Jakarta, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menunjukkan pola berulang. Persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana memadamkan api, melainkan mengapa kebakaran yang sebenarnya dapat dipetakan sejak jauh hari masih terus terjadi.
Pada Juli 2026, hampir 95.000 hektare lahan di Indonesia terbakar. Luasan tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan total kerusakan dalam enam bulan sebelumnya. Lonjakan itu terjadi ketika suhu rata-rata bulanan mencapai rekor tertinggi dalam 35 tahun terakhir.
Kondisi semakin diperburuk oleh kekeringan yang berkaitan dengan fenomena El Niño. Dampaknya antara lain terlihat di Sungai Barito, Kalimantan, yang mengalami penurunan drastis muka air dari sebelumnya sekitar 11,5 meter menjadi hanya 0,6 meter.
Namun, El Niño bukanlah penyebab langsung karhutla. Kepala Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim IPB University, Prof. Rizaldi Boer, mengatakan fenomena tersebut justru dapat menjadi salah satu indikator awal untuk melakukan pencegahan.
“Enam bulan sebelum kebakaran mulai marak, sebetulnya kita sudah dapat melakukan tindakan preventif dengan menganalisis pola El Niño,” kata Rizaldi dalam diskusi publik bertajuk "Kesiapan Penanggulangan, Hukum, dan Penganggaran Penanganan Karhut" yang diselenggarakan oleh Forum Intelektual Interdisiplin (FIAD), Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), LaporIklim, dan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia, di Jakarta, Sabtu, 5 September 2026.
Menurut dia, informasi iklim seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan dini. Data tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan pencegahan di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Artinya, ketika pola cuaca menunjukkan risiko kekeringan meningkat, pemerintah semestinya sudah dapat menentukan wilayah prioritas, memperkuat patroli, menyiapkan sumber air, hingga mengerahkan masyarakat dan pemegang konsesi untuk mencegah munculnya api.
