Energi bersih kini menggerakkan mesin produksi VCO berkapasitas 5.500 watt, meningkatkan produktivitas kelompok, membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat, sekaligus mendorong pengelolaan hutan yang lebih lestari. Kehadiran energi terbarukan tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. (Dok. Pertamina)
Selama pelatihan, peserta mempelajari regulasi ketenagalistrikan, metodologi sertifikasi kompetensi, hingga pengoperasian dan pemeliharaan PLTS. Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh Sertifikat Junior Operator PLTS yang diterbitkan oleh PPSDM KEBTKE Kementerian ESDM.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan bahwa keberlanjutan energi bersih bergantung pada kemampuan masyarakat untuk mengelolanya secara mandiri.
"Keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh hadirnya infrastruktur, tetapi juga oleh masyarakat yang mampu mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya. Karena itu, Pertamina terus memperkuat kapasitas para local hero agar manfaat Desa Energi Berdikari dapat terus menggerakkan kehidupan masyarakat dan perekonomian desa," ujar Baron.
Menurut Baron, para local hero merupakan mitra strategis Pertamina dalam memastikan energi bersih tidak berhenti sebagai proyek pembangunan, tetapi menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat desa.
Dampaknya kini mulai dirasakan di berbagai daerah. Hingga saat ini Program Desa Energi Berdikari telah menciptakan nilai ekonomi Rp5,65 miliar per tahun, menghasilkan kapasitas energi terbarukan sebesar 1.302.700 Wp dari pemanfaatan tenaga surya, mikrohidro, dan pembangkit hibrida surya-angin, serta memproduksi 959.302 meter kubik biogas dan metana. Program ini juga telah memberikan manfaat kepada 283.841 jiwa, termasuk 62 penyandang disabilitas, melalui peningkatan akses energi, penguatan ekonomi lokal, dan pemberdayaan masyarakat.
Program Desa Energi Berdikari sejalan dengan Asta Cita Pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional melalui pengembangan energi baru terbarukan sekaligus membangun Indonesia dari desa. Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas), Tujuan 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), Tujuan 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), serta Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
Bagi Pertamina, kisah Alfredo, Burhanudin, dan ratusan local hero lainnya menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar menghadirkan listrik. Transisi energi adalah tentang menghadirkan harapan, membuka peluang usaha, menyediakan air bersih, dan melahirkan masyarakat desa yang mampu mengelola masa depannya sendiri. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama, energi bersih tidak hanya bertahan, tetapi terus tumbuh menjadi fondasi kemandirian desa yang berkelanjutan. (WEB)