Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Spartan, Sistem Peringatan Dini Karhutla dari BMKG
Tampilan Spartan (Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan dan Lahan) oleh BMKG. (BMKG)
  • BMKG menggunakan SPARTAN untuk memprediksi bahaya karhutla hingga tujuh hari melalui parameter cuaca dan kondisi bahan organik, bukan mendeteksi sumber api secara langsung.

  • SPARTAN memantau enam indikator kekeringan, penyebaran, bahan bakar, dan intensitas api; peta berwarna biru hingga merah menunjukkan tingkat kerawanan lahan.

  • Data SPARTAN mendukung koordinasi BMKG, BNPB, KLH, dan BPBD untuk patroli serta kesiapan penanganan, sementara masyarakat diimbau menghindari aktivitas pembakaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2026

Karhutla masih menjadi ancaman di Indonesia. BMKG menggunakan SPARTAN untuk memperkirakan tingkat bahaya karhutla.

26 Oktober 2026

BMKG menjelaskan bahwa warna merah pada peta SPARTAN menandakan lahan sangat kering dan mudah terbakar jika ada penyulut api, bukan berarti kebakaran sedang terjadi.

hingga tujuh hari ke depan

SPARTAN memprediksi bahaya karhutla dan arah penyebaran asap untuk mendukung pencegahan serta penanganan kebakaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BMKG mengoperasikan SPARTAN, sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan yang memetakan tingkat bahaya karhutla berdasarkan kondisi cuaca dan bahan organik lahan hingga tujuh hari ke depan.
  • Who?
    BMKG menggunakan SPARTAN serta berkoordinasi dengan BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, BPBD, dan masyarakat di wilayah berstatus kerawanan kuning atau merah.
  • Where?
    Pemantauan SPARTAN mencakup berbagai wilayah di Indonesia melalui peta tingkat bahaya karhutla yang dapat diakses pada sistem resmi BMKG.
  • When?
    Ancaman karhutla masih dipantau pada 2026. SPARTAN memberikan perkiraan tingkat bahaya kebakaran dan arah penyebaran asap untuk periode hingga tujuh hari ke depan.
  • Why?
    Sistem digunakan untuk menekan risiko karhutla dan dampaknya dengan mengenali kondisi lahan yang mengering, potensi penyebaran api, serta intensitas kebakaran apabila api terjadi.
  • How?
    SPARTAN menghitung enam indikator, yaitu FFMC, DMC, DC, ISI, BUI, dan FWI, lalu menampilkan peta biru, hijau, kuning, dan merah untuk mendukung patroli, kesiapan armada, serta sosialisasi pencegahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BMKG punya SPARTAN untuk melihat bahaya kebakaran hutan sampai tujuh hari. SPARTAN melihat cuaca dan tanah yang kering. Petanya punya warna biru, hijau, kuning, dan merah. Merah artinya tanah sangat kering dan gampang terbakar. BMKG bekerja dengan BNPB dan petugas lain untuk bersiap. Orang diingatkan jangan membakar sampah atau lahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
SPARTAN memperlihatkan bagaimana data cuaca dapat diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan yang lebih terarah. Melalui peta risiko hingga tujuh hari, BMKG dapat mendukung koordinasi patroli, penyiapan armada, dan sosialisasi di wilayah rentan. Penanda warna yang mudah dipahami juga memberi gambaran kondisi lahan secara visual, sehingga perhatian pencegahan dapat difokuskan sebelum kebakaran terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi salah satu ancaman di Indonesia pada 2026. Upaya pencegahan perlu dilakukan untuk menekan risiko kebakaran dan dampaknya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan dan Lahan (Spartan), untuk memperkirakan tingkat bahaya karhutla tersebut.

Sistem ini memanfaatkan parameter cuaca untuk memantau potensi kebakaran, pencegahan, dan mitigasi karhutla hingga tujuh hari ke depan. Sistem ini memperhitungkan kondisi lingkungan melalui parameter cuaca, bukan mendeteksi sumber panas atau penyulut api secara langsung.

