Waketum PAN Eddy Soeparno mendukung Prabowo-Zulhas di Pilpres 2029. (IDN Times/Amir Faisol).
Eddy menjelaskan, tahun 2025 Indonesia mengimpor sekitar 17.6 juta ton minyak mentah dan 37.8 juta ton produk petroleum senilai USD 32.8 miliar atau Rp 551 triliun. Dengan asumsi bahwa volume impor akan sama, kebutuhan devisa saat ini akan meningkat untuk membeli produk migas dengan harga yang lebih tinggi dan kurs rupiah yang semakin lemah.
“Kita perlu mewaspadai kondisi disruptif di pasar energi tidak dari kenaikan harga migas saja, namun ketersediaan pasokan. Security of supply menjadi sangat penting karena defisit neraca migas global akibat penutupan Selat Hormuz akan membuat sejumlah negara pontang-panting mencari substitusinya. Banyak diantara negara tersebut bersedia membeli produk migas dengan harga yang lebih tinggi dari pasaran," kata Mantan Sekjen PAN itu.
Menurut Eddy, Indonesia juga berisiko harus bersaing dengan negara-negara lain yang juga mencari alternatif pemasok minyak baru selain dari Timur Tengah.
Ia mengatakan, Cina, India, Jepang dan Korea sebagai negara-negara yang mengadalkan pasokan migasnya dari Timur Tengah tentu akan mencari alternatif baru termasuk ke Nigeria, Angola, Brazil yang juga merupakan negara pemasok migas bagi Indonesia.
"Artinya, kita berpeluang berebut supply minyak mentah dengan negara-negara raksasa pengimpor migas," kata Anggota Komisi XII DPR itu.
Kendati, Waketum PAN ini meyakini, pemerintah telah mempersiapkan alternatif sumber pasokan impor dari negara lain, misalnya Amerika Serikat (AS). Sehingga Indonesia memiliki diversifikasi sumber pasokan yang memadai.
“Yang betul-betul perlu kita perhatikan adalah sejauh mana ketahanan fiskal dari negara-negara pengimpor migas dalam memenuhi kebutuhan migasnya, ketika harga semakin melambung untuk waktu yang cukup panjang?" tutur Eddy.