Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengulik Pemikiran Agus Widjojo Lewat Memoar Militer Pemikir
Buku memoar Agus Widjojo berjudul 'Militer Pemikir, Pemikir Militer'. (IDN Times/Santi Dewi)
  • Buku memoar 'Militer Pemikir, Pemikir Militer' menghadirkan kembali gagasan Agus Widjojo tentang pentingnya supremasi sipil dan profesionalisme TNI di tengah kekhawatiran atas meluasnya peran militer ke ranah sipil.
  • Para narasumber menilai reformasi teritorial yang digagas Agus telah diselewengkan, terlihat dari penambahan struktur dan batalyon baru yang dinilai bertolak belakang dengan konsep modernisasi militer abad ke-21.
  • Pemerintah di bawah Presiden Prabowo disebut mengembangkan kekuatan militer berdasarkan realisme politik untuk memperkuat kedaulatan nasional, meski menghadapi tantangan besar dalam bidang energi dan ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pak Agus Widjojo sudah meninggal, tapi banyak orang masih ingat pikirannya tentang tentara dan negara. Teman-temannya bikin buku cerita tentang dia. Dulu Pak Agus mau tentara tidak terlalu dekat sama politik. Sekarang di zaman Pak Prabowo, tentara makin besar dan banyak pasukan baru. Ada orang bilang itu beda dari ide Pak Agus dulu.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sosok tokoh militer Agus Widjojo memang telah berpulang pada 8 Februari 2026. Tetapi, gagasan dan ide pemikirannya tetap relevan hingga saat ini. Khususnya, pandangan mengenai reformasi TNI yang harus diarahkan untuk memastikan supremasi sipil di dalam pemerintahan.

Semasa masih hidup, Agus bahkan pernah mengingatkan politik yang terlalu dekat dengan militer dapat mengganggu independensi TNI sebagai institusi profesional. Gagasan itu menjadi semakin relevan dengan keadaan saat ini. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, urusan militer meluas ke ranah sipil.

Kegelisahan itu dirasakan orang-orang yang ditinggalkan Agus. Maka, atas inisiatif beberapa sahabat, terwujudlah buku yang diterbitkan Kompas Gramedia berjudul Militer Pemikir, Pemikir Militer dengan tebal 432 halaman.

Memoar itu ditulis 60 penulis yang datang dari beragam latar belakang. Mereka menilai penting untu menghadirkan kembali gagasan-gasan yang pernah diperjuangkan mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) itu.

Salah satu penggagas buku, Erry Riyana Hadjapamekas, memuji Agus sebagai salah satu arsitek utama pada paradigma baru TNI.

"Ia memiliki keyakinan bahwa militer yang kuat adalah militer yang tahu batas dirinya. Bahwa profesionalisme sejati hanya tumbuh ketika militer berdiri pada posisi konstitusionalnya, tunduk pada otoritas sipil yang demokratis," ujar Erry di acara peluncuran buku memoar Agus Widjojo di Palmerah, Jakarta Barat, Senin, 22 Juni 2026.

"Baginya, itu bukan kekalahan, itu kematangan," imbuhnya.

1. Bila masih hidup, Agus Widjojo diyakini kecewa dengan jalannya reformasi politik Indonesia

Diskusi mengenai peluncuran buku memoar Agus Widjojo berjudul 'Militer Pemikir, Pemikir Militer'. (IDN Times/Santi Dewi)

Peluncuran buku dilanjutkan dengan diskusi bersama empat narasumber. Seorang Indonesianis, Marcus Mietzner, tegas mengatakan seandainya Agus Widjojo masih hidup hingga kini, ia akan kecewa melihat jalannya reformasi politik di Indonesia. Sebab, konsep reformasi teritorial yang diajukan Agus pada 1999 dinilai telah diselewengkan.

"Ketika masih berada di bawah Orde Baru, Pak Agus sudah berpikir bahwa harus dilakukan reformasi di bidang militer. Hal itu mulai ia wujudkan ketika menduduki jabatan sebagai kepala staf teritorial. Ia mengajukan proposal untuk mereformasi struktur teritorial secara gradual," ujar Marcus di Palmerah.

Namun, proposal untuk melakukan reformasi struktur teritorial belum berhasil. Ia menyebut ada sejumlah penyebab, salah satunya, karena ide itu ditentang oleh rekan-rekan Agus sendiri di militer.

Kini, yang terjadi pada era pemerintahan Prabowo, justru menambah struktur teritorial baru dalam bentuk batalyon pembangunan. "Maka, dia akan anggap ini sebagai penyelewengan ide yang ia kembangkan saat itu," kata akademisi dari Australian National University (ANU) itu.

