Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
Breaking News

Momen Stafsus Wamensesneg Disoraki Mahasiswa Trisakti Usai Umbar Janji

3 min read
Momen Stafsus Wamensesneg Disoraki Mahasiswa Trisakti Usai Umbar Janji
Momen Mahasiswa Trisakti permalukan Staf Khusus (Stafsus) Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Binbin Firman Tresnadi di mobil komando, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Binbin Firman Tresnadi menemui mahasiswa Trisakti di mobil komando saat aksi di Jalan Merdeka Selatan.

  • Mahasiswa menyambut pernyataan dan janji Binbin dengan sorakan serta mempertanyakan janji sebelumnya.

  • Binbin berjabat tangan dengan mahasiswa asal Papua terkait janji pengobatan ISPA gratis bagi warga terdampak karhutla.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Staf Khusus (Stafsus) Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg), Binbin Firman Tresnadi, menaiki mobil komando Mahasiswa Trisakti di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026) sore.

Kehadiran Binbin disambut dan dipersilakan mahasiswa untuk berbicara lewat mobil komando. Awalnya, Binbin menyampaikan rasa terima kasihnya dan mengucapkan salam mahasiswa.

Kemudian, dia meminta maaf karena Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, tak bisa menemui mahasiswa Trisakti yang menggelar aksi hari ini.

"Sebelumnya saya minta maaf, Bapak Menteri tidak bisa hadir karena beliau ada…," kata Binbin.

Pernyataan itu menuai sorak-sorai mahasiswa di bawah mobil komando. Binbin lantas meneruskan sambutannya sambil membaca sebuah buku catatan yang dipegangnya.

"Saya dan teman-teman di belakang mobil komando telah berdiskusi, untuk segera memulihkan ekonomi, politik dan penegakan supremasi sipil," kata dia.

"Alah, bohong!" teriak mahasiswa.

"Nah, terkait yang sifatnya darurat, soal warga yang terdampak ISPA itu masih diminta membayar di rumah sakit. Saya berjanji…," Binbin berhenti bicara karena mahasiswa kembali bersorak.

"Bohong!" timpal mahasiswa.

"Saya berjanji agar masyarakat yang terdampak ISPA, baik itu di Kalimantan, Sulawesi, Riau, dan Papua, dapat berobat gratis di rumah sakit. Saya akan memastikan itu agar masyarakat terdampak ISPA mendapat pelayanan rumah sakit tanpa dipungut biaya," kata Binbin.

"Pembohong!" kata mahasiswa.

Pada momen ini, salah satu pejabat dari mahasiswa Trisakti naik ke mobil komando dan merebut mikrofon dari tangan Binbin.

"Teman-teman, jangan percaya dia. Teman-teman harus tahu, bapak ini dua minggu lalu menemui mahasiswa. Dia berjanji kalau masalah Karhutla gak kelar, beliauberjanji ke mahasiswa dua minggu lalu untuk turun dari jabatan," kata mahasiswa.

Momen itu pun kembali menuai sorak-sorai mahasiswa yang saling bersahutan mencibir dan memaki Binbin.

"Hari ini beliau masih menjabat juga. Jadi beliau ini sudah mengingkari janjinya kepada mahasiswa, sekarang mau janji lagi teman-teman semuanya. Kemarin janji tiga hari kerja, ini sudah dua minggu gak ada tindak lanjut juga," kata mahasiswa.

Tak sampai di situ, mikrofon itu dioper ke seorang mahasiswa Trisakti yang mengaku berasal dari Papua.

"Alam bagi kami memberikan kehidupan, dan sekarang di Kalimantan, Papua dan pulau-pulau lain terjadi Karhutla," kata dia.

Pada momen inilah Binbin berjabat tangan dan berjanji dengan mahasiswa asal Papua itu untuk memberi pengobatan ISPA gratis bagi warga terdampak karhutla.

"Apakah Bapak bisa memberikan jaminan kepada saya dan teman-teman mahasiswa bahwa layanan kesehatan gratis dapat diberikan kepada saudara-saudara kami yang terdampak Karhutla? Kalau bapak berani, jabat tangan saya, pak," kata mahasiswa itu sambil menyodorkan tangan dan disambut oleh Binbin.

Keduanya pun bersalaman disaksikan ratusan mahasiswa Trisakti. Momen itu membuat seluruh mahasiswa yang hadir dalam aksi kembali bersorak.

Dalam aksi kali ini, mahasiswa Trisakti mengusung Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Pertama, pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan dan kesehatan nasional.

Kedua, berantas inkompetensi pejabat negara dan hapus rangkap jabatan pejabat publik. Ketiga, tegakkan supremasi sipil.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More