Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Membangun Desa Sejahtera di Timur Pulau Jawa ala Astra
Penggerak Desa Wisata Kemiren, Moh Edy Saputro menjelaskan budaya masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur (26/6/2026). Papan petunjuk wisata merupakan salah satu bentuk pendampingan dari program Desa Sejahtera Astra (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Program Desa Sejahtera Astra fokus pada pemberdayaan masyarakat desa melalui empat bidang utama—kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan—untuk menciptakan desa mandiri dan berkelanjutan berbasis potensi lokal.
  • Di Desa Kemiren, budaya Osing dikembangkan menjadi penggerak ekonomi lewat wisata budaya, homestay, dan UMKM lokal yang meningkatkan pendapatan warga serta menjaga kelestarian tradisi.
  • Pendampingan Astra bagi petani buah naga di Sumbermulyo berhasil mengubah hasil panen bernilai rendah menjadi produk organik berkualitas ekspor, meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian petani.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Astra bantu orang desa biar hidupnya lebih baik. Mereka ajar bikin usaha, jaga sehat, belajar, dan sayang alam. Di Desa Kemiren, orang Osing jaga budaya sambil buka wisata dan jual makanan khas. Di Desa Sumbermulyo, petani buah naga dibantu biar panennya laku mahal. Sekarang banyak yang senang dan punya penghasilan lebih bagus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyuwangi, IDN Times - Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo, mengungkap alasan di balik program Desa Sejahtera Astra (DSA). Program yang diluncurkan pada 2018 ini berfokus pada pemberdayaan kewirausahaan berbasis potensi dan produk unggulan desa. DSA melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, start-up, dan Kelompok Usaha Desa (KUD).

Windy mengatakan, kontribusi sosial Astra berfokus pada pengembangan masyarakat di wilayah pedesaan (rural area development) didasari pemikiran bahwa pembangunan dan pemerataan ekonomi dimulai dari desa yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi. Karakter masyarakat desa yang bergotong-royong menjadi tempat yang kondusif untuk menciptakan perubahan sosial berkelanjutan.

"Sejalan dengan fokus tersebut, Astra melakukan penyelarasan terhadap berbagai program kontribusi sosial berkelanjutan yang telah berjalan, untuk memperkuat dampaknya bagi masyarakat di wilayah pedesaan secara holistik melalui flagship program Desa Sejahtera Astra," kata dia dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2026).

1. Mengembangkan potensi lokal berkelanjutan

Murid TK Kartini 3 Kemiren merawat tradisi Tari Gandrung yang merupakan budaya asli Suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur (26/6/2026). TK ini jadi salah satu binaan program Desa Sejahtera Astra (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Windy menuturkan, Desa Sejahtera Astra merupakan program kontribusi sosial Astra yang berfokus pada pengembangan masyarakat sesuai dengan potensi lokal secara berkelanjutan. Program ini dijalankan melalui pendekatan kolaboratif bersama masyarakat melalui empat bidang kontribusi sosial Astra, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan untuk mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat desa secara berkelanjutan, dan dikolaborasikan dengan local champion setempat sebagai agent of change.

"Program Desa Sejahtera Astra bertujuan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan, serta terciptanya desa yang mandiri dan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat secara terintegrasi pada bidang yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan, guna menciptakan masyarakat yang produktif dan berdaya saing," ungkapnya.

2. Masyarakat Osing di Desa Kemiren Banyuwangi sulap budaya jadi sumber rezeki

Tarian Gandrung yang jadi salah satu bagian pertunjukkan di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur (26/6/2026). Tarian ini adalah seni tradisional ikonik asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang awalnya dibawakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri atas hasil panen yang melimpah. Kesenian Suku Osing ini memadukan gerakan rancak, alunan musik perpaduan Jawa-Bali, dan interaksi interaktif dengan penonton (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Salah satu program ini menyasar masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi. Di tengah derasnya arus modernisasi, tidak sedikit desa adat yang perlahan kehilangan identitasnya. Namun, cerita berbeda datang dari Desa Kemiren. Di desa yang menjadi rumah masyarakat Osing ini, budaya bukan sekadar warisan leluhur yang dipertontonkan di panggung festival, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sebagai sumber kesejahteraan warga.

Melalui program Desa Sejahtera Astra, budaya Osing justru dikembangkan menjadi penggerak ekonomi desa. Tradisi tetap hidup, wisata tumbuh, usaha masyarakat berkembang, hingga kualitas hidup warga ikut meningkat.

