Siswi SMP IT Al Fateeh Pedurungan bersiap makan MBG. (IDN Times/bt)
KPAI mendesak pemerintah melakukan audit nasional seluruh SPPG, memetakan jarak dapur-sekolah, menetapkan batas waktu distribusi, menggunakan kendaraan sesuai standar pangan, memantau suhu dan waktu secara real-time, serta mewajibkan skrining kesehatan pekerja dapur.
“Pekerja dapur berada pada titik paling kritis dalam sistem keamanan pangan. Ketika pekerja yang mengolah dan mendistribusikan makanan diduga terpapar penyakit menular, maka negara harus memastikan bahwa skrining kesehatan, higiene, sanitasi, dan perlindungan tenaga kerja benar-benar berjalan," ujar dia.
Kasus keracunan MBG kembali mencuat di Wates, Kulon Progo, pada Juli 2026. Dinas Kesehatan setempat mencatat 105 orang mengalami gejala, terdiri dari 98 siswa, empat tenaga pendidik, satu ibu hamil, dan dua ibu menyusui, sebelum tambahan laporan dari sekolah lain.
Investigasi awal menemukan salah satu faktor risiko berupa jeda panjang antara makanan dimasak dan dikonsumsi. Ayam disebut dimasak sekitar pukul 02.00 WIB dan dikonsumsi 8-10 jam kemudian yang dinilai berisiko terhadap pertumbuhan bakteri. Penyebab pasti tetap menunggu pemeriksaan laboratorium.
Kasus di Wates juga bukan satu-satunya persoalan keamanan pangan MBG. Laporan ANTARA menyampaikan, di Papua juga sempat ada kasus dugaan keracunan dan langkah pengawasan terhadap dapur MBG, sementara pada Maret 2026 BGN Nabire menelusuri dugaan keracunan tujuh penerima manfaat.