Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Modus Rekrutmen Teman Sebaya, Korban TPPO Bisa Jadi Perekrut

Modus Rekrutmen Teman Sebaya, Korban TPPO Bisa Jadi Perekrut
Para korban TPPO asal Jabar yang terjaring di Sungai Lilin saat dipulangkan ke daerah asal. (Dok. Dinsos Muba)
  • Sindikat TPPO memanfaatkan hubungan pertemanan agar ajakan merekrut korban baru terlihat seperti bantuan biasa.
  • Korban dapat didekati melalui orang yang dikenal, lalu diminta mengajak teman lain untuk dieksploitasi.
  • Andi Ardian menyebut mekanisme whistleblower dapat membantu mengungkap jaringan yang lebih besar dengan perlindungan bagi pelapor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apa yang kamu lakukan sebelum mengajak teman ikut tawaran?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sindikat tindak pidana perdagangan orang (TPPO) memanfaatkan hubungan pertemanan untuk merekrut korban baru. Modus ini membuat ajakan terlihat seperti bantuan biasa, padahal dapat menjadi bagian dari tindak pidana.

Koordinator Nasional Ending Sexual Exploitation of Children (ECPAT) Indonesia, Andi Ardian, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengajak teman mengikuti tawaran yang tidak jelas, meski awalnya didasari niat membantu.

"Jangan sampai kita direkrut oleh teman-teman sebaya atau teman-teman atau kalian merekrut teman-teman kalian, karena pada niatnya ingin membantu. Padahal sebenarnya ini adalah sebuah tindakan pidana ya. Jadi perlu memahami juga gitu," kata Andi dalam Webinar: Waspada TPPO di Era Digital: Kenali Modusnya, Lindungi Diri, Selamatkan Sesama, Kamis (13/8/2026).

  1. 1. Korban bisa direkrut teman sendiri, terjadi pada anak-anak

    Modus Rekrutmen Teman Sebaya, Korban TPPO Bisa Jadi Perekrut
    Terdakwa TPPO memasuki Ruang Sidang Cakra PN Denpasar. (IDN Times/Yuko Utami)

    Andi menjelaskan ada satu contoh anak sekolah yang berteman dengan orang dewasa, dan menjalin hubungan sebagai kekasih. Namun, siswa tersebut malah diminta mengajak teman lainnya untuk dieksploitasi karena ada keuntungan.

    "Karena satu contoh kasus yang pernah kami tangani, ada anak sekolah dasar yang waktu itu dia berteman dengan orang dewasa dan melakukan pacaran dari luar kota. Ketika datang si pacarnya ini bilang sama si anak, 'kamu bawa dong teman kamu,' untuk menemani teman saya satu lagi," kata dia, menceritakan.

    Menurut Andi, pola tersebut menunjukkan bagaimana relasi personal dapat dimanfaatkan untuk memperluas jaringan perekrutan. Korban tidak selalu direkrut langsung oleh pelaku utama, tetapi dapat terlebih dahulu didekati melalui orang yang sudah mereka kenal.

  2. 2. Modus TPPO kian beragam

    Modus Rekrutmen Teman Sebaya, Korban TPPO Bisa Jadi Perekrut
    Koordinator Nasional Ending Sexual Exploitation of Children (ECPAT) Indonesia, Andi Ardian dalam Webinar: Waspada TPPO di Era Digital: Kenali Modusnya, Lindungi Diri, Selamatkan Sesama, Kamis (13/8/2026) (Youtube/Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta)

    Andi menjelaskan ada beberapa modus-modus lainnya dari TPPO. Contohnya untuk perdagangan anak, untuk kurir narkoba, untuk modus bekerja, bahkan modus-modus untuk menawarkan, misalnya, untuk artis-artis, figuran hingga modelling.

    "Bahkan kalau di Pulau Lombok, misalnya, karena di sana mayoritas adalah muslim, tergiur untuk melakukan pekerjaan ke luar negeri, termasuk ke timur tengah, karena nanti bisa umroh atau haji di sana," ujarnya.

  3. 3. Berbagai jaringan TPPO lintas negara

    Modus Rekrutmen Teman Sebaya, Korban TPPO Bisa Jadi Perekrut
    Ilustrasi kekerasan seksual (IDN Times)

    Maka itu, persoalan TPPO juga tidak berhenti pada proses perekrutan. Jaringan perdagangan manusia dapat melibatkan banyak negara, baik sebagai daerah asal korban, jalur lintasan maupun tujuan.

    "Jadi situasi ini bukan hanya ada di Indonesia, tapi bisa dilihat dari sebuah garis-garis ini adalah sebuah keterhubungan antara negara-negara di seluruh dunia, yang bisa saja itu adalah sebuah tempat di mana korban-korban berasal atau pun jalur atau lintasan dari perdagangan manusia itu atau pun tempat tujuan dari perdagangan manusia ya. Jadi tidak ada satu negara pun di sini yang dikatakan bebas," ujarnya.

  4. 4. Bandar besar masih sulit terungkap

    Modus Rekrutmen Teman Sebaya, Korban TPPO Bisa Jadi Perekrut
    Ilustrasi kekerasan seksual (IDN Times/Mardya Shakti)

    Tantangan terbesar berada pada aktor di balik jaringan TPPO. Andi mengatakan penindakan sering kali baru menjangkau perekrut atau pelaku yang terlibat langsung, sementara bandar dan tokoh penting dalam sindikat ini belum terungkap.

    "Ketika kasusnya terungkap itu biasanya akan pada layer-layer yang masih rendah, antara menengah dan ke atas, itu sulit untuk bisa diungkap, gitu. Jadi ini jadi PR besar sebenarnya, sehingga ketika proses penangkapan itu yang mungkin terhukum itu ya orang-orang yang merekrut atau orang-orang yang terlibat secara langsung ya. Tapi bandar besarnya atau tokoh-tokoh penting di belakang dari sindikasi pelaku kejahatan trafficking ini itu yang memang banyak belum terungkap," ujarnya.

  5. 5. Whistleblower bisa bongkar jaringan

    Modus Rekrutmen Teman Sebaya, Korban TPPO Bisa Jadi Perekrut
    Wamen PPPA Veronica Tan dan LPSK menggelar konferensi pers terkait penanganan kasus YTR, yang disekap oleh kekasihnya di Bandung, Jawa Barat. (Dok. KemenPPPA)

    Andi menilai mekanisme whistleblower dapat menjadi salah satu cara membongkar jaringan yang lebih besar. Pelaku yang telah menyadari kesalahannya dapat berkontribusi mengungkap tindak kejahatan dengan memperoleh perlindungan.

    "Mekanisme whistleblower ini adalah mekanisme yang dibuat oleh LPSK, Lembaga Perlindungan, Saksi dan Korban, di mana orang-orang yang tadinya menjadi pelaku itu akan mendapatkan perlindungan sebagai orang yang melaporkan tindak kejahatan ini. Nah, ini sebenarnya salah satu jalan untuk pelaku bisa berkontribusi untuk mengembalikan situasinya bahwa dia sudah sadar, tobat, dan ingin berkontribusi untuk memperbaiki kesalahannya," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More