda melalui penghargaan terhadap perbedaan, penggunaan media sosial secara bijak, dan penguatan persatuan di tengah kemudahan internet.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah Gen Z menyampaikan pandangan tentang makna Sumpah Pemuda, penerapan nilai persatuan, dan penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
  • Who?
    Salsabila Dwi, Chaesya Amanda, Noval Aliffo, Maura Thirza, dan Mamduuh Khairunnaas turut menyampaikan pandangan mereka.
  • Where?
    Wawancara berlangsung di Jakarta; pandangan yang disampaikan menyinggung kehidupan sosial dan penggunaan media sosial di Indonesia.
  • When?
    Chaesya Amanda diwawancarai pada Selasa, 27 Oktober 2026. Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap 28 Oktober.
  • Why?
    Nilai persatuan dipandang penting untuk menghargai perbedaan, mencegah perpecahan akibat informasi, serta menjaga hubungan di tengah keberagaman.
  • How?
    Gen Z menyebut penerapannya melalui menghargai pendapat, berteman tanpa membedakan latar belakang, memakai media sosial secara positif, mendukung produk lokal, dan membuat karya kreatif-edukatif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Anak muda ingat Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. Mereka bilang dulu pemuda membantu Indonesia bersatu. Sekarang mereka mau tetap rukun walau beda-beda. Mereka ingin memakai media sosial dengan baik, tidak menyebar kata jahat, mendukung barang lokal, dan membuat hal kreatif bersama. Internet juga harus dipakai untuk menyambungkan orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pandangan Gen Z dalam artikel ini memperlihatkan bahwa nilai Sumpah Pemuda tetap hidup melalui langkah-langkah yang dekat dengan keseharian. Penghargaan terhadap perbedaan, penggunaan media sosial yang lebih bertanggung jawab, dukungan bagi produk lokal, serta kerja kreatif bersama menunjukkan bahwa kemudahan koneksi digital dapat dipahami sebagai ruang untuk menumbuhkan kepedulian dan persatuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober menjadi momentum untuk mengingat kembali semangat persatuan yang telah dibangun pemuda Indonesia sejak 1928.

Namun, bagi generasi muda saat ini, bagaimana nilai-nilai Sumpah Pemuda dimaknai dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Di tengah perbedaan latar belakang, budaya, hingga derasnya arus informasi di media sosial, Gen Z memiliki cara tersendiri untuk memaknai semangat Sumpah Pemuda.

Melalui wawancara singkat dengan sejumlah anak muda, mereka berbagi pandangan tentang Sumpah Pemuda, bentuk nyata semangat persatuan, hingga nilai yang ingin mereka terapkan dalam keseharian.

1. Pemahaman Gen Z tentang Sumpah Pemuda

Ikrar Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Senin, Jakarta (IDN Times/Umi Jari Widayah)

Bagi sebagian anak muda, Sumpah Pemuda mungkin identik dengan ikrar yang dipelajari di sekolah. Namun, lebih dari sekadar hafalan sejarah, peristiwa pada 28 Oktober 1928 tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat persatuan bangsa melalui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

Salsabila Dwi, 25 tahun, misalnya, menyebut Sumpah Pemuda merupakan bukti penting bahwa anak muda mempunyai peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sementara, Chaesya Amanda, 23 tahun, memandang Sumpah Pemuda sebagai bukti nyata pemuda Indonesia dalam memperjuangkan kesatuan dan persatuan Indonesia.

“Sumpah Pemuda itu, salah satu bentuk dari perjuangan para pemuda di Indonesia dalam memperjuangkan kesatuan dan persatuan di Indonesia,” kata Chaesya, saat kepada IDN Times, Selasa (27/10/2026).

2. Cara Gen Z menerapkan semangat Sumpah Pemuda

ilustrasi platform digital (IDN Times/Aditya Pratama)

Semangat Sumpah Pemuda tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai persatuan dapat diterapkan dengan menghargai perbedaan pendapat, berteman tanpa membedakan latar belakang, hingga menggunakan media sosial secara bijak dan tidak menyebarkan ujaran kebencian.

Menurut Chaesya, salah satu cara yang bisa dilakukan generasi muda adalah memanfaatkan media sosial secara positif, dengan ikut menyuarakan isu sosial yang ada di Indonesia, agar masyarakat bisa saling menumbuhkan rasa kepedulian.

Adapun Noval Aliffo, 23 tahun, menilai bentuk nyata yang dapat dilakukan generasi saat ini, yakni dengan mendukung produk lokal, melawan polisi digital, dan bersama-sama membuat sesuatu yang kreatif, juga edukatif.

“Menurut aku untuk bentuk Sumpah Pemuda para Gen Z, pertama mungkin mendukung produk-produk lokal, melawan polusi digital, dan bekerja sama melakukan bentuk kreatif,” ujar Noval.

3. Nilai Sumpah Pemuda yang ingin diterapkan dalam keseharian

ilustrasi persatuan (pexels.com/Mikael Blomkvist)

Ketika diminta memilih satu nilai Sumpah Pemuda untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mayoritas generasi saat ini memilih nilai persatuan. Hal ini menekankan pentingnya saling menghargai perbedaan yang ada di masyarakat.

Maura Thirza, 22 tahun, memilih nilai persatuan, karena menurutnya perbedaan tidak bisa menjadi alasan saling menjauh. Sebaliknya, justru menjadi kesempatan masyarakat untuk memaknai sesuatu dari cara pandang yang berbeda.

Sementara, Mamduuh Khairunnaas, 24 tahun, mengatakan dengan adanya kemudahan internet saat ini, masyarakat bisa saling terhubung meskipun dalam jangkauan jarak yang saling berjauhan.

“Dengan adanya kemudahan internet, kita sangat mudah menerima informasi apapun itu yang bisa menghubungkan atau memecah belah kita. Jadi kita harus lebih aware sama informasi yang kita terima, agar kita tidak mudah terpecah-belah. Seharusnya internet bisa kita gunakan untuk wujud persatuan itu sendiri agar bisa saling terkoneksi,” kata Mamduuh.

Beragam jawaban tersebut menunjukkan semangat Sumpah Pemuda dapat dimaknai melalui tindakan sederhana yang dekat dengan kehidupan Gen Z. Pada akhirnya, menjaga persatuan bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda menghargai perbedaan dan menerapkan nilai kebangsaan dalam keseharian.

Curated For You

Editorial Team

Related Article