Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Wamenkes Dante: Tanpa Ayah Siaga, 1.000 HPK Terancam Gagal

Wamenkes Dante: Tanpa Ayah Siaga, 1.000 HPK Terancam Gagal
ilustrasi ayah berinteraksi dengan anaknya (pexels.com/Pavel Danilyuk)
  • Wamenkes Dante menekankan keterlibatan ayah sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun penting untuk mendukung kesehatan, perkembangan otak, dan kecerdasan anak.
  • Program 1.000 HPK berlangsung dari 270 hari kehamilan sampai 730 hari pertama anak, dengan sasaran mencegah stunting serta menurunkan kematian ibu dan bayi.
  • Pemerintah menetapkan empat intervensi: kesiapan sebelum hamil, layanan aman saat kehamilan-kelahiran, ASI-gizi-imunisasi bagi baduta, serta penguatan fasilitas dan pembiayaan layanan kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Keterlibatan aktif seorang ayah dalam tumbuh kembang anak menjadi krusial guna membentuk kualitas fisik dan kecerdasan anak. Bahkan, seharusnya hal ini dilakukan sejak dalam kandungan. Pesan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D.

Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan masa keemasan yang dihitung mulai dari 270 hari sejak fase kehamilan hingga 730 hari saat bayi usia di bawah 2 tahun (baduta).

Fase ini sangat menentukan karena perkembangan otak anak terjadi secara maksimal. Fokus program tersebut adalah mencegah stunting, menurunkan kematian ibu dan bayi, serta memastikan tumbuh kembang anak optimal. Untuk itu, keberhasilan 1.000 HPK perlu dipersiapkan sejak remaja, oleh calon pengantin dan pasangan usia subur (PUS).

  1. 4. Intervensi yang harus dilakukan

    Wamenkes memaparkan, guna menekan angka stunting serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi, pemerintah menetapkan empat target intervensi kunci dalam program 1.000 HPK.

    Keempat target tersebut meliputi:

    • Fase sebelum hamil: menargetkan kesehatan remaja putri dan skrining calon pengantin agar siap secara fisik.
    • Masa kehamilan, persalinan dan bayi baru lahir: memastikan ibu hamil mendapat pemeriksaan USG dan persalinan di fasilitas yang aman.
    • Periode baduta: fokus pada ASI eksklusif, pemenuhan gizi, imunisasi dan pemantauan tumbuh kembang.
    • Penguatan layanan kesehatan: memastikan puskesmas dan rumah sakit siap secara fasilitas maupun pembiayaan.

  2. Pentingnya Gerakan Keayahan

    Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) (IDN Times/Misrohatun)
    Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D., Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) (IDN Times/Misrohatun)

    Prof. Dante mengatakan bahwa program ini tidak akan sukses tanpa dukungan keluarga yang solid. Dia menggaungkan pentingnya Fatherhood Movement (Gerakan Keayahan) sebagai pendukung utama 1.000 HPK.

    "Perkembangan otak justru terjadi paling besar di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting. Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak. Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat," tuturnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More