Windy mengatakan, Astra tidak datang untuk mengubah karakter Desa Kemiren. Sebaliknya, perusahaan hadir untuk memperkuat potensi yang sejak lama dimiliki masyarakat melalui pengembangan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Pendampingan tersebut telah dilakukan sejak 2024 dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada sektor wisata, tetapi juga kehidupan masyarakat di baliknya, mulai dari Posyandu, PAUD, pengelolaan sampah, pupuk organik, biogas, hingga pemberdayaan usaha lokal.

Desa Kemiren dikenal sebagai living museum masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi yang hingga kini masih mempertahankan berbagai tradisi seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, kuliner khas, musik tradisional, hingga arsitektur rumah adat Osing.

Menurut Windy, kekayaan budaya tersebut menjadi modal utama yang kemudian diperkuat melalui program Desa Sejahtera Astra agar tidak hanya lestari, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dalam kurun 2024 hingga 2026, Desa Kemiren secara konsisten menerima lebih dari 3.000 wisatawan setiap tahun, baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat Osing.

Meningkatnya kunjungan wisatawan itu turut membuka peluang ekonomi baru bagi warga. Saat ini terdapat 50 homestay dengan total 92 kamar, yang seluruhnya dikelola masyarakat. Selain itu, ada sekitar 40 pelaku usaha lokal yang bergerak di sektor kuliner, kopi, hingga kerajinan tangan.

Seluruh aktivitas wisata tersebut juga dikelola 40 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang tidak hanya bertugas melayani wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian budaya Osing.

Dampaknya mulai terasa terhadap kesejahteraan masyarakat. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis meningkat sekitar 33 persen, dari semula Rp1,5 juta menjadi sekitar Rp2 juta per bulan.

Secara keseluruhan, program ini telah menjangkau sekitar 300 warga yang kini semakin aktif terlibat dalam pembangunan desa berbasis budaya.

3. Pendampingan Astra menyentuh kehidupan warga dari Posyandu hingga biogas

Salah satu rumah tradisional masyarakat suku Osing yang ada di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi (26/6/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Windy menjelaskan keberhasilan desa wisata tidak cukup hanya dengan membangun destinasi wisata. Karena itu, Astra memilih melakukan pendampingan menyentuh, hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Pada bidang kesehatan, Astra memperkuat layanan Posyandu Desa Kemiren melalui penyediaan sarana kesehatan dasar, dukungan kesehatan ibu dan anak, serta edukasi kesehatan masyarakat.

Di sektor pendidikan, Astra membantu penguatan PAUD melalui penyediaan sarana belajar, alat permainan edukatif, dukungan kegiatan pembelajaran dan outing class, sekaligus mengenalkan budaya Osing kepada anak-anak sejak usia dini agar regenerasi budaya tetap terjaga.

Sementara itu, di bidang lingkungan, masyarakat didorong membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah organik maupun non-organik.

Limbah ternak dimanfaatkan menjadi pupuk organik, sementara pengembangan biogas mulai diterapkan di lingkungan warga. Hingga kini telah dibangun dua fasilitas biogas sebagai langkah awal mendukung pariwisata berkelanjutan.

Astra juga membentuk kelompok sadar lingkungan yang berfokus pada pengelolaan sampah, pemilahan residu non-organik, kegiatan daur ulang, hingga pelatihan pembuatan pupuk organik dan penyediaan fasilitas kompos.

Di bidang kewirausahaan, pendampingan dilakukan melalui penguatan Desa Wisata Adat Osing Kemiren, peningkatan kapasitas Pokdarwis, pengembangan homestay, pemberdayaan UMKM lokal, promosi wisata budaya, hingga berbagai pameran yang memperkenalkan produk masyarakat.

"Melalui empat bidang tersebut, Desa Sejahtera Astra Kemiren tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya Osing, tetapi juga membangun ekosistem masyarakat yang mendukung peningkatan kualitas hidup, penguatan ekonomi lokal, dan kesejahteraan yang berkelanjutan," kata Windy.

Bagi Astra, pembangunan desa menjadi salah satu fokus utama kontribusi sosial perusahaan. Windy menjelaskan, pembangunan ekonomi yang merata harus dimulai dari wilayah pedesaan yang masih memiliki tingkat kemiskinan relatif tinggi sekaligus budaya gotong royong yang kuat sebagai modal perubahan sosial.

