Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemendugbangga Ungkap Posyandu Dinilai Belum Ramah Ayah
Direktur Bina Ketahanan Remaja, Irma Ardiana. (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • GATI menilai posyandu masih sulit dijangkau untuk memperluas keterlibatan ayah dalam layanan keluarga.
  • Jadwal layanan pada hari kerja siang dan mayoritas kader perempuan disebut menjadi hambatan bagi ayah.
  • GATI juga membidik layanan kesehatan dan institusi pendidikan, termasuk komite sekolah, sebagai pintu masuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kamis (17/9/2026)

Irma Ardiana menyampaikan posyandu dinilai kurang ramah bagi ayah dalam diskusi dengan media di kantor Kemendukbangga, Jakarta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    GATI menghadapi tantangan memperluas keterlibatan ayah melalui posyandu yang dinilai belum ramah ayah.
  • Who?
    Irma Ardiana, GATI, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, serta ayah yang menjadi sasaran layanan keluarga.
  • Where?
    Posyandu, serta rumah sakit, puskesmas, tempat praktik bidan, klinik kesehatan, dan institusi pendidikan.
  • When?
    Kamis (17/9/2026).
  • Why?
    Jadwal posyandu pada hari kerja siang dan mayoritas kader perempuan dinilai menyulitkan serta membuat ayah tidak selalu nyaman terlibat.
  • How?
    Pihaknya mempertimbangkan jadwal malam, keterlibatan kader laki-laki, serta pendekatan GATI melalui layanan kesehatan dan komite sekolah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

GATI ingin lebih banyak ayah ikut layanan keluarga. Tapi posyandu biasanya buka siang saat hari kerja. Kadernya juga banyak perempuan, jadi ayah tidak selalu nyaman datang. Irma Ardiana bilang mereka mencari cara agar ayah bisa ikut. Mereka juga ingin masuk lewat rumah sakit, puskesmas, dan sekolah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Upaya mencari pintu masuk melalui layanan kesehatan dan pendidikan menunjukkan ruang keterlibatan ayah tetap dibuka di luar posyandu. Fase kehamilan dan kelahiran dipandang sebagai momentum penerimaan informasi dari tenaga kesehatan, sementara komite sekolah dapat menjangkau orang tua di lingkungan pendidikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) menghadapi persoalan ketika ingin memperluas keterlibatan ayah melalui layanan keluarga. Salah satu titik yang dinilai masih sulit dijangkau adalah posyandu karena jadwal layanan dan komposisi kader dinilai belum ramah bagi ayah.

Direktur Bina Ketahanan Remaja Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Irma Ardiana mengatakan kondisi tersebut membuat keterlibatan ayah di posyandu tidak mudah diperluas

"yang menjadi tantangan itu adalah posyandu. Posyandu. Posyandu itu by design, memang kurang ramah kepada ayah," kata dia dalam diskusi dengan media di kantor Kemendukbangga, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

1. Jadwal siang jadi persoalan

Petugas Posyandu desa ukur, timbang balita. IDN Times/Riyanto.

Dia menyebut layanan posyandu biasanya berlangsung pada hari kerja dengan waktu pelayanan siang. Kondisi itu dinilai tidak mudah diikuti ayah yang bekerja. Selain waktu, mayoritas kader perempuan juga disebut menjadi salah satu hambatan.

"Dari sisi waktu. Waktunya hari kerja, biasanya siang. Kemudian kadernya semua perempuan," ujar Irma.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat ayah tidak selalu merasa nyaman untuk datang dan terlibat dalam layanan posyandu.

2. Posyandu ramah ayah tak mudah

Kader Posyandu Miroto, Atik Waluyo (50) (kanan) melakukan skrining kesehatan ibu hamil, Zulfiadinda Dewi Restu (27) di Semarang, Jumat (21/7/2024). (IDN Times/Dhana Kencana)

Membuat posyandu lebih ramah bagi ayah membutuhkan perubahan dalam pelaksanaan di lapangan. Salah satunya dengan mempertimbangkan jadwal malam dan keterlibatan kader laki-laki.

"Tapi kalau misalnya kemudian kita mau membuat posyandu yang ramah terhadap ayah, ini tidak mudah," kata Irma.

Dia mengatakan pihaknya masih mencari cara masuk ke posyandu. Salah satu kemungkinan yang sedang dilihat adalah mengaitkan pendekatan GATI dengan layanan lain yang sudah terdapat di lingkungan posyandu.

3. Kesehatan dan sekolah jadi pintu masuk

Gerakan Ayah Mengambil Rapor atau Gemar (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

Selain posyandu, GATI membidik rumah sakit, puskesmas, tempat praktik bidan, klinik kesehatan, hingga institusi pendidikan. Fase kehamilan dan kelahiran dinilai menjadi momentum ketika ayah lebih terbuka menerima informasi dari tenaga kesehatan.

"Nah, makanya kita ingin sekali nanti menyasar ke kesehatan. Tetapi juga karena ini ada aspeknya sekolah ya, anak-anak ini udah kemudian belajar, kita juga menyasar ke pendidikan dan kita akan nanti masuk melalui pendidikan ini terutama ke komite-komite sekolah," ujarnya.

Irma mengatakan pendekatan tersebut juga dapat menjangkau orang tua yang berada di lingkungan sekolah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article