Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cara Desa Kemiran Rawat Warisan Osing, Budaya Jadi Sumber Rezeki

Cara Desa Kemiran Rawat Warisan Osing, Budaya Jadi Sumber Rezeki
Warga Suku Osing memainkan alat musik tradisional Gedogan di Desa Wisata Adat Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur (26/6/2026). Kesenian ini tercipta dari kebiasaan sehari-hari masyarakat setempat yakni bertani. Alat ini dimainkan dengan alunan pukul alu, lesung padi, dan angklung. Dahulu dimainkan saat panen tiba, kini sudah menjadi sarana hiburan yang menarik daya wisata (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Intinya Sih
  • Desa Kemiren sukses menjadikan budaya Osing sebagai sumber ekonomi lewat program Desa Sejahtera Astra, dengan peningkatan wisata, homestay warga, dan pendapatan masyarakat yang terus naik.
  • Astra mendampingi warga melalui empat bidang utama—kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan—dengan program Posyandu, PAUD, biogas, serta pemberdayaan UMKM untuk membangun ekosistem desa berkelanjutan.
  • Kolaborasi Astra dan masyarakat membawa Desa Kemiren meraih penghargaan nasional hingga ASEAN Tourism Award 2025, menegaskan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan seiring pembangunan ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyuwangi, IDN Times – Di tengah derasnya arus modernisasi, tidak sedikit desa adat yang perlahan kehilangan identitasnya. Namun cerita berbeda datang dari Desa Kemiren, Banyuwangi. Di desa yang menjadi rumah masyarakat Osing ini, budaya bukan sekadar warisan leluhur yang dipertontonkan saat festival, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sumber kesejahteraan warga.

Melalui program Desa Sejahtera Astra, budaya Osing justru berkembang menjadi penggerak ekonomi desa. Tradisi tetap hidup, wisata tumbuh, usaha masyarakat berkembang, hingga kualitas hidup warga ikut meningkat.

Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo, mengatakan Astra tidak datang untuk mengubah karakter Desa Kemiren. Sebaliknya, perusahaan hadir untuk memperkuat potensi yang sejak lama dimiliki masyarakat melalui pengembangan di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Pendampingan tersebut telah dilakukan sejak 2024 dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada sektor wisata, tetapi juga kehidupan masyarakat di baliknya, mulai dari Posyandu, PAUD, pengelolaan sampah, pupuk organik, biogas, hingga pemberdayaan usaha lokal.

1. Budaya Osing tak hanya lestari, tetapi juga menghidupi warga

IMG_20260626_095440.jpg
Tarian Gandrung yang jadi salah satu bagian pertunjukkan di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur (26/6/2026). Tarian ini adalah seni tradisional ikonik asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang awalnya dibawakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri atas hasil panen yang melimpah. Kesenian Suku Osing ini memadukan gerakan rancak, alunan musik perpaduan Jawa-Bali, dan interaksi interaktif dengan penonton (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
IMG_20260626_094841.jpg
Tarian Gandrung yang jadi salah satu bagian pertunjukkan di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur (26/6/2026). Tarian ini adalah seni tradisional ikonik asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang awalnya dibawakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri atas hasil panen yang melimpah. Kesenian Suku Osing ini memadukan gerakan rancak, alunan musik perpaduan Jawa-Bali, dan interaksi interaktif dengan penonton (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Desa Kemiren dikenal sebagai living museum masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi yang hingga kini masih mempertahankan berbagai tradisi seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, kuliner khas, musik tradisional, hingga arsitektur rumah adat Osing.

Menurut Windy, kekayaan budaya tersebut menjadi modal utama yang kemudian diperkuat melalui program Desa Sejahtera Astra agar tidak hanya lestari, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dalam kurun 2024 hingga 2026, Desa Kemiren secara konsisten menerima lebih dari 3.000 wisatawan setiap tahun, baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat Osing. Meningkatnya kunjungan wisata itu ikut membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Saat ini terdapat 50 homestay dengan total 92 kamar yang seluruhnya dikelola masyarakat. Selain itu, ada sekitar 40 pelaku usaha lokal yang bergerak di sektor kuliner, kopi, hingga kerajinan tangan.

Seluruh aktivitas wisata tersebut juga dikelola oleh 40 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang tidak hanya bertugas melayani wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian budaya Osing.

Dampaknya mulai terasa terhadap kesejahteraan masyarakat. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis meningkat sekitar 33 persen, dari semula Rp1,5 juta menjadi sekitar Rp2 juta per bulan. Secara keseluruhan, program ini telah menjangkau sekitar 300 warga yang kini semakin aktif terlibat dalam pembangunan desa berbasis budaya.

2. Pendampingan Astra menyentuh kehidupan warga dari Posyandu hingga biogas

IMG_20260626_081230.jpg
Penggerak Desa Wisata Kemiren, Moh Edy Saputro menjelaskan budaya masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur (26/6/2026). Papan petunjuk wisata merupakan salah satu bentuk pendampingan dari program Desa Sejahtera Astra (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
IMG_20260626_102832.jpg
Murid TK Kartini 3 Kemiren merawat tradisi Tari Gandrung yang merupakan budaya asli Suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur (26/6/2026). TK ini jadi salah satu binaan program Desa Sejahtera Astra (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
IMG_20260626_093624.jpg
Masyarakat Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi menunjukkan keahlian batik tulis dengan motif khas Suku Osing. Pejualan batik tulis ini jadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat sekiatr (26/6/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Windy menjelaskan keberhasilan desa wisata tidak cukup hanya dengan membangun destinasi wisata. Karena itu Astra memilih melakukan pendampingan yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Pada bidang kesehatan, Astra memperkuat layanan Posyandu Desa Kemiren melalui penyediaan sarana kesehatan dasar, dukungan kesehatan ibu dan anak, serta edukasi kesehatan masyarakat.