Karena itu, Astra mengembangkan program Desa Sejahtera Astra sebagai pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang dijalankan melalui kolaborasi dengan masyarakat dan local champion atau tokoh penggerak desa.

Program tersebut bertujuan membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan melalui empat bidang utama, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Saat ini Astra bersama Grup Astra telah berkolaborasi dengan lebih dari 1.500 Desa Sejahtera Astra di 35 provinsi di Indonesia.

Kemiren dipilih karena memiliki tiga komponen penting yang menjadi syarat pengembangan Desa Sejahtera Astra, yakni memiliki potensi unggulan, memiliki tokoh penggerak atau local champion, serta memiliki kelembagaan masyarakat yang mampu menjaga keberlanjutan program.

Hasilnya mulai terlihat. Sejak 2019, Desa Kemiren berhasil meraih berbagai penghargaan nasional maupun internasional di bidang pariwisata dan budaya, mulai dari Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata, ASEAN Tourism Award 2025, hingga terpilih dalam The Best Tourism Village Upgrade Program 2025.

Menurut Windy, berbagai pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan masyarakat bukan dua hal yang saling bertentangan.

Sebaliknya, ketika keduanya berjalan berdampingan melalui pendekatan kolaboratif bersama masyarakat, budaya lokal justru mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga.

Ke depan, Astra berharap Desa Sejahtera Astra Kemiren tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata budaya, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi desa, sekaligus contoh bagaimana warisan budaya dapat tetap hidup di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

4. Cerita petani buah naga, panen sempat dijual murah hingga kini naik kelas

Sekretaris Kelompok Tani Sinar Cabe sekaligus petani Binaan Yayasan Astra - Yayasan Dharma Bhakti Astra, Sumartini saat menjelaskan proses pemilahan buah naga di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi (25/6/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Pengalaman yang sama juga dikisahkan Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi. Ada masa ketika buah naga di Banyuwangi hanya dihargai Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram. Saat panen raya datang, petani justru dihantui kecemasan. Buah-buah yang tak terserap pasar hingga menumpuk, bahkan sebagian berakhir dibuang begitu saja.

Namun, waktu membawa cerita berbeda bagi Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo. Perlahan, kebun-kebun yang dulu dibayangi harga murah kini menghasilkan buah naga organik yang masuk ke supermarket, hotel, hingga pernah disiapkan untuk pasar ekspor.

Perubahan itu tidak datang dalam semalam. Ada proses panjang pendampingan yang dilakukan Yayasan Dharma Bakti Astra (YDBA) bersama program Desa Sejahtera Astra (DSA), yang membantu petani memahami budidaya hingga membaca arah pasar.

Sekretaris Kelompok Tani Sinar Cabe sekaligus petani Binaan Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra, Sumartini mengenang masa-masa sulit saat harga buah naga Banyuwangi anjlok pada 2017 sampai 2018. Bahkan buah naga grade terbaik hanya dihargai Rp1.000 sampai Rp2.000 per kilogram.

Situasi itu membuat banyak petani kebingungan mencari pembeli. Buah grade B dan C bahkan tak laku di pasaran. Alih-alih menyerah, kelompok tani tersebut mencoba mencari jalan keluar. Buah yang tidak terserap pasar diolah menjadi pupuk organik cair untuk kembali digunakan di kebun mereka.

"Tahun 2017-2018 itu harga buah naga Kabupaten Banyuwangi terpuruk. Grade A hanya Rp1.000 sampai Rp2 ribu per kilo. Grade B dan C tidak laku di pasaran," ujar Sumartini kepada jurnalis, Rabu, 25 Juni 2026.

Titik balik itu mulai datang pada 2020, ketika Desa Sejahtera Astra hadir memberikan pendampingan. Para petani mendapat pelatihan mengenai pasar modern hingga peluang ekspor yang sebelumnya terasa begitu jauh. Selama ini, mereka hanya mengenal pasar tradisional sebagai tujuan penjualan hasil panen.

Data Yayasan Dharma Bakti Astra mencatat, persoalan petani buah naga saat itu bukan hanya harga, tetapi juga budidaya dan akses pasar. Karena itulah YDBA membuka cabang pembinaan di Banyuwangi pada 2021 untuk mendampingi petani secara lebih intensif.