Konsep reformasi militer yang diajukan Agus bukan memperluas struktur teritorial. Tetapi, bagaimana mengembangkan struktur modern dan sesuai dengan tantangan abad ke-21. Proses reformasi itu pun diyakini Agus tidak bisa instan. Butuh waktu 10 hingga 15 tahun.

Itu sebabnya ide pengembangan struktur teritorial yang disodorkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bertentangan dengan pemikiran Agus. Marcus sendiri sudah memulai studi mengenai militer Indonesia sejak 1997. Ia juga mengenal Agus sejak masih menjabat sebagai Asisten Perencanaan Umum (Asrenum) Panglima ABRI (TNI).

"Perlu dicatat keberanian Pak Agus untuk melawan arus, pasti selalu seperti itu," tutur Marcus.

2. Pengerahan pasukan dalam jumlah besar jadi tanda tanya publik

Kepala Lab45, Jaleswari Pramodhawardani ketika berbicara di acara SMRC. (Tangkapan layar YouTube SMRC TV)

Sejalan dengan pemikiran Marcus Mietzner, Kepala Lab45 (lembaga think tank), Jaleswari Pramodhawardhani, menilai reformasi struktur teritorial yang digagas Agus Widjojo berbeda dengan konsep yang diimplementasikan pada era Prabowo. Ia mengutip data dari lembaga kajian The International Institute for Strategic Studies (IISS) yang menyebut pertahanan Indonesia lebih fokus ke reteritorialisasi terhadap negara. IISS juga melihat Indonesia melakukan pembangunan kekuatan sistem tempur perang.

"Kajian itu terkonfirmasi dengan situasi hari ini. Bahwa kita tak pernah membayangkan di suatu masa jumlah kodam dalam waktu 20 bulan bertambah menjadi 21 kodam, dan diestimasi akan terus bertambah hingga 2029," ujar Jaleswari.

Sedangkan, jumlah batalyon pembangunan akan bertambah hingga 750. Artinya, akan ada satu batalyon pembangunan di tiap kabupaten di Tanah Air. Perempuan yang akrab disapa Dhani itu menyebut, strategi ini merupakan komando teritorial, bukan fungsi teritorial.

"Komando teritorial itu lebih berbicara bagaimana gelar pasukan atau deploy pasukan ke banyak daerah. Ini adalah konsep yang bertolak belakang dari apa yang disampaikan oleh Pak Agus," katanya.

Selain itu, menurut Jaleswari, gelar pasukan biasanya dilakukan bila terjadi kondisi darurat, sementara saat ini Indonesia masih dalam keadaan tertib sipil.

"Kedaruratan ini yang sering menjadi pertanyaan publik. Sebenarnya deploy pasukan dalam jumlah besar-besaran itu untuk apa?" tutur dia.

3. Prabowo kembangkan militer berdasarkan kacamata realisme politik

Presiden Prabowo Subianto hari ini (23/6/2026), terbang ke Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur (dok. Sekretariat Presiden)

Sementara, menanggapi peluncuran buku memoar Agus Widjojo, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, mengatakan Presiden Prabowo adalah sosok yang sangat kontemporer. Ia menilai Prabowo melihat dunia dengan kacamata realisme politik.

Bila suatu masa dunia dilihat dari kacamata ideologi, kemudian ekonomi, maka saat ini kacamata yang digunakan adalah realisme politik. Bila Indonesia tidak kuat, maka akan dihantam negara yang kuat.

"Dalam konteks itulah Indonesia harus menjadi kekuatan yang sangat siap dengan situasi terburuk. Karena itu, lahir pemikiran mengenai kedaulatan pangan, beras protein, termasuk kedaulatan energi," ujar Qodari.

Ia mengakui tidak mudah untuk mewujudkan kedaulatan energi, sebab Indonesia sudah lama tidak menyiapkan diri di sana. Qodari juga menyinggung Pasal 33 mengenai perekonomian nasional. Tetapi, untuk mewujudkan itu bukan hal mudah, khususnya untuk menurunkan gagasan ke tataran implementasi.

Dalam menata sistem ekonomi Indonesia, kata Qodari, Prabowo berhadapan dengan mereka yang selama ini menerima privilise. Tantangan berikutnya adalah geopolitik yang berimplikasi besar pada ekonomi dalam negeri.

"Sehingga kompleksitas yang berat pada hari ini, perlu dukungan kita semua," tutur mantan pemilik lembaga survei itu.

Editorial Team

Related Article