81 Tahun Bom Hiroshima, PM Jepang Tegaskan Komitmen Bebas Nuklir

- Sekitar 50 ribu orang, termasuk hibakusha, memperingati 81 tahun bom atom Hiroshima dengan mengheningkan cipta pukul 08.15 bagi sekitar 140 ribu korban.
- PM Sanae Takaichi menegaskan komitmen Jepang pada dunia bebas nuklir, meski tidak secara eksplisit mengulang tiga prinsip nonnuklir; Wali Kota Kazumi Matsui mendesak penghapusan senjata nuklir.
- PBB memperingatkan ketegangan geopolitik membalik tren pengurangan nuklir, sementara belanja militer global mencapai 2,9 triliun dolar pada 2025 dan negara-negara didesak mengutamakan dialog.
Jakarta, IDN Times - Masyarakat Jepang berkumpul di Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima ada Kamis (6/8/2026), untuk memperingati 81 tahun tragedi bom atom yang meluluhlantakkan kota tersebut pada 1945. Upacara khidmat ini dihadiri oleh sekitar 50 ribu orang, termasuk para penyintas bom atom yang dikenal dengan sebutan hibakusha.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, memimpin langsung jalannya upacara peringatan tersebut dan menyampaikan pidato perdamaian. Dalam momen hening tepat pada pukul 08.15 waktu setempat, seluruh hadirin menundukkan kepala untuk mendoakan sekitar 140 ribu korban jiwa.
1. Komitmen PM Sanae Takaichi tentang prinsip bebas nuklir

PM Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap perdamaian dunia tanpa senjata nuklir. Komitmen penting ini disampaikan langsung di hadapan para peserta upacara di Hiroshima pada Kamis pagi. Beliau menyatakan bahwa penderitaan mendalam akibat bom atom tidak boleh terulang kembali di masa depan.
Namun, beberapa laporan menyebutkan sang perdana menteri tidak secara eksplisit menegaskan kembali tiga prinsip non-nuklir Jepang. Dilansir Anadolu Agency, tiga prinsip tersebut meliputi larangan memproduksi, memiliki, atau mengizinkan senjata nuklir di wilayah Jepang. Sikap ini memicu perdebatan hangat di tengah situasi keamanan regional yang kian dinamis.
2. Seruan Wali Kota Hiroshima untuk penghapusan Senjata nuklir global

Walikota Hiroshima, Kazumi Matsui, turut menyampaikan pesan mendalam dalam upacara peringatan tersebut. Beliau mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengambil langkah nyata dalam menghapuskan senjata pemusnah massal. Matsui juga memperingatkan bahaya penggunaan kekuatan militer sebagai alat intimidasi global yang masih marak terjadi.
Menurut laporan Nippon.com, upacara peringatan tahun ini dihadiri oleh perwakilan dari rekor 121 negara serta Uni Eropa. Meski begitu, negara-negara besar seperti Rusia dan China memilih absen dari kegiatan tahunan ini. Sementara itu, pihak Amerika Serikat mengirimkan wakil kepala misinya untuk menghadiri acara khidmat tersebut.
3. Peringatan PBB mengenai ketegangan geopolitik dunia saat ini

Utusan tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) urusan perlucutan senjata, Izumi Nakamitsu, juga hadir mewakili Sekretaris Jenderal António Guterres. Nakamitsu menyampaikan keprihatinan mendalam terkait meningkatnya ketegangan geopolitik dunia saat ini. Beliau mengingatkan bahwa tren pengurangan senjata nuklir global kini justru berbalik arah.
Pihak PBB menilai persaingan militer saat ini sangat mengancam perdamaian dunia. Belanja militer global yang melonjak hingga mencapai 2,9 triliun dolar pada 2025 menjadi salah satu indikator nyata adanya ketegangan. Oleh karena itu, semua negara didesak untuk mengutamakan dialog demi mencegah terulangnya tragedi kemanusiaan masa lalu.
Peringatan 81 tahun bom atom Hiroshima ini menjadi refleksi penting bagi dunia akan bahaya laten senjata nuklir. Melalui momen bersejarah ini, masyarakat dunia diharapkan tidak melupakan kepedihan para korban dan terus mengupayakan perdamaian global yang berkelanjutan.





















