Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hari Raya Yahudi, Israel Halangi Pasien Gaza Berobat ke Luar Negeri

3 min read
Hari Raya Yahudi, Israel Halangi Pasien Gaza Berobat ke Luar Negeri
paramedis mengeluarkan tanda dari ambulans (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Israel menghentikan evakuasi medis pasien dan korban luka Gaza melalui Rafah serta Kerem Shalom selama dua hari bertepatan hari raya Yahudi, setelah kuota pasien ke Mesir dipangkas.
  • Sebanyak 20.719 pasien dan warga terluka di Gaza masih menunggu evakuasi medis. Kementerian Kesehatan Gaza meminta WHO, PBB, dan organisasi internasional menekan Israel.
  • Krisis bahan bakar memaksa dua rumah sakit Gaza mengurangi atau menghentikan layanan. Data resmi mencatat 445 serangan terhadap fasilitas kesehatan dan 155 fasilitas mengalami kerusakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Israel dilaporkan menghalangi pasien dan warga Palestina yang terluka di Gaza untuk mendapatkan perawatan medis di luar negeri selama 2 hari berturut-turut sejak Minggu (20/9/2026). Penghentian evakuasi tersebut terjadi bertepatan dengan hari raya Yahudi.

"Selama dua hari berturut-turut, tidak ada pasien atau korban luka yang dievakuasi melalui perlintasan Rafah dan Kerem Shalom karena hari raya yang diperingati oleh pihak pendudukan," kata Kementerian Kesehatan Gaza pada Senin (21/9/2026), dikutip Anadolu.

  1. 1. Israel juga batasi jumlah pasien yang menjalani perawatan di luar negeri

    Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza
    Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

    Yoram Halevi, koordinator kegiatan pemerintah Israel di wilayah Palestina, mengatakan bahwa penyeberangan Rafah dan Kerem Shalom di Gaza selatan ditutup pada Minggu dan Senin karena hari raya Yahudi. Penutupan ini terjadi setelah Israel, pekan lalu, mengurangi jumlah pasien dari Gaza beserta pendamping mereka yang dijadwalkan berobat di Mesir, dari 136 menjadi 61 orang.

    Kementerian Kesehatan Gaza mengecam langkah tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hak untuk mendapatkan perawatan medis. Pihaknya memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan nyawa ratusan pasien.

    Kementerian itu menyerukan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kepala urusan kemanusiaan PBB, dan organisasi internasional lainnya untuk segera melakukan intervensi dan memberikan tekanan langsung kepada otoritas Israel guna mengakhiri apa yang disebutnya sebagai persyaratan sewenang-wenang.

  2. 2. 20.719 pasien di Gaza masih menunggu evakuasi medis

    penyeberangan Rafah
    penyeberangan Rafah (gloucester2gaza, CC BY-SA 2.0 , via Wikimedia Commons)

    Pada akhir Agustus 2026, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa ribuan pasien di Gaza masih menunggu evakuasi medis untuk mendapatkan perawatan yang mendesak. Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Gaza sebelumnya, sebanyak 20.719 pasien dan warga yang terluka masih berada dalam daftar tunggu untuk meninggalkan Gaza guna mendapatkan perawatan di luar negeri.

    Pada 2 Februari 2026, Israel membuka kembali sebagian penyeberangan Rafah, yang telah dikuasainya sejak Mei 2024, untuk memungkinkan pasien, korban luka, dan pendamping mereka melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berobat. Beberapa bulan kemudian, Israel juga mulai mengizinkan pasien dan korban luka meninggalkan Gaza melalui penyeberangan komersial Kerem Shalom.

    Namun, warga Palestina yang kembali ke Gaza melaporkan mengalami perlakuan buruk oleh Israel, termasuk penahanan dan interogasi dalam waktu lama, sebelum akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan mereka.

  3. 3. 2 rumah sakit di Gaza hentikan sebagian layanan karena krisis bahan bakar

    pemandangan Gaza yang luluh lantak akibat serangan Israel
    pemandangan Gaza yang luluh lantak akibat serangan Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

    Sektor kesehatan Gaza ikut terdampak oleh perang Israel di Gaza yang telah berlangsung hampir 3 tahun. Menurut data resmi, sedikitnya 445 serangan Israel menargetkan fasilitas kesehatan dan menyebabkan 155 fasilitas rusak.

    Pada Senin, Rumah Sakit Al-Wafa untuk Rehabilitasi Medis dan Bedah Khusus di Gaza, mengumumkan telah mengurangi beberapa layanannya akibat krisis operasional yang disebabkan oleh kekurangan bahan bakar dan pasokan penting lainnya. Sebelumnya, pada Minggu, Rumah Sakit Khusus Kuwait juga menghentikan operasional di seluruh departemennya, kecuali layanan gawat darurat, akibat terhentinya pasokan bahan bakar.

    Kantor media pemerintah Gaza telah berulang kali menuding Israel gagal memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, termasuk mengizinkan masuknya bantuan dan bahan bakar dalam jumlah yang telah disepakati ke wilayah tersebut.

    Kementerian Kesehatan Palestina juga mencatat sedikitnya 1.394 orang tewas dan 4.839 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata. Secara keseluruhan, hampir 74 ribu warga Palestina tewas sejak Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada Oktober 2023, dikutip Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More