Jakarta, IDN Times - Sosok tokoh militer Agus Widjojo memang telah berpulang pada 8 Februari 2026. Tetapi, gagasan dan ide pemikirannya tetap relevan hingga saat ini. Khususnya, pandangan mengenai reformasi TNI yang harus diarahkan untuk memastikan supremasi sipil di dalam pemerintahan.
Semasa masih hidup, Agus bahkan pernah mengingatkan politik yang terlalu dekat dengan militer dapat mengganggu independensi TNI sebagai institusi profesional. Gagasan itu menjadi semakin relevan dengan keadaan saat ini. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, urusan militer meluas ke ranah sipil.
Kegelisahan itu dirasakan orang-orang yang ditinggalkan Agus. Maka, atas inisiatif beberapa sahabat, terwujudlah buku yang diterbitkan Kompas Gramedia berjudul Militer Pemikir, Pemikir Militer dengan tebal 432 halaman.
Memoar itu ditulis 60 penulis yang datang dari beragam latar belakang. Mereka menilai penting untu menghadirkan kembali gagasan-gasan yang pernah diperjuangkan mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) itu.
Salah satu penggagas buku, Erry Riyana Hadjapamekas, memuji Agus sebagai salah satu arsitek utama pada paradigma baru TNI.
"Ia memiliki keyakinan bahwa militer yang kuat adalah militer yang tahu batas dirinya. Bahwa profesionalisme sejati hanya tumbuh ketika militer berdiri pada posisi konstitusionalnya, tunduk pada otoritas sipil yang demokratis," ujar Erry di acara peluncuran buku memoar Agus Widjojo di Palmerah, Jakarta Barat, Senin, 22 Juni 2026.
"Baginya, itu bukan kekalahan, itu kematangan," imbuhnya.
