Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pakistan Bersiap Kirim Astronaut Pertama ke Stasiun Tiangong

4 min read
Pakistan Bersiap Kirim Astronaut Pertama ke Stasiun Tiangong
ilustrasi bendera Pakistan (unsplash.com/Ali Khokhar)
  • Zeeshan Ali dan Khurram Daud menjalani pelatihan intensif di Beijing untuk menjadi astronaut pertama Pakistan; keputusan kandidat terpilih diperkirakan pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026.
  • Astronaut terpilih akan menjadi spesialis muatan di Tiangong selama sekitar sepekan, menjalankan empat eksperimen bioteknologi Pakistan terkait ketahanan pangan dan perubahan iklim.
  • Misi Pakistan sepenuhnya mengandalkan fasilitas China, dari pelatihan hingga peluncuran; kerja sama antariksa juga mencakup satelit dan rencana rover Pakistan dalam misi Chang'e 8.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Dua pilot asal Pakistan, Zeeshan Ali dan Khurram Daud, tengah bersaing untuk menjadi astronaut pertama bagi negaranya dalam sejarah penjelajahan antariksa. Keduanya kini menjalani pelatihan intensif di Beijing guna mempersiapkan misi menuju stasiun luar angkasa milik China, Tiangong.

Pihak berwenang China sendiri belum mengumumkan nama kandidat terpilih maupun jadwal keberangkatannya, tetapi pejabat badan antariksa Pakistan (SUPARCO), Amer Gilani, menyebut keputusan akhir diperkirakan berlangsung pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026. Sosok yang lolos nantinya bakal mencatatkan sejarah sebagai astronaut asing perdana yang berada di stasiun luar angkasa Tiangong.

  1. 1. Dua kandidat jalani serangkaian latihan di Beijing

    ilustrasi astronot
    ilustrasi astronot (pexels.com/Pixabay)

    Zeeshan Ali dan Khurram Daud telah menghabiskan waktu berbulan-bulan di China Astronaut Research and Training Centre di Beijing. Mereka berlatih menggunakan mesin sentrifugal, mendalami sistem pesawat ruang angkasa, serta mempelajari bahasa Mandarin secara intensif. Dilansir TRT World, keduanya juga belajar makan, tidur, dan memperbaiki peralatan dalam kondisi tanpa bobot untuk beradaptasi dengan mikrogravitasi orbit, di samping membiasakan diri menghadapi gaya-g saat peluncuran.

    Kedua pria ini berhasil menyisihkan sekitar 20 finalis yang diseleksi dari kelompok awal berisi pilot dan ilmuwan. Mereka disaring berdasarkan kebugaran medis, ketahanan psikologis, dan toleransi terhadap gaya-g tinggi yang jarang dimiliki ilmuwan. "Anda tidak bisa dengan mudah menemukan ilmuwan yang terbiasa melaju cepat dan menghadapi gaya-g (g-forces) tingkat tinggi," kata Direktur Kecerdasan Buatan SUPARCO, Uzair Ansari saat menjelaskan alasan pemilihan kandidat berlatar penerbangan berkecepatan tinggi.

    Pejabat SUPARCO yang mengawasi kerja sama penerbangan luar angkasa berawak, Amer Gilani, mengungkapkan bahwa astronaut terpilih tidak akan pulang ke Pakistan sebelum peluncuran. Sosok tersebut akan langsung diberangkatkan menjalankan misi ke luar angkasa usai menyelesaikan masa pelatihannya di China tanpa pulang terlebih dahulu ke Pakistan. Gilani menambahkan bahwa sang astronaut baru akan kembali ke tanah air setelah menjalani masa pemulihan fisik usai mendarat di Bumi.

  2. 2. Tugas sebagai spesialis muatan dan eksperimen sains

    ilustrasi stasiun luar angkasa
    ilustrasi stasiun luar angkasa (pexels.com/SpaceX)

    Saat berada di stasiun luar angkasa, pilot yang terpilih akan menyandang peran resmi sebagai payload specialist atau spesialis muatan. Tugas utamanya berfokus menjalankan rangkaian eksperimen sains milik Pakistan, bukan mengemudikan pesawat ruang angkasa. Misi penerbangan berawak ini sendiri merupakan bagian dari kerja sama bilateral yang telah dirancang kedua negara sejak 2019.

    Dari lebih dari 300 proposal universitas di Karachi, Lahore, dan Islamabad, institusi China meloloskan empat eksperimen bioteknologi untuk membantu mengatasi kerawanan pangan dan perubahan iklim. Setiap eksperimen dirakit serta diuji coba di laboratorium SUPARCO sebelum disetujui para insinyur China. Muatan ilmiah ini tergolong sederhana jika dibandingkan dengan Tiangong yang telah menampung lebih dari 180 eksperimen, menghasilkan lebih dari 500 makalah riset, dan 150 paten.

    Tiga modul Tiangong, yakni Tianhe, Wentian, dan Mengtian, berbobot gabungan sekitar 77 ton metrik serta memuat sekitar 14 rak eksperimen. Dilansir Geo News, astronaut Pakistan dijadwalkan berada di stasiun luar angkasa tersebut selama sekitar satu pekan. Dia akan kembali ke Bumi bersama dua awak China yang tiba pada Mei, sementara satu awak China lainnya tinggal selama setahun untuk riset fisiologi manusia.

  3. 3. Ketergantungan penuh pada fasilitas luar angkasa China

    ilustrasi pesawat luar angkasa
    ilustrasi pesawat luar angkasa (pexels.com/Pixabay)

    Misi bersejarah ini sangat bergantung pada Beijing karena Pakistan tidak memiliki wahana peluncur mandiri ataupun pesawat ruang angkasa berawak sendiri. Astronaut yang bertugas akan terbang menaiki pesawat antariksa buatan China, meluncur dari fasilitas China, dilatih instruktur China, dan berkomunikasi dalam bahasa Mandarin di orbit. Waktu tinggal selama sekitar satu pekan tersebut juga merupakan sebagian kecil dibanding masa rotasi kru reguler China yang berlangsung sekitar enam bulan.

    Kemitraan kedua negara turut mencakup program Belt and Road Initiative, pengoperasian sistem navigasi satelit bersama, dan satelit Pakistan yang diluncurkan China. Selain itu, sebuah wahana penjelajah (rover) buatan Pakistan dijadwalkan meluncur dalam misi Chang'e 8 milik China sekitar tahun 2028. Wahana tersebut dirancang memanfaatkan pencitraan stereo berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi rintangan, mengukur kedalaman medan, dan merencanakan jalurnya di permukaan Bulan karena pengendali di Bumi tidak dapat memandunya secara langsung.

    Ketika ditanya mengenai peluang mengirim astronaut Pakistan ke Bulan di bawah kemitraan yang sama, Amer Gilani menyatakan belum ada kesepakatan resmi. "Tidak ada komitmen atau diskusi resmi mengenai masalah ini," tutur Gilani kepada Reuters, seraya menambahkan kelanjutannya bergantung pada hasil misi perdana ini. Kendati demikian, Uzair Ansari menegaskan misi menuju stasiun Tiangong ini tetap menjadi "kesempatan sekali seumur hidup" bagi kemajuan komunitas ilmuwan Pakistan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More