Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saat Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Berlindung dari Panas

3 min read
Saat Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Berlindung dari Panas
Agenda diseminasi riset adaptasi panas perkotaan yang diselenggarakan Rujak Center for Urban Studies, Yayasan Kota Kita dan Arkom Indonesia, di Jakarta, Kamis (22/10/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Rumah di kawasan perkotaan tidak selalu melindungi warga miskin dari panas, yang dapat berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari.

  • Warga berupaya menghadapi panas secara mandiri, tetapi perbaikan hunian, peneduh, penghijauan, dan penghawaan membutuhkan ruang serta biaya.

  • Riset BeHousing mendorong dukungan lebih luas karena adaptasi panas masih banyak bergantung pada individu, rumah tangga, swadaya, dan filantropi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Rumah semestinya menjadi tempat untuk pulang, beristirahat, dan memulihkan tenaga, setelah seharian beraktivitas. Namun, bagi sebagian warga miskin di perkotaan, rumah justru bisa menjadi ruang yang menyimpan panas, bahkan ketika aktivitas di luar telah usai.

Di Kampung Marlina, Jakarta, panas bukan sekadar persoalan cuaca. Eny Rochayati, perwakilan warga setempat, menggambarkan bagaimana suhu tinggi berdampak pada kesehatan warga, termasuk anak-anak. Dia juga menyoroti sulitnya akses layanan kesehatan bagi masyarakat miskin yang terdampak.

“Panas tidak masuk prioritas bencana, ini sangat disayangkan. Padahal ini sebuah bencana pada kami. Kalau dari rumah sakit banyak korbannya anak-anak. Terutama kesulitan dalam akses ke rumah sakit. Mohon untuk dipermudah layanan kesehatan bagi warga miskin kota," kata Marlina, dalam agenda diseminasi riset adaptasi panas perkotaan yang diselenggarakan Rujak Center for Urban Studies, Yayasan Kota Kita dan Arkom Indonesia, dikutip Senin (26/10/2026).

"Kami merasakan dampak panas yang sesungguhnya. Jangan menunggu korban dulu baru dijadikan bencana. Bencana panas dari krisis iklim adalah bencana yang harus diprioritaskan oleh pemerintah," sambungnya.

  1. 1. Panas yang mengikuti warga hingga ke rumah

    Saat Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Berlindung dari Panas
    ilustrasi permukiman di Jakarta (IDN Times/Herka Yanis)

    Panas perkotaan tidak berhenti menjadi masalah ketika seseorang meninggalkan jalanan yang terik. Kondisi bangunan, sirkulasi udara, paparan matahari, dan lingkungan permukiman ikut menentukan seberapa nyaman sebuah rumah untuk ditinggali.

    Riset BeHousing menemukan bahwa dampak panas juga dirasakan dalam kegiatan sehari-hari, mulai dari bekerja di rumah hingga memasak dan beristirahat.

    Keluhan yang dicatat dalam penelitian meliputi pusing, sakit kepala, keringat berlebih, batuk, dan sakit tenggorokan. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, memasang pendingin ruangan juga tidak selalu menjadi pilihan yang terjangkau.

  2. 2. Bertahan dengan kemampuan sendiri

    Saat Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Berlindung dari Panas
    Agenda diseminasi riset adaptasi panas perkotaan yang diselenggarakan Rujak Center for Urban Studies, Yayasan Kota Kita dan Arkom Indonesia, di Jakarta, Kamis (22/10/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

    Di tengah keterbatasan, warga mengembangkan cara masing-masing untuk menghadapi panas. Namun, upaya tersebut belum tentu cukup untuk membuat hunian lebih nyaman. Perbaikan rumah, penambahan peneduh, penghijauan, dan penghawaan membutuhkan ruang serta biaya yang tidak selalu dimiliki setiap keluarga.

    Direktur Eksekutif Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, menyampaikan harapan agar warga tidak harus mempertaruhkan kesehatan demi mencari nafkah.

    “Kami berharap riset ini senantiasa membersamai semua warga untuk mewujudkan kota yang adil dan lestari; kota yang tidak memaksa orang untuk memilih antara bekerja di luar atau tetap sehat; kota di mana rumah menjadi tempat kembali untuk berlindung, bukan tempat menyimpan panas. Rumah yang nyaman bagi semua,” kata dia.

  3. 3. Ketika adaptasi menjadi urusan bersama

    Saat Rumah Tak Lagi Jadi Tempat Berlindung dari Panas
    ilustrasi gedung dan permukiman di Jakarta (IDN Times/Herka Yanis)

    Riset BeHousing yang dilakukan di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Selangor, Malaysia, menemukan bahwa upaya beradaptasi terhadap panas masih banyak bergantung pada individu dan rumah tangga. Pembiayaan perbaikan hunian pun masih mengandalkan dana swadaya masyarakat dan filantropi.

    Padahal, lingkungan yang lebih sejuk membutuhkan lebih dari sekadar usaha setiap keluarga. Ventilasi memadai, ruang terbuka bersama, penghijauan, serta pembiayaan yang terjangkau memerlukan dukungan lebih luas.

    Bagi warga yang setiap hari berhadapan dengan panas, persoalannya bukan hanya bagaimana bertahan hari ini, tetapi juga apakah mereka bisa memiliki rumah yang benar-benar memberi perlindungan.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More