- Jangan membuka lahan dengan cara membakarnya
- Jangan membakar sampah atau daun sembarangan
- Selalu matikan puntung rokok sepenuhnya
- Siram sisa api unggun hingga padam dan dingin.
Mengenal Spartan, Sistem Peringatan Dini Karhutla dari BMKG

BMKG menggunakan SPARTAN untuk memprediksi bahaya karhutla hingga tujuh hari melalui parameter cuaca dan kondisi bahan organik, bukan mendeteksi sumber api secara langsung.
SPARTAN memantau enam indikator kekeringan, penyebaran, bahan bakar, dan intensitas api; peta berwarna biru hingga merah menunjukkan tingkat kerawanan lahan.
Data SPARTAN mendukung koordinasi BMKG, BNPB, KLH, dan BPBD untuk patroli serta kesiapan penanganan, sementara masyarakat diimbau menghindari aktivitas pembakaran.
Jakarta, IDN Times – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi salah satu ancaman di Indonesia pada 2026. Upaya pencegahan perlu dilakukan untuk menekan risiko kebakaran dan dampaknya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memiliki Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan dan Lahan (Spartan), untuk memperkirakan tingkat bahaya karhutla tersebut.
Sistem ini memanfaatkan parameter cuaca untuk memantau potensi kebakaran, pencegahan, dan mitigasi karhutla hingga tujuh hari ke depan. Sistem ini memperhitungkan kondisi lingkungan melalui parameter cuaca, bukan mendeteksi sumber panas atau penyulut api secara langsung.
Selain itu, sistem ini menampilkan informasi bahaya karhutla melalui peta, sehingga kondisi di berbagai wilayah di Indonesia dapat dipantau secara visual. Berikut cara kerja Spartan BMKG.
1. Kebakaran terjadi ketika tiga unsur segitiga api terpenuhi

ilustrasi segitiga api (commons.wikimedia.org/NPGallery) Kebakaran dapat terjadi ketika tiga unsur segitiga api terpenuhi, yaitu oksigen, bahan bakar, dan sumber panas. Ketiganya merupakan unsur yang mendukung munculnya dan berlangsungnya proses pembakaran.
Bahan bakar tersebut dapat berupa rumput kering, dedaunan, serta gambut. Kemudian sumber panas dapat berasal dari berbagai pemicu yang memungkinkan terjadinya kebakaran.
Ketiga unsur tersebut perlu dipahami dalam upaya pencegahan karhutla. Ketika bahan bakar berada dalam kondisi kering, risiko kebakaran dapat meningkat, apabila terdapat sumber panas atau pemicu api, terlebih saat angin sedang berembus cepat.
2. Enam indikator pemantauan Spartan

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) (Dok. BNPB) Spartan menggunakan enam indikator untuk memantau potensi karhutla berdasarkan kondisi cuaca dan bahan organik di lahan.
Tiga indikator pertama mengukur tingkat kekeringan lahan, yakni FFMC untuk bahan ringan mudah terbakar di permukaan tanah, DMC untuk bahan organik lapisan menengah, dan DC untuk bahan organik padat di lapisan lebih dalam.
Sementara itu, ISI mengukur potensi penyebaran api, BUI menunjukkan ketersediaan bahan organik yang mudah terbakar, dan FWI menggambarkan intensitas api jika kebakaran terjadi.
3. Cara baca peta Spartan

Tampilan SPARTAN (Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan dan Lahan) oleh BMKG (Sumber: website SPARTAN BMKG) Spartan menampilkan empat warna utama dalam pantauan peta di sistemnya, yakni biru, hijau, kuning, dan merah.
Biru menunjukkan wilayah tersebut aman dengan kondisi lahan cukup basah. Hijau menunjukkan kondisi meningkat dengan kondisi lahan yang lembab, namun masih cukup sulit untuk terbakar.
Kemudian kuning, yang menunjukkan wilayah mudah terbakar, dengan kondisi lahan yang mulai mengering dan kewaspadaan perlu ditingkatkan. Terakhir warna merah, yang menunjukkan wilayah sangat mudah terbakar, dengan kondisi lahan kering kerontang.
“Warna Merah di peta bukan berarti terjadi kebakaran, tetapi lahan sangat kering dan mudah terbakar apabila ada penyulut api,” dikutip dari unggahan BMKG, Senin (26/10/2026).
4. Pemanfaatan data Spartan untuk penanganan karhutla

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Dok. BNPB) BMKG memanfaatkan Spartan untuk memprediksi bahaya karhutla hingga tujuh hari ke depan, termasuk memperkirakan arah penyebaran asap. Informasi ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah pencegahan dan penanganan kebakaran.
Dalam hal ini, BMKG berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Koordinasi ini dilakukan untuk menentukan rute patroli darat dan udara ke wilayah rawan, serta menyiapkan armada, helikopter dan water bombing lebih awal.
Selain itu, data Spartan juga mendorong adanya sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat di desa-desa berstatus merah atau memiliki tingkat kerawanan tinggi.
5. Langkah kecil cegah karhutla menurut BMKG

ilustrasi pembakaran sampah (pexels.com/Pixabay) BMKG juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat, khususnya yang berada di wilayah berstatus kuning atau merah, antara lain:
BMKG juga menganjurkan untuk selalu memantau tingkat kerawanan api di wilayah masing-masing, melalui website resmi Spartan BMKG.






