Berbagai pelatihan diberikan, mulai dari peningkatan kualitas budidaya organik, pengolahan pupuk, pengendalian hama, hingga tata cara memenuhi standar pasar modern dan ekspor.

Hasilnya mulai terlihat. Kelompok tani yang beranggotakan sekitar 30 petani dengan luas lahan mencapai 9,2 hektare itu kini memiliki pasar yang lebih beragam.

Buah naga kualitas terbaik masuk ke supermarket dan hotel. Sementara buah dengan kualitas lain tetap memiliki saluran penjualan tersendiri. Mereka bahkan pernah menyiapkan pengiriman buah naga ke Singapura dan Eropa melalui kemitraan dengan PT Nusa Fresh.

"Kalau dulu apa kata pasar, kita ikut. Sekarang kami sudah punya harga tawar sendiri karena sudah punya sertifikasi dan pasar yang jelas," kata Sumartini.

Pendampingan yang dilakukan Astra tidak hanya membantu petani menjual hasil panen, tetapi juga meningkatkan nilai produk yang dihasilkan. Buah naga organik yang mereka budidayakan kini memiliki daya simpan lebih lama, bahkan bisa bertahan hingga 21 hari setelah dipanen.

Tidak hanya itu, buah-buah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini juga bisa menghasilkan pendapatan tambahan. Buah naga yang mengalami kerusakan ringan diolah menjadi produk buah naga kering melalui kolaborasi dengan pelaku usaha lokal.

Bagi Sumartini, perubahan terbesar bukan hanya soal harga yang lebih baik, melainkan rasa percaya diri petani dalam menentukan masa depan usahanya sendiri. Jika dahulu panen raya identik dengan kepanikan karena pasar penuh, kini mereka memiliki kepastian pembeli dan jadwal pengiriman yang rutin.

"Dampaknya, petani pendapatannya lebih baik dibanding sebelum didampingi. Sekarang kita punya pasar sendiri, punya harga tawar, dan tahu ke mana produk akan dijual," ujarnya.

Di tengah hamparan kebun buah naga Banyuwangi, perubahan itu tumbuh perlahan seperti bunga yang mekar di malam hari. Dari buah yang dulu kerap terbuang, kini lahir harapan baru bagi para petani yang belajar bahwa bertani bukan hanya soal menanam, tetapi juga memahami ke mana hasil panen akan berlabuh.

Selain buah organik, para petani juga dibina untuk membuat Sale Buah Naga dan Bagiak Buah Naga. Program pembinaan ini juga menghasilkan berbagai output bagi petani. Pertama, petani jadi memiliki panduan dalam budidaya buah naga yang sesuai dengan standarisasi organik.

Kedua, pembuatan pupuk dan agensi hayati, petani diajarkan mengetahui prosedur pembuatan pupuk majemuk serta trichoderma untuk pengendalian jamur. Ketiga, penanganan hama dan penyakit, para petani diberikan pemahaman prosedur pembuatan bubur bordeaux untuk pengendalian cacar maupun busuk batang. Keempat, manajemen kebun dan gudang kerja.

Berdasarkan data Yayasan Astra-YDBA, selama periode 2022 hingga 2025, kelompok tani Sinar Cabai sudah mengekspor total 6,8 ton buah naga ke Singapura dan Hongkong melalui PT Nusa Tropical Indonesia. Sementara kerja sama produk olahan dilakukan dengan PT Oreng Osing untuk Sale Buah Naga sejak Maret 2024 sebanyak 20 ton. Kemudian, produk olahan buah kering dilakukan lewat Herbor.id dengan penjualan di pasar domestik sejak September 2024 sebanyak 350 kilogram.

Ketua Yayasan Astra-Yayasan Dharma Bhakti Astra, Rahmat Samulo memastikan, pihaknya mendukung Program Desa Sejahtera Astra di Banyuwangi dalam mendampingi petani buah naga di Desa Sumbermulyo melalui pendirian Pusat Pendampingan UMKM (PPU) Banyuwangi, Jawa Timur.

Di mana PPU ini menjalankan program pelatihan dan pendampingan Mentalitas Dasar maupun teknis agar petani dalam proses budi daya maupun hasil panennya dapat memenuhi standar Quality, Cost, dan Delivery (QCD) pasar modern lokal maupun luar negeri.

"Selain itu, fasilitasi pasar juga dilakukan agar petani dapat menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem produk buah naga dan turunannya," ucap Rahmat.

Editorial Team

Related Article