Karhutla Kalimantan Kian Memburuk, DPR Desak Jadi Prioritas Nasional

- Alex Indra Lukman mendesak pemerintah menjadikan penanganan Karhutla Kalimantan sebagai prioritas nasional.
- Kabut asap berdampak pada kualitas udara, kegiatan sekolah, jarak pandang, transportasi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.
- Penguatan deteksi dini, patroli, peringatan satelit, serta pemberdayaan masyarakat disebut dalam mitigasi jangka panjang.
Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mendesak pemerintah bertindak extraordinary mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Kalimantan. Ia meminta penanganan Karhutla Kalimantan menjadi agenda prioritas nasional.
Dampak karhutla Kalimantan telah meluas ke sejumlah sektor, seperti kesehatan, pendidikan, transportasi dan aktivitas ekonomi. Karhutla saat ini diperparah oleh fenomena El Nino yang puncaknya terjadi pada Agustus-September 2026 ini.
“Penyebaran titik karhutla ini terjadi hampir di setiap provinsi dengan Kalimantan Tengah jadi episentrum kebakaran dengan konsentrasi tertinggi. Penanganan karhutla Kalimantan ini mesti segera jadi prioritas nasional,” kata Alex kepada wartawan, Jumat (21/8/2026).
1. Karhutla Kalimantan memperburuk kualitas udara

Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan tengah melakukan pemadaman karhutla di Pangkalan Lampam, Ogan Komering Ilir, Rabu (19/8/2026). (Dok.Manggala Agni) Alex menjelaskan, karhutla Kalimantan telah berimbas langsung pada indeks kualitas udara (AQI) di Palangka Raya, mencapai 487 pada 19 Agustus 2026, masuk kategori berbahaya.
kabut asap pekat akibat karhutla Kalimantan ini juga memaksa Dinas Pendidikan menunda jam masuk sekolah SD dan SMP hingga pukul 08.00 WIB, sementara PAUD dialihkan ke pembelajaran jarak jauh. Sementara, jarak pandang di sejumlah wilayah turun drastis hingga 1,4 kilometer.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per tanggal 19 Agustus 2026, terdapat total 1.487 titik panas (hotspot) di seluruh Kalimantan. Rinciannya, 767 titik di Kalimantan Tengah, 441 titik di Kalimantan Barat, 315 di Kalimantan Tengah, 34 di Kalimantan Selatan dan 17 di Kalimantan Utara.
Alex mengungkapkan, pada tahun 1997-1998 silam, Indonesia juga dilanda fenomena El Nino yang menyebabkan krisis besar, karena memicu kebakaran di lebih dari 9 juta hektare lahan Kalimantan.
"Peristiwa itu kemudian jadi bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20. Ini tidak boleh berulang sekarang ini,” tegas Alex.
2. Karhutla Kalimantan hanguskan 859,49 hektare lahan

Pemadaman karhutla di Arjuno - Welirang. Dok. BPBD Jatim. Alex menambahkan, karhutla Kalimantan telah memaksa sejumlah pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat seperti di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), yang memperpanjangnya hingga 4 September 2026. Ini harus disikapi oleh pemerintah pusat untuk menjadikan karhutla Kalimantan sebagai agenda prioritas nasional.
Selain itu, karhutla Kalimantan telah menghanguskan 859,49 hektare lahan dengan 189 kejadian dan 461 titik panas di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Provinsi Kalimantan Tengah, dengan Kecamatan Arut Selatan (Arsel) dan Kumai jadi wilayah terparah.
Di Arsel, terdapat 98 kejadian karhutla yang melanda 180,475 hektare lahan dengan 226 titik panas. Sementara di Kumai, 63 kejadian yang membakar 584,41 hektare lahan.
“Data MapBiomas Fire menunjukkan, puncak kebakaran yang terjadi periode tahun 2014, 2015 dan 2019, sekitar 61 persen karhutla terjadi antara September hingga November dengan puncaknya di Oktober. Catatan sejarah ini merupakan warning bagi pemerintah, bahwa metode yang digunakan selama ini perlu dievaluasi total agar dampaknya tak kembali berulang,” kata Politikus PDIP itu.
3. Harus ada penguatan deteksi dini terkait karhutla

Manggala Agni tengah memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (15/8/2026). (Dok.Manggala Agni) Menurut Alex, evaluasi kebijakan karhutla Kalimantan harus mencakup penguatan deteksi dini dan patroli di wilayah rawan. Sistem peringatan dini berbasis satelit juga perlu terus ditingkatkan akurasinya. Peran masyarakat dalam pencegahan karhutla juga krusial.
Alex menegaskan, mitigasi karhutla Kalimantan membutuhkan pendekatan jangka panjang yang berfokus pada pencegahan, peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi dan tata kelola lahan berkelanjutan.
“Program Desa Peduli Api dan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar perlu diperluas,” kata dia.

















