Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Demo Besar di India, Warga Tuntut Ketua KPU Mundur

2 min read
Demo Besar di India, Warga Tuntut Ketua KPU Mundur
Bendera India (unsplash.com/Girish Dalvi)
  • Ribuan warga berdemonstrasi di New Delhi pada 2 Oktober 2026, menuntut Ketua KPU India Gyanesh Kumar mundur atas dugaan kecurangan daftar pemilih menjelang pemilu.
  • Pemerintah mengerahkan keamanan, memblokade jalan, membatasi internet dan pertemuan, menutup 11 stasiun metro, serta menahan ratusan pedemo; massa mengancam memperluas aksi.
  • Protes dipicu dugaan penghapusan jutaan pemilih sah. KPU membantah manipulasi, menyebut pembersihan data untuk menghapus duplikasi dan pemilih meninggal, sambil membentuk komite evaluasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Unjuk rasa besar meletus di pusat kota New Delhi, India, pada Jumat (2/10/2026). Ribuan warga turun ke jalan memprotes dugaan kecurangan daftar pemilih menjelang pemilihan umum.

Pemerintah India merespons aksi tersebut dengan mengerahkan pasukan keamanan di berbagai titik ibu kota. Massa mendesak Kepala Komisi Pemilihan Umum (KPU) India segera mundur karena dinilai tidak netral.

  1. 1. Polisi blokade jalan dan tahan ratusan pedemo

    Aparat kepolisian memasang barikade kawat berduri untuk menutup akses menuju kawasan Jantar Mantar. Langkah ini diambil guna membendung pergerakan demonstran di jalan utama, disertai pemutusan akses internet seluler serta larangan berkumpul lebih dari lima orang.

    Pembatasan tersebut berujung pada penangkapan massal terhadap ratusan pengunjuk rasa. Demi memecah konsentrasi massa, pemerintah daerah menutup sebelas stasiun kereta metro yang mengarah ke kantor penyelenggara pemilu.

    Meski diadang, kelompok penentang pemerintah mengancam memperluas aksi ke kota lain jika tuntutan mereka diabaikan.

    "Kami baru akan menghentikan aksi ini jika Gyanesh Kumar mundur dari jabatannya," tegas koordinator aksi, Saurav Das, dilansir ABC News.

  2. 2. Investigasi ungkap hilangnya jutaan data pemilih

    Protes massal ini dipicu temuan investigasi media pada September lalu mengenai kejanggalan dalam pembaruan daftar pemilih nasional. Verifikasi data tersebut diduga menghapus jutaan nama pemilih sah tanpa pemberitahuan.

    Dokumen internal menunjukkan dua komisioner pemilu sempat menolak perubahan sistem pendaftaran baru tersebut. Sistem digital terpusat di New Delhi dituding mencabut kewenangan petugas daerah dalam memperbaiki kesalahan data.

    Kekacauan ini membuat banyak warga kehilangan hak suara. Seorang warga yang puluhan tahun menetap di New Delhi mengaku kaget saat mendapati namanya lenyap dari daftar resmi.

    "Bagaimana mungkin hak dasar saya dirampas begitu saja," keluh warga bernama Mina Giri.

  3. 3. Komisi pemilu bantah tuduhan kecurangan

    Di tengah desakan massa, Komisi Pemilihan Umum India membantah keras tuduhan manipulasi data. Pihaknya menegaskan pembersihan daftar pemilih murni bertujuan menghapus data ganda dan pemilih yang telah meninggal dunia.

    Komisi menyatakan seluruh pembaruan data telah disetujui secara internal dan disahkan oleh Mahkamah Agung. Guna meredakan protes, otoritas membentuk komite khusus bersama pakar independen untuk mengevaluasi sistem pendataan, serta menginstruksikan petugas daerah mendatangi rumah warga guna memulihkan data yang terhapus.

    Partai penguasa, Bharatiya Janata Party (BJP), turut menepis tudingan kecurangan tersebut.

    "Komisi Pemilihan Umum maupun lembaga negara lainnya di India tidak dikendalikan oleh diktator. Semuanya berfungsi secara demokratis," ujar Juru Bicara BJP, Sambit Patra.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More