Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
KPAI Nilai Keracunan MBG Cerminkan Krisis Distribusi Pangan
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra (Dok/Istimewa)
  • KPAI menilai kasus keracunan MBG sepanjang 2026 menunjukkan krisis tata kelola rantai distribusi pangan.
  • Jeda distribusi yang panjang dinilai dapat membuat makanan tidak lagi segar saat diterima anak-anak.
  • KPAI mendesak audit nasional seluruh SPPG, termasuk pemantauan suhu, waktu, dan kesehatan pekerja dapur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Maret 2026

BGN Nabire menelusuri dugaan keracunan tujuh penerima manfaat.

Juli 2026

Kasus keracunan MBG kembali mencuat di Wates, Kulon Progo. Dinas Kesehatan setempat mencatat 105 orang mengalami gejala.

Senin (10/8/2026)

Jasra Putra menyatakan KPAI menilai kasus keracunan MBG menunjukkan krisis tata kelola rantai distribusi pangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    KPAI menyoroti kasus keracunan berulang dalam Program Makan Bergizi Gratis dan mendesak audit nasional seluruh SPPG.
  • Who?
    Wakil Ketua KPAI Jasra Putra, pemerintah, SPPG, serta penerima manfaat MBG terlibat dalam persoalan ini.
  • Where?
    Kasus disebut terjadi di berbagai daerah, termasuk Wates, Kulon Progo, serta Papua dan Nabire.
  • When?
    Rangkaian kasus terjadi sepanjang 2026. Jasra Putra menyampaikan penilaiannya pada Senin (10/8/2026).
  • Why?
    KPAI menilai ketidaksesuaian waktu produksi dan konsumsi serta keracunan berulang menunjukkan persoalan sistemik dalam distribusi pangan.
  • How?
    Makanan melewati dapur SPPG, pengemasan, penyimpanan, transportasi, dan waktu tempuh sebelum dikonsumsi anak. KPAI meminta audit dan pemantauan suhu serta waktu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jasra Putra dari KPAI bilang makanan MBG bisa membuat anak sakit karena perjalanan makanan dari dapur ke sekolah dapat lama. Di Wates, Kulon Progo, 105 orang mengalami gejala pada Juli 2026. KPAI meminta pemerintah memeriksa semua dapur SPPG agar makanan untuk anak aman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Desakan KPAI untuk mengaudit seluruh SPPG menempatkan pengawasan pangan pada seluruh proses, bukan hanya menu makanan. Usulan pemetaan jarak dapur-sekolah, batas waktu distribusi, pemantauan suhu, dan skrining kesehatan pekerja dapat memperjelas titik-titik yang perlu diperiksa dalam sistem MBG.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, menilai rangkaian kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang 2026 menunjukkan krisis tata kelola rantai distribusi pangan. Dia mengatakan, anak tidak boleh menjadi korban sistem yang dinilai belum siap.

“Yang sedang kita hadapi bukan hanya persoalan makanan yang basi atau keracunan di sekolah, yang sedang kita hadapi adalah kegagalan menjaga rantai distribusi pangan, mulai dari dapur SPPG, pengemasan, penyimpanan, transportasi, waktu tempuh, hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh anak-anak. Anak tidak boleh menjadi korban dari sistem yang belum siap,” kata Jasra Putra kepada IDN Times, dikutip Senin (10/8/2026).

1. KPAI soroti makanan tak lagi segar

ILustrasi Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) (IDN Times/Rangga Erfizal)

KPAI menilai, persoalan utama muncul dari ketidaksesuaian waktu produksi dan konsumsi. Jarak dapur, kemacetan, keterbatasan kendaraan, penyimpanan, sanitasi, serta kapasitas SDM disebut dapat membuat makanan menempuh distribusi panjang sebelum diterima anak.

“Anak-anak seharusnya menerima makanan yang benar-benar fresh, hangat, aman, dan layak konsumsi. Ketika makanan diterima setelah melewati waktu distribusi yang panjang, maka negara sedang mempertaruhkan kesehatan jutaan anak hanya karena rantai logistik belum mampu menjamin keamanan pangan,” ujar Jasra.

2. Keracunan berulang dinilai sistemik

Ilustrasi MBG. (IDNTimes/Tunggul Damarjat)

Jasra menilai, berulangnya kasus keracunan di berbagai daerah menunjukkan persoalan MBG tidak lagi dapat dipandang sebagai insiden lokal. Menurut KPAI, evaluasi seharusnya tidak berhenti pada menu makanan, tetapi mencakup produksi, distribusi, penyimpanan, hingga pengawasan.

“Kalau keracunan terus berulang di berbagai daerah, maka yang harus dievaluasi bukan hanya menu makanannya, tetapi seluruh sistem produksi, distribusi, penyimpanan, dan pengawasannya. Keracunan yang berulang adalah tanda bahwa persoalan belum selesai,” ujar dia.

3. KPAI desak audit seluruh SPPG

Siswi SMP IT Al Fateeh Pedurungan bersiap makan MBG. (IDN Times/bt)

KPAI mendesak pemerintah melakukan audit nasional seluruh SPPG, memetakan jarak dapur-sekolah, menetapkan batas waktu distribusi, menggunakan kendaraan sesuai standar pangan, memantau suhu dan waktu secara real-time, serta mewajibkan skrining kesehatan pekerja dapur.

“Pekerja dapur berada pada titik paling kritis dalam sistem keamanan pangan. Ketika pekerja yang mengolah dan mendistribusikan makanan diduga terpapar penyakit menular, maka negara harus memastikan bahwa skrining kesehatan, higiene, sanitasi, dan perlindungan tenaga kerja benar-benar berjalan," ujar dia.

Kasus keracunan MBG kembali mencuat di Wates, Kulon Progo, pada Juli 2026. Dinas Kesehatan setempat mencatat 105 orang mengalami gejala, terdiri dari 98 siswa, empat tenaga pendidik, satu ibu hamil, dan dua ibu menyusui, sebelum tambahan laporan dari sekolah lain.

Investigasi awal menemukan salah satu faktor risiko berupa jeda panjang antara makanan dimasak dan dikonsumsi. Ayam disebut dimasak sekitar pukul 02.00 WIB dan dikonsumsi 8-10 jam kemudian yang dinilai berisiko terhadap pertumbuhan bakteri. Penyebab pasti tetap menunggu pemeriksaan laboratorium.

Kasus di Wates juga bukan satu-satunya persoalan keamanan pangan MBG. Laporan ANTARA menyampaikan, di Papua juga sempat ada kasus dugaan keracunan dan langkah pengawasan terhadap dapur MBG, sementara pada Maret 2026 BGN Nabire menelusuri dugaan keracunan tujuh penerima manfaat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article