Selain itu, sistem ini menampilkan informasi bahaya karhutla melalui peta, sehingga kondisi di berbagai wilayah di Indonesia dapat dipantau secara visual. Berikut cara kerja Spartan BMKG.

1. Kebakaran terjadi ketika tiga unsur segitiga api terpenuhi

ilustrasi segitiga api (commons.wikimedia.org/NPGallery)

Kebakaran dapat terjadi ketika tiga unsur segitiga api terpenuhi, yaitu oksigen, bahan bakar, dan sumber panas. Ketiganya merupakan unsur yang mendukung munculnya dan berlangsungnya proses pembakaran.

Bahan bakar tersebut dapat berupa rumput kering, dedaunan, serta gambut. Kemudian sumber panas dapat berasal dari berbagai pemicu yang memungkinkan terjadinya kebakaran.

Ketiga unsur tersebut perlu dipahami dalam upaya pencegahan karhutla. Ketika bahan bakar berada dalam kondisi kering, risiko kebakaran dapat meningkat, apabila terdapat sumber panas atau pemicu api, terlebih saat angin sedang berembus cepat.

2. Enam indikator pemantauan Spartan

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) (Dok. BNPB)

Spartan menggunakan enam indikator untuk memantau potensi karhutla berdasarkan kondisi cuaca dan bahan organik di lahan.

Tiga indikator pertama mengukur tingkat kekeringan lahan, yakni FFMC untuk bahan ringan mudah terbakar di permukaan tanah, DMC untuk bahan organik lapisan menengah, dan DC untuk bahan organik padat di lapisan lebih dalam.

Sementara itu, ISI mengukur potensi penyebaran api, BUI menunjukkan ketersediaan bahan organik yang mudah terbakar, dan FWI menggambarkan intensitas api jika kebakaran terjadi.

3. Cara baca peta Spartan

Tampilan SPARTAN (Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan dan Lahan) oleh BMKG (Sumber: website SPARTAN BMKG)

Spartan menampilkan empat warna utama dalam pantauan peta di sistemnya, yakni biru, hijau, kuning, dan merah.

Biru menunjukkan wilayah tersebut aman dengan kondisi lahan cukup basah. Hijau menunjukkan kondisi meningkat dengan kondisi lahan yang lembab, namun masih cukup sulit untuk terbakar.

Kemudian kuning, yang menunjukkan wilayah mudah terbakar, dengan kondisi lahan yang mulai mengering dan kewaspadaan perlu ditingkatkan. Terakhir warna merah, yang menunjukkan wilayah sangat mudah terbakar, dengan kondisi lahan kering kerontang.

“Warna Merah di peta bukan berarti terjadi kebakaran, tetapi lahan sangat kering dan mudah terbakar apabila ada penyulut api,” dikutip dari unggahan BMKG, Senin (26/10/2026).

4. Pemanfaatan data Spartan untuk penanganan karhutla

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Dok. BNPB)

BMKG memanfaatkan Spartan untuk memprediksi bahaya karhutla hingga tujuh hari ke depan, termasuk memperkirakan arah penyebaran asap. Informasi ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah pencegahan dan penanganan kebakaran.

Dalam hal ini, BMKG berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Koordinasi ini dilakukan untuk menentukan rute patroli darat dan udara ke wilayah rawan, serta menyiapkan armada, helikopter dan water bombing lebih awal.

Selain itu, data Spartan juga mendorong adanya sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat di desa-desa berstatus merah atau memiliki tingkat kerawanan tinggi.

5. Langkah kecil cegah karhutla menurut BMKG

ilustrasi pembakaran sampah (pexels.com/Pixabay)

BMKG juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat, khususnya yang berada di wilayah berstatus kuning atau merah, antara lain:

  • Jangan membuka lahan dengan cara membakarnya

  • Jangan membakar sampah atau daun sembarangan

  • Selalu matikan puntung rokok sepenuhnya

  • Siram sisa api unggun hingga padam dan dingin.

BMKG juga menganjurkan untuk selalu memantau tingkat kerawanan api di wilayah masing-masing, melalui website resmi Spartan BMKG.

Curated For You

Editorial Team

Related Article