Jakarta, IDN Times - Sejumlah organisasi masyarakat sipil bersama penggerak lokal dari berbagai daerah mengonsolidasikan gerakan menghadapi krisis iklim menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31). Mereka merumuskan 11 agenda prioritas, mulai dari perlindungan masyarakat terdampak hingga tuntutan akuntabilitas kebijakan iklim.
Pemuda adat dari Kalimantan Barat sekaligus inisiator kegiatan, Kynan Tegar, meminta masyarakat terdampak didengar langsung dalam pembahasan penanganan krisis iklim.
“Musim kering kini menjadi musim kering panjang. Kami hidup dari hutan, ladang, dan padi. Kami khawatir masa depan seperti apa yang menunggu,” ujarnya.
Konsolidasi bertajuk Darurat Iklim, Dari Akar Sampai Global itu digelar di Omah Martimbang, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Kegiatan tersebut melibatkan Kitabisa, LaporIklim, Madani Berkelanjutan, Hutan Itu Indonesia, Kawanpuan, dan Koalisi Ekonomi Membumi (KEM).