Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan tengah melakukan pemadaman karhutla di Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir, Rabu (19/8/2026). (Dok.Manggala Agni)
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman mendesak pemerintah bertindak extraordinary mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Kalimantan. Ia meminta penanganan Karhutla Kalimantan menjadi agenda prioritas nasional.
Dampak Karhutla Kalimantan telah meluas ke sejumlah sektor, seperti kesehatan, pendidikan, transportasi dan aktivitas ekonomi. Hal ini dipicu munculnya fenomena El Nino yang puncaknya terjadi pada Agustus-September 2026 ini.
“Penyebaran titik Karhutla ini terjadi hampir di setiap provinsi dengan Kalimantan Tengah jadi episentrum kebakaran dengan konsentrasi tertinggi. Penanganan Karhutla Kalimantan ini mesti segera jadi prioritas nasional,” kata Alex kepada wartawan, Jumat (21/8/2026).
Alex menambahkan, Karhutla Kalimantan telah memaksa sejumlah pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat seperti di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), yang memperpanjangnya hingga 4 September 2026. Ini harus disikapi oleh pemerintah pusat untuk menjadikan Karhutla Kalimantan sebagai agenda prioritas nasional.
Karhutla Kalimantan telah menghanguskan 859,49 hektare lahan dengan 189 kejadian dan 461 titik panas di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Provinsi Kalimantan Tengah dengan Kecamatan Arut Selatan (Arsel) dan Kumai, jadi wilayah terparah.
Di Arsel, terdapat 98 kejadian Karhutla yang melanda 180,475 hektare lahan dengan 226 titik panas. Sementara di Kumai, 63 kejadian yang membakar 584,41 hektare lahan.
“Data MapBiomas Fire menunjukkan, puncak kebakaran yang terjadi periode tahun 2014, 2015 dan 2019, sekitar 61 persen Karhutla terjadi antara September hingga November dengan puncaknya di Oktober. Catatan sejarah ini merupakan warning bagi pemerintah, bahwa metode yang digunakan selama ini perlu dievaluasi total agar dampaknya tak kembali berulang,” kata Politikus PDIP itu.