Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KemenPPPA Ungkap 1 dari 2 Anak Usia 13-17 Tahun Mengalami Kekerasan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Arifah Fauzi di Jakarta, Selasa (21/7/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • SPHPR 2024 mencatat 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya.
  • Prevalensi kekerasan pada anak dalam 12 bulan terakhir masih mencapai 33,64 persen, mencakup bentuk fisik, emosional, maupun seksual.
  • Arifah Fauzi dan Save the Children menekankan perlunya lingkungan aman, suara anak, serta tanggung jawab orang dewasa dalam perlindungan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2024

SPHPR 2024 mencatat 50,78 persen anak laki-laki dan perempuan usia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya.

Dalam 12 bulan terakhir

Prevalensi kekerasan yang dialami anak masih mencapai 33,64 persen.

Jumat (14/8/2026)

Arifah Fauzi menyerukan pembangunan lingkungan aman, tindakan cepat ketika kekerasan terjadi, serta perlindungan dan dukungan bagi anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    KemenPPPA menyoroti tingginya pengalaman kekerasan pada anak berdasarkan SPHPR 2024.
  • Who?
    Menteri PPPA Arifah Fauzi, sejumlah pejabat pemerintah, perwakilan anak, dan Save the Children terlibat dalam kegiatan tersebut.
  • Where?
    Jakarta.
  • When?
    Arifah menyampaikan keterangannya yang dikutip Jumat (14/8/2026).
  • Why?
    Perlindungan anak membutuhkan tindakan proaktif karena pengalaman kekerasan pada anak masih tinggi.
  • How?
    Melalui pembangunan lingkungan aman, tindakan cepat saat kekerasan terjadi, dukungan keluarga dan masyarakat, serta mendengarkan suara anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bu Arifah bilang banyak anak umur 13 sampai 17 tahun pernah mengalami kekerasan. Ada survei yang mencatat angkanya 50,78 persen. Di Festival Pahlawan Anak, Bu Arifah dan pejabat mendengar harapan anak-anak. Save the Children juga bilang orang dewasa harus membuat tempat aman karena anak belum bisa melindungi dirinya sendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keterlibatan Arifah, sejumlah pejabat pemerintah, perwakilan anak, dan Save the Children menunjukkan adanya ruang untuk mendengarkan harapan anak serta memperkuat kolaborasi. Festival Pahlawan Anak juga menghadirkan ruang aman imersif agar orang dewasa dapat memahami perasaan anak dan cara melindungi mereka.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti tingginya pengalaman kekerasan pada anak. Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SPHPR) 2024, sebanyak 50,78 persen anak laki-laki dan perempuan usia 13–17 tahun pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya.

“Kita tidak boleh menunggu seorang anak menjadi korban. Gerakan nyata harus dimulai sekarang dengan membangun lingkungan yang aman sebelum terjadi kekerasan, bertindak dengan cepat dan tepat ketika kekerasan terjadi, serta memastikan anak mendapatkan perlindungan dan dukungan penuh dari keluarga, masyarakat, maupun orang-orang terdekat,” ujar Arifah dalam keterangannya, dikutip Jumat (14/8/2026).

1. Kekerasan anak masih tinggi

Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam agenda Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) bersama Menko PMK Pratikno serta Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Malang, Jawa Timur, Senin (14/7/2026). (Dok. KemenPPPA)

Arifah mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perlindungan anak membutuhkan tindakan proaktif dari seluruh lapisan masyarakat. Berdasarkan SPHPR 2024, kekerasan yang dialami anak mencakup bentuk fisik, emosional, maupun seksual. Dalam 12 bulan terakhir, prevalensinya masih mencapai 33,64 persen.

“Tema yang diangkat dalam Festival Pahlawan Anak, yaitu ‘Act Now, Save Lives’, ini penuh makna karena kita diingatkan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak ini butuh tindakan nyata. Kita tidak bisa lagi menunggu, apalagi bila kita lihat kondisi saat ini,” kata dia.

2. Pentingnya suara anak, mereka harus didengar

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Dalam kegiatan tersebut, Arifah bersama sejumlah pejabat pemerintah mendengarkan cita-cita dan harapan perwakilan anak. Dia menekankan pentingnya suara anak dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang mereka.

“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia, kami mengucapkan selamat dan terima kasih atas kemitraan yang terjalin selama ini. Semoga kita terus bisa memperkuat kolaborasi untuk memastikan setiap anak bisa hidup, tumbuh, dan berkembang untuk menggapai cita-citanya dalam lingkungan yang aman,” katanya.

3. Orang dewasa bertanggung jawab

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi meninjau posko bencana banjir di Padang. (Dok. KemenPPPA)

Festival Pahlawan Anak juga menjadi bagian dari perayaan 50 tahun kiprah Save the Children di Indonesia. Organisasi tersebut menekankan orang dewasa memegang tanggung jawab utama dalam menciptakan ruang aman karena anak belum memiliki kemampuan untuk membangun perlindungannya sendiri.

“Festival ini bukan sekadar perayaan, melainkan ajakan untuk bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi anak. Di dalam festival ini, kita dapat menemukan ruang aman imersif untuk lebih memahami apa yang dirasakan oleh setiap anak dan bagaimana caranya kita dapat melindungi mereka,” ujar CEO Save the Children, Dessy Kurwiany Ukar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article