Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mak Painah Cari Nafkah di Makam demi Anak Asuh Tetap Sekolah
Mak Painah (73), warga Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, tampak berjalan pelan dengan tubuh membungkuk sambil berpegangan pada kayu sederhana di tengah rutinitas hariannya/ (Biro Humas Kemensos)
  • Mak Painah, 73 tahun, mencari nafkah dengan berjualan bunga dan membersihkan makam demi membesarkan anak asuhnya, Aditya Herlambang, sejak bayi hingga remaja.
  • Meski hidup serba terbatas, Mak Painah bersyukur saat Aditya diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas 17 Surakarta yang memberikan pendidikan gratis.
  • Bantuan dari pemerintah melalui PKH dan program YAPI membantu kebutuhan harian Mak Painah, sementara semangatnya tetap tumbuh demi masa depan Aditya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Di salah satu sudut rumah sederhana Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Mak Painah (73) keluar menuju area pemakaman. Dari pekerjaan berjualan bunga dan membersihkan makam, ia bisa membesarkan Aditya Herlambang.

Sejak suaminya meninggal, Mak Painah hidup sebatang kara bersama sang anak asuh, Aditya yang ia besarkan sejak bayi. Penghasilannya tidak menentu. Kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Kadang lebih sedikit lagi, bahkan tidak sampai Rp10 ribu.

Setiap pagi, ia memungut bunga kamboja yang gugur serta membersihkan makam yang dikunjungi peziarah. Pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, tapi dari situlah ia bertahan hidup.

Dari situ juga, ia membesarkan Aditya. Awalnya, hanya dititipkan sebentar. Tapi orangtua kandungnya tidak pernah kembali, dan sejak itu Mak Painah mengurus semua kebutuhan hidup Aditya.

“Sudah saya anggap anak sendiri,” ucap Mak Painah dalam keterangan, Kamis (28/5/2026).

1. Sempat bingung saat anak SMP

Ilustrasi SMP Negeri. (IDN Times/Daruwaskita)

Aditya tumbuh di tengah kehidupan yang serba sederhana. Ia bisa bersekolah, serta terpenuhi kebutuhan lainnya di tengah keterbatasan. Saat Aditya lulus SMP, Mak Painah sempat bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan biaya sekolah anak asuhnya.

“Waktu itu saya benar-benar takut dia tidak bisa sekolah lagi karena saya tidak punya biaya,” katanya.

2. Senyum lega saat diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta

Salah satu jenis sepatu di Sekolah Rakyat Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

Kemudian datanglah kabar yang membuatnya lega. Aditya diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta.

Alhamdulillah saya senang sekali. Sampai nangis karena dia bisa sekolah tanpa biaya, gratis,” ujarnya sambil menahan tangis.

3. Aditya jadi alasan Mak Painah bertahan hidup

Mak Painah (73), warga Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, tampak berjalan pelan dengan tubuh membungkuk sambil berpegangan pada kayu sederhana di tengah rutinitas hariannya/ (Biro Humas Kemensos)

Bagi Mak Painah, Aditya bukan hanya anak asuh. Kehadirannya menjadi alasan untuk tetap bertahan menjalani hidup di usia senja.

Mak Painah merasakan perhatian pemerintah banyak menopang hidupnya. Ia juga menerima bantuan dari Kementerian Sosial dalam Program Keluarga Harapan (PKH). Pada 2025 lalu, ia berhak menerima bantuan sembako dan Yatim Piatu (YAPI) yang membantu kebutuhan hariannya.,

"Saya ingin melihat Aditya tumbuh besar, sekolahnya selesai, dan hidupnya lebih baik dari saya," ucap Mak Painah.

Editorial Team

Related Article