Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi pemerintah daerah (Pemda) yang menunjukkan kinerja terbaik melalui Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Sumatera di Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (12/8/2026). (dok. Kemendagri)
Tito mengatakan, Kemendagri akan menindaklanjuti koordinasi tersebut melalui surat edaran kepada gubernur, bupati, dan wali kota. Para kepala daerah diminta memberikan dukungan terhadap pelaksanaan MBG sekaligus mengoordinasikan perangkat daerah terkait.
Menurut dia, sejumlah organisasi perangkat daerah memiliki peran penting dalam menyukseskan program tersebut. Dinas kesehatan, misalnya, diminta mengawasi aspek higienitas serta mempercepat penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi dapur MBG sesuai ketentuan.
"Pemerintah daerah diminta untuk ikut terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis. Tadi sudah detail diarahkan beliau. Dan saya juga tadi menyampaikan, saya follow up langsung juga dengan surat edaran daerah hari ini. Jadi di antaranya adalah untuk Kepala Daerah, kepada seluruh Gubernur, Bupati, Wali Kota ya, memberikan dukungan pelaksanaan program MBG," kata Tito.
Selain itu, dinas pendidikan di daerah dapat membantu penataan penerima manfaat dan melakukan pengawasan. Dinas kesehatan juga berperan dalam pengawasan kualitas makanan, sedangkan dinas pertanian dan perikanan dapat dilibatkan mendukung rantai pasok bahan pangan bergizi untuk program MBG.
Tito menilai keterlibatan pemerintah daerah penting karena program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak. Menurutnya, pelaksanaan program tersebut juga berpotensi membantu pemerintah daerah mencapai sejumlah indikator pembangunan.
Ia menyebut penurunan stunting, kemiskinan dan pengangguran, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi hingga pengendalian inflasi sebagai indikator yang dapat terdampak positif oleh MBG.
"Jadikan, riding this program ini. Kendarai program ini untuk kepentingan meningkatkan indikator yang baik kinerja kepala daerah tanpa mengeluarkan APBD. APBD-nya, sudah APBN. APBD-nya bisa bekerja untuk yang lain," ujar Tito.
BGN dan Kemendagri juga menandatangani kerja sama pemutakhiran data melalui Ditjen Dukcapil. Data kependudukan akan digunakan untuk memastikan penerima manfaat MBG terdata secara individual dan menghindari duplikasi.
Tito mengatakan data Dukcapil yang dilengkapi biometrik seperti pengenalan wajah, sidik jari, dan iris mata dapat membantu BGN mengidentifikasi penerima manfaat secara lebih akurat.
"Jadi satu orang, satu penerima manfaat," ujar Tito.
Data tersebut juga berpotensi diintegrasikan dengan sistem kesehatan agar perkembangan anak penerima MBG dapat dipantau, mulai dari berat badan, tinggi badan hingga kondisi kesehatannya.
Tito menambahkan, BGN juga menempatkan pejabat eselon I dan II sebagai penanggung jawab wilayah di setiap daerah. Mereka akan menjadi penghubung antara BGN pusat dengan kepala daerah, Forkopimda, serta perangkat daerah untuk menangani berbagai persoalan pelaksanaan MBG.
Tito mengatakan Kemendagri dan BGN akan terus melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan MBG di daerah. Kemendagri akan mengumpulkan informasi mengenai praktik baik maupun persoalan dalam pelaksanaan program tersebut untuk kemudian disampaikan kepada BGN secara berkala.