Jakarta, IDN Times – Masyarakat adat kerap menjadi pihak yang disorot ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di berbagai daerah Indonesia. Praktik berladang dengan metode tebas-bakar yang dilakukan sebagian masyarakat adat sering disebut sebagai salah satu penyebab kebakaran.
Namun, anggapan tersebut dinilai terlalu menyederhanakan persoalan karhutla. Peneliti Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Yayan Hidayat, mengatakan masyarakat adat justru memiliki pengetahuan ekologis yang telah diwariskan secara turun-temurun untuk menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, isu masyarakat adat sebagai penyebab karhutla selalu muncul setiap tahun dan berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih besar.
"Isu ini selalu muncul dan selalu mencari kambing hitam untuk disalahkan masyarakat adat," kata Yayan kepada IDN Times, Senin (10/8/2026).
