USS Abraham Lincoln Angkat Jangkar dari Thailand Usai Lima Hari Berlabuh

- USS Abraham Lincoln meninggalkan Pelabuhan Laem Chabang, Thailand, setelah lima hari berlabuh dengan hampir 5.000 pelaut dan marinir menjalani istirahat usai sembilan bulan penempatan laut.
- Kelompok Tempur Kapal Induk 3 melanjutkan operasi rutin dan patroli di kawasan Indo-Pasifik dalam wilayah Armada Ketujuh AS, dengan agenda mencegah agresi serta mendukung stabilitas kawasan.
- Polisi Pattaya menyatakan kunjungan berlangsung aman, hanya terjadi perkelahian kecil antarpelaut; personel diperkirakan membelanjakan hingga 100 juta baht, didukung program rekreasi Angkatan Laut AS.
Jakarta, IDN Times – Kapal induk Amerika Serikat (AS), USS Abraham Lincoln (CVN 72), menuntaskan kunjungan pelabuhan selama lima hari di Thailand pada Minggu (6/9/2026). Kapal utama Kelompok Tempur Kapal Induk 3 itu membawa hampir 5 ribu pelaut dan marinir yang turun ke darat di Si Racha serta Pattaya untuk beristirahat, berekreasi, dan mengenal budaya lokal setelah sembilan bulan menjalani penempatan di laut, termasuk di kawasan Timur Tengah.
Nation Thailand melaporkan, Kedutaan Besar AS di Thailand memastikan keberangkatan armada berlangsung sesuai jadwal. Kelompok tempur tersebut berada di wilayah tanggung jawab Armada Ketujuh AS sebagai bagian dari penekanan Washington terhadap sekutu regional dan komitmen jangka panjang di kawasan Indo-Pasifik.
1. Kapal induk AS bertolak dari Pelabuhan Laem Chabang

Kapal induk USS Abraham Lincoln (Photographer's Mate 3rd Class Jordon R. Beesley, public domain, via Wikimedia Commons) Dilansir Bangkok Post, USS Abraham Lincoln berangkat dari Pelabuhan Laem Chabang yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan dari Pattaya pada pukul 11.00 waktu setempat. Keberangkatan kapal itu juga disaksikan secara langsung oleh jurnalis Agence France-Presse (AFP).
Sebelum para pelaut tiba, otoritas setempat meningkatkan pengamanan di Pattaya dan menertibkan pekerja seks. Wali kota setempat menyebut langkah tersebut tak berkaitan dengan kunjungan militer AS, sementara para awak yang berlabuh sejak Rabu (2/9/2026) di utara Pattaya memanfaatkan waktunya untuk berbelanja dan mendatangi sejumlah lokasi wisata.
Setelah meninggalkan perairan Thailand, kelompok tempur tersebut melanjutkan operasi rutin dan patroli berkelanjutan. Kegiatan itu dilakukan untuk mencegah agresi serta mendukung stabilitas kawasan.
2. Polisi Pattaya menyebut kunjungan kapal induk berjalan aman

ilustrasi Pattaya, Thailand (pexels.com/Markus Winkler) Kepala Polisi Pattaya, Anek Srathongyoo, menyatakan seluruh rangkaian kunjungan pelabuhan berlangsung aman tanpa kendala berarti. Ia menyampaikan kondisi tersebut dalam keterangannya kepada AFP.
“Semuanya berjalan lancar,” kata Anek Srathongyoo, seraya menyebut tak ada penangkapan atau perselisihan dengan warga lokal. Satu-satunya insiden berupa perkelahian kecil akibat pengaruh alkohol yang melibatkan sesama pelaut AS di dekat Walking Street.
Selain aspek keamanan, kunjungan kapal induk tersebut turut memberikan dampak ekonomi bagi wilayah setempat. Wali Kota Pattaya, Poramase Ngampiches, memperkirakan personel tamtama menghabiskan hingga 100 juta baht (setara Rp53,5 miliar) selama berada di wilayah tersebut, di luar pembelian pasokan kebutuhan kapal seperti pasta gigi yang nilainya mencapai jutaan baht.
3. Program kesejahteraan Angkatan Laut AS mendukung kegiatan awak

Bendera Thailand (pexels.com/Markus Winkler) Kelancaran kegiatan selama kapal berlabuh turut didukung Program Kesejahteraan, Moral, dan Rekreasi (MWR) Angkatan Laut AS yang bekerja sama dengan pelaku usaha lokal. Program tersebut merancang berbagai kegiatan untuk para awak kapal selama berada di darat.
Komandan kapal induk, Kapten Dan Keeler, menyampaikan apresiasi atas sambutan masyarakat setempat selama USS Abraham Lincoln berada di Thailand.
“Budaya dan sejarah Thailand yang kaya, bersama dengan keramahan yang hangat, terlihat jelas sepanjang kunjungan pelabuhan ini,” ujar Dan Keeler.
Dan Keeler juga berharap hubungan baik tersebut dapat terus berlanjut dalam pelaksanaan misi bersama Thailand dan mitra regional lainnya di masa depan.





















