Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mulai 2027 Wali Kota Bekasi Akan Berkantor di RW, Ini Alasannya

2 min read
Mulai 2027 Wali Kota Bekasi Akan Berkantor di RW, Ini Alasannya
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto. (IDN Times/Imam Faishal)
  • Wali Kota Bekasi Tri Adhianto berencana berkantor di RW mulai Januari 2027 untuk melihat persoalan langsung dan menyerap kebutuhan warga.
  • Pembangunan akan disusun berdasarkan kebutuhan tiap RW, mencakup infrastruktur dan pemberdayaan, melalui program Lingkar Keren yang mengalokasikan Rp100 juta per RW.
  • Tri mendorong gotong royong dan keterlibatan warga agar pembangunan terjaga, sekaligus memperpendek jarak pemerintah dengan masyarakat dalam menentukan solusi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bekasi, IDN Times - Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, berencana menjadikan lingkungan Rukun Warga (RW) sebagai salah satu tempatnya bekerja mulai Januari 2027. Langkah ini dilakukan untuk melihat langsung persoalan warga sekaligus menyerap kebutuhan masyarakat di tingkat lingkungan.

“Mulai Januari 2027, saya berencana berkantor di RW-RW. Kita ingin melihat, mendengar dan mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Jangan sampai pemerintah membuat program, tetapi ternyata tidak menjawab persoalan yang dihadapi warga,” kata Tri kepada jurnalis, Senin (21/9/2026).

  1. 1. Pembangunan harus sesuai kebutuhan warga

    IMG_20260915_080735.jpg
    Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, saat melakukan sidak di Kantor Dinas Sosial. (IDN Times/Imam Faishal)

    Tri mengatakan, setiap RW memiliki persoalan yang berbeda. Karena itu, pembangunan di Kota Bekasi perlu disusun berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat di masing-masing wilayah.

    Menurutnya, persoalan tersebut dapat berupa infrastruktur lingkungan hingga kebutuhan pemberdayaan masyarakat. Tri juga akan memastikan program pembangunan tidak hanya terpusat di wilayah tertentu.

    “Setiap RW memiliki kebutuhan dan persoalan yang berbeda. Karena itu, anggaran yang tersedia harus benar-benar diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, baik pembangunan infrastruktur maupun pemberdayaan warga,” katanya.

  2. 2. Setiap RW mendapatkan anggaran Rp100 juta

    IMG_20260710_093822.jpg
    Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto. (IDN Times/Imam Faishal)

    Rencana Tri berkantor di lingkungan RW juga dikaitkan dengan program Lingkar Keren atau Lingkungan Masyarakat Kota Bekasi Keren.

    Program tersebut mengalokasikan anggaran Rp100 juta untuk setiap RW. Dana itu diarahkan untuk mendukung pembangunan lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.

    Tri berharap, pengalokasian anggaran tersebut dapat membuat pembangunan lebih merata karena kebutuhan setiap lingkungan dapat diidentifikasi secara langsung.

    “Ketua RW harus tahu apa yang sedang dihadapi warganya. Apakah jalan lingkungannya perlu diperbaiki, apakah saluran airnya bermasalah, atau apakah masyarakatnya membutuhkan ruang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan pemberdayaan. Kita ingin kebutuhan itu dibicarakan dan dicarikan solusinya bersama,” ungkapnya.

  3. 3. Tri dorong semangat gotong royong

    IMG_20260319_124038.jpg
    Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto. (IDN Times/Imam Faishal)

    Tri menilai pembangunan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. Partisipasi masyarakat juga dibutuhkan agar pembangunan yang telah dilakukan dapat dijaga dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

    Dalam forum tersebut, ia mengaitkan pembangunan lingkungan dengan penerapan nilai-nilai kebangsaan, khususnya persatuan dan gotong royong.

    “Gotong royong harus kita hidupkan dalam tindakan nyata. Ketika warga ikut menjