Jakarta, IDN Times - Koalisi Masyarakat Sipil yang terdiri dari sejumlah lembaga sosial masyarakat (LSM) menyoroti berulangnya tindak kekerasan yang menimpa prajurit junior di TNI. Terbaru, Sersan Dua Ahmad Muzammil Farisa tewas usai dianiaya oleh empat seniornya di belakang mess yang ada di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Ketua Indonesia RISK Centre, Julius Ibrani menilai kultur militer profesional telah gagal dibangun di tubuh TNI. Koalisi, kata Julius, memandang kasus tersebut tidak bisa dipisahkan dari realitas kultur kekerasan yang sudah mengakar di TNI. Tetapi di sisi lain, kata Julius, penegakan hukum di tubuh TNI juga masih lemah. Sehingga menyebabkan impunitas.
"Kejadian yang berulang itu menunjukkan adanya mekanisme dan sistem yang bermasalah di dalam organisasi TNI. Mulai dari sistem pelatihan, pendidikan, pengawasan, penghukuman dan cara pandang yang keliru dalam melihat senioritas dan junioritas," ungkap Julius di dalam keterangan pada Kamis (17/9/2026).
Indonesia RISK Centre merupakan salah satu LSM yang tergabung di dalam koalisi masyarakat sipil. Ia juga menambahkan dari kultur yang salah maka akan terbangun dari kebiasaan dan ketidakmampuan sistem pelatihan serta pendidikan untuk membangun TNI yang profesional. Koalisi sipil mendesak dilakukan perbaikan segera sistem pelatihan dan pendidikan di tubuh TNI.
