Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mendiktisaintek: Pelaku Riset Palsu di ISPPD Bukan Dosen atau Peneliti
Menteri Pendidikan Tinggi,Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Mendiktisaintek menegaskan pelaku dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset di konferensi ISPPD 2026 bukan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.
  • Brian Yuliarto menjelaskan ekosistem riset nasional memiliki mekanisme evaluasi integritas melalui komite etik, LPPM, dan pemantauan dari Kemdiktisaintek serta BRIN untuk menjaga mutu penelitian.
  • Kegiatan riset wajib mematuhi etika akademik dan proses editorial internasional agar validitas data serta integritas publikasi ilmiah tetap terjaga di tingkat nasional maupun global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
26 Mei 2026

Ida Bagus Mandhara Brasika mengunggah utas di Instagram yang mengungkap dugaan pemalsuan identitas oleh peserta asal Indonesia dalam konferensi ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.

27 Mei 2026

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam dugaan pemalsuan riset di ISPPD 2026 bukan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia dan menegaskan pentingnya integritas riset nasional.

ISPPD 2026

Konferensi internasional ISPPD 2026 digelar di Kopenhagen, Denmark, tempat terjadinya dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset oleh sejumlah peserta asal Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kasus dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset oleh sejumlah peserta asal Indonesia dalam konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark.
  • Who?
    Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan pelaku bukan dosen atau peneliti aktif; kasus ini juga disorot oleh Ida Bagus Mandhara Brasika, dosen Universitas Udayana.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.
  • When?
    Pernyataan resmi disampaikan pada Rabu, 27 Mei 2026, setelah unggahan mengenai dugaan pemalsuan muncul di media sosial pada Selasa, 26 Mei 2026.
  • Why?
    Dugaan pemalsuan dilakukan untuk memperoleh fasilitas perjalanan dan pengakuan akademik dalam forum ilmiah internasional yang mempertemukan para ahli pneumonia dunia.
  • How?
    Peserta diduga berganti nama dan identitas dengan mengganti jilbab serta nametag saat presentasi ilmiah; tindakan tersebut memicu sorotan terhadap integritas riset Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Beberapa orang dari Indonesia ketahuan pura-pura jadi orang lain di acara besar tentang penyakit paru di Denmark. Mereka ganti nama dan tanda nama supaya bisa tampil seperti orang berbeda. Menteri bilang mereka bukan dosen atau peneliti aktif. Sekarang pemerintah cek lagi supaya riset di Indonesia tetap jujur dan baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Mendiktisaintek menunjukkan bahwa sistem riset nasional memiliki mekanisme pengawasan dan etika yang kuat. Dengan penegasan bahwa pelaku dugaan pemalsuan bukan dosen atau peneliti aktif, kepercayaan terhadap integritas akademik di perguruan tinggi tetap terjaga. Transparansi proses evaluasi dan kepatuhan terhadap standar ilmiah menegaskan komitmen Indonesia menjaga mutu risetnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, mengatakan, pihak-pihak yang diduga terlibat kasus dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset oleh peserta asal Indonesia dalam konferensi internasional International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark bukan dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia," ujar Brian saat dikonfirmasi IDN Times, Rabu (27/5/2026).

1. Kasus dugaan penipuan pengaruhi ekosistem riset nasional secara lebih luas

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Meski demikian, Brian mengatakan, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas.

"Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya," kata dia.

2. Proses peneliti di Indonesia berada dalam koridor pemantauan

Publikasi penelitian World Values Survey 8 di Universitas Sebelas Maret, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Untuk penelitian yang dilakukan oleh dosen dan peneliti di Indonesia, kata dia, prosesnya berada dalam koridor pemantauan berkala. Hal itu dilakukan untuk menjaga mutu hasil penelitian.

"Sejak tahap pengajuan proposal, penelitian melalui proses review bertingkat, mulai dari LPPM hingga tim reviewer Kemdiktisaintek. Pada tahap pelaksanaan, laporan kemajuan dan laporan akhir juga dievaluasi dan dipantau," ujar dia.

3. Kegiatan penelitian harus mematuhi ketentuan etika akademik

Hasil penelitian Labsosio soal dampak MBG pada pembelajaran siswa (Labsosio-Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia)

Brian menegaskan, kegiatan penelitian harus mematuhi ketentuan etika akademik yang berlaku. Komite etik bertugas memastikan penelitian dijalankan sesuai prinsip etika, termasuk kesesuaian metodologi, penggunaan data, perlindungan subjek penelitian, serta kepatuhan terhadap standar ilmiah.

"Untuk penelitian yang melibatkan subjek manusia dan hewan, peneliti juga terikat pada ketentuan ethical clearance yang berlaku secara nasional maupun global. Bahkan, prosedur dan tata kelola pengujian harus terbuka dan dapat diakses oleh para pemangku kepentingan terkait," ujar dia.

4. Publikasi internasional juga melalui proses editorial

Tangkapan layar dugaan riset yang disebut palsu di ISPPD 2026 (Dok/Istimewa)

Sementara pada tingkat publikasi internasional, kata dia, luaran penelitian dalam bentuk artikel ilmiah juga melalui proses editorial, peer review, serta mekanisme koreksi atau retraction apabila ditemukan pelanggaran.

Dengan keseluruhan mekanisme tersebut, validitas data, mutu riset, dan integritas publikasi ilmiah diharapkan dapat tetap terjaga.

"Namun, apabila proses-proses tersebut dilewati atau tidak dijalankan dengan benar, hal itu tentu dapat berdampak pada mutu riset dan membuat data penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata dia.

Dugaan pemalsuan identitas dan fabrikasi riset oleh sejumlah peserta asal Indonesia di konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark, memicu sorotan di kalangan ilmiah. Praktik tersebut dinilai merusak kredibilitas peneliti Indonesia di forum akademik dunia.

IDN Times telah menghubungi dan memperoleh izin mengutip unggahan dari pengunggah utas di Instagram, Ida Bagus Mandhara Brasika seorang aktivis lingkungan sekaligus dosen di Universitas Udayana, Bali.

“Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia,” tulis Ida Bagus, dikutip, Selasa (26/5/2026).

Salah satu modus yang disebut dilakukan yakni pemalsuan identitas saat presentasi ilmiah. Dalam utas itu dijelaskan, seorang peserta diduga berganti-ganti nama dengan cara mengganti tampilan dan nametag untuk tampil sebagai individu berbeda di forum konferensi.

“Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag,” tulis dia.

ISPPD 2026 merupakan konferensi ilmiah internasional bergengsi yang mempertemukan para ahli pneumonia dari berbagai negara. Namun, dalam utas yang ramai diperbincangkan di media sosial, sejumlah peserta asal Indonesia disebut melakukan pemalsuan secara terorganisir untuk mendapatkan fasilitas perjalanan dan pengakuan akademik.

Editorial Team

Related Article