Di sektor pendidikan, Astra membantu penguatan PAUD melalui penyediaan sarana belajar, alat permainan edukatif, dukungan kegiatan pembelajaran dan outing class, sekaligus mengenalkan budaya Osing kepada anak-anak sejak usia dini agar regenerasi budaya tetap terjaga. Sementara itu, di bidang lingkungan, masyarakat didorong membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah organik maupun non-organik.

Limbah ternak dimanfaatkan menjadi pupuk organik, sementara pengembangan biogas mulai diterapkan di lingkungan warga. Hingga kini telah dibangun dua fasilitas biogas sebagai langkah awal mendukung pariwisata berkelanjutan.

Astra juga membentuk kelompok sadar lingkungan yang berfokus pada pengelolaan sampah, pemilahan residu non-organik, kegiatan daur ulang, hingga pelatihan pembuatan pupuk organik dan penyediaan fasilitas kompos.

Di bidang kewirausahaan, pendampingan dilakukan melalui penguatan Desa Wisata Adat Osing Kemiren, peningkatan kapasitas Pokdarwis, pengembangan homestay, pemberdayaan UMKM lokal, promosi wisata budaya, hingga berbagai pameran yang memperkenalkan produk masyarakat.

"Melalui empat bidang tersebut, Desa Sejahtera Astra Kemiren tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya Osing, tetapi juga membangun ekosistem masyarakat yang mendukung peningkatan kualitas hidup, penguatan ekonomi lokal, dan kesejahteraan yang berkelanjutan," kata Windy.

3. Dari desa kecil menuju panggung dunia

IMG_20260626_082010.jpg
Salah satu rumah tradisional masyarakat suku Osing yang ada di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi (26/6/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
IMG_20260626_081517.jpg
Salah satu rumah tradisional masyarakat suku Osing yang ada di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi (26/6/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Bagi Astra, pembangunan desa menjadi salah satu fokus utama kontribusi sosial perusahaan. Windy menjelaskan, pembangunan ekonomi yang merata harus dimulai dari wilayah pedesaan yang masih memiliki tingkat kemiskinan relatif tinggi sekaligus budaya gotong royong yang kuat sebagai modal perubahan sosial.

Karena itu, Astra mengembangkan program Desa Sejahtera Astra sebagai pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang dijalankan melalui kolaborasi dengan masyarakat dan local champion atau tokoh penggerak desa.

Program tersebut bertujuan membangun desa yang mandiri dan berkelanjutan melalui empat bidang utama, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Saat ini Astra bersama Grup Astra telah berkolaborasi dengan lebih dari 1.500 Desa Sejahtera Astra di 35 provinsi di Indonesia.

Kemiren dipilih karena memiliki tiga komponen penting yang menjadi syarat pengembangan Desa Sejahtera Astra, yakni memiliki potensi unggulan, memiliki tokoh penggerak atau local champion, serta memiliki kelembagaan masyarakat yang mampu menjaga keberlanjutan program.

Hasilnya mulai terlihat. Sejak 2019, Desa Kemiren berhasil meraih berbagai penghargaan nasional maupun internasional di bidang pariwisata dan budaya, mulai dari Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata, ASEAN Tourism Award 2025, hingga terpilih dalam The Best Tourism Village Upgrade Program 2025.

Menurut Windy, berbagai pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan masyarakat bukan dua hal yang saling bertentangan.

Sebaliknya, ketika keduanya berjalan berdampingan melalui pendekatan kolaboratif bersama masyarakat, budaya lokal justru mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga.

Ke depan, Astra berharap Desa Sejahtera Astra Kemiren tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata budaya, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi desa, sekaligus contoh bagaimana warisan budaya dapat tetap hidup di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Penggerak Desa Wisata, Moh Edy Saputro tak memungkiri berkembangnya Desa Kemiren membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Pasalnya kunjungan dari wisatawan terus mengalami lonjakan. Berdasarkan data reservasi, sepanjang tahun 2025 ada 3.683 wisatawan lokal yang berkunjung. Sementara ada pula 114 turis mancanegara.

"Kalau di tahun 2026 ini sendiri, masih pertengahan tahun sudah ada 3.143 wisatawan lokal yang berkunjung dan 125 Warga Negara Asing (WNA). Tentu angka ini meningkat ya, mengingat tahun 2026 ini belum tutup tahun," ujar dia menjelaskan kepada awak media.

Dari kunjungan itu, berawal dari budaya yang mengakar, pendapatan Desa Wisata Kemiren juga tak main-main. Desa ini mendapat omzet sekitar Rp3,2 miliar pada periode 2022 sampai 2025. Di mana per tahunnya mendapat sekitar 500 hingga 800 juta pemasukan.

Edy mengatakan, keberhasilan desa ini bukan datang dengan sendirinya. Tetapi banyak tangan usaha dari warga desa yang tak henti terus berbenah dan keyakinan bahwa melestarikan budaya adalah niat yang tak akan sia-sia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More