Survei IPO: Kinerja Bahlil dan Elektabilitas Golkar Duduki Posisi Tiga Teratas

- Bahlil Lahadalia menempati urutan ketiga persepsi kinerja terbaik dengan tingkat kepuasan publik 32 persen.
- Popularitas Bahlil mencapai 32,8 persen, menempatkannya pada posisi ketiga di antara para menteri.
- Golkar berada di urutan ketiga elektabilitas partai dengan 10,4 persen dalam survei IPO.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mencatatkan dua capaian dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO). Selain masuk tiga besar menteri dengan persepsi kinerja terbaik di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, partai yang dipimpin Bahlil, Partai Golkar juga berada di tiga besar elektabilitas partai politik.
Dalam survei IPO, Bahlil memperoleh tingkat kepuasan publik sebesar 32 persen dan menempati posisi ketiga dalam daftar menteri dengan kinerja terbaik. Dia berada di bawah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dengan 42,8 persen dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebesar 33,5 persen.
Direktur Eksekutif IPO, Dedi Kurnia Syah, mengatakan penilaian masyarakat terhadap kinerja menteri memiliki keterkaitan dengan tingkat popularitas masing-masing figur. Menurutnya, popularitas turut membuat sejumlah menteri lebih menonjol dalam persepsi publik.
"Temuan survei juga mencerminkan dinamika opini publik yang terus berkembang. Persepsi masyarakat terhadap pemerintah, tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden, serta pilihan politik terhadap partai dan tokoh nasional menjadi bagian dari potret yang disajikan dalam survei IPO periode ini. Persepsi publik terhadap menteri yang dianggap bekerja dengan baik, ini linier dengan popularitas. Menteri Purbaya menempati posisi teratas, kemudian Seskab Teddy Indra Wijaya pada posisi kedua. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketiga," ujar Dedi dalam keterangannya, Senin (10/8/2026)
1. Popularitas Bahlil juga masuk tiga besar

Selain dari sisi kinerja, Bahlil juga tercatat sebagai salah satu menteri dengan tingkat popularitas tertinggi. Sebanyak 32,8 persen responden mengaku mengetahui atau mengenal nama Bahlil.
Angka tersebut menempatkan Bahlil di posisi ketiga. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berada di urutan pertama dengan tingkat popularitas 43,5 persen, disusul Teddy Indra Wijaya sebesar 41 persen.
Popularitas Bahlil bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah nama yang selama ini dikenal luas di panggung politik nasional. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), misalnya, dia memperoleh angka popularitas 30,4 persen. Sementara Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan tercatat sebesar 26,1 persen.
Dedi menilai, tingkat pengenalan publik terhadap seorang menteri turut berhubungan dengan bagaimana masyarakat memberikan penilaian terhadap kinerjanya.
Di sisi lain, IPO juga memotret sejumlah menteri yang mendapat persepsi kurang baik dari masyarakat. Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai berada di posisi teratas dengan angka 51,8 persen, disusul Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo sebesar 48,5 persen dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebesar 4,5 persen.
"Yang pertama adalah Menteri HAM Natalius Pigai 51,8 persen, Menteri PU Dody Hanggodo 48,5 persen, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni 4,5 persen," kata Dedi.
2. Golkar masuk tiga besar di bawah Gerindra dan PDIP

Selain itu, Partai Golkar yang kini dipimpin Golkar juga berada dalam jajaran tiga besar partai dengan elektabilitas tertinggi.
IPO mencatat Golkar memperoleh elektabilitas sebesar 10,4 persen. Partai berlambang pohon beringin itu berada di posisi ketiga, di bawah Partai Gerindra yang meraih 17,5 persen dan PDI Perjuangan sebesar 12,8 persen.
Golkar mengungguli sejumlah partai lainnya. Partai Demokrat berada di posisi berikutnya dengan elektabilitas 8,1 persen, disusul PKB 7 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan NasDem 4,4 persen.
3. Persepsi publik terhadap pemerintah dinamis

Dedi mengingatkan, persepsi masyarakat terhadap pemerintah maupun para menteri bukan merupakan penilaian yang bersifat permanen. Tingkat kepuasan dan popularitas dapat berubah mengikuti perkembangan sosial-politik serta kebijakan yang dijalankan pemerintah.
"Jadi, memang kondisi masyarakat saya kira selalu dinamis dalam memberikan penilaian," ujar dia.
Survei nasional IPO dilakukan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden. Responden dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling (SMRS).
Survei tersebut memiliki margin of error sebesar 2,9 persen dengan tingkat akurasi 95 persen. Meski demikian, hasil survei tersebut merupakan gambaran opini publik pada periode pengumpulan data. Dinamika politik, kinerja pemerintahan, serta kebijakan yang muncul setelah survei dilakukan masih dapat memengaruhi tingkat kepuasan terhadap menteri maupun pilihan politik masyarakat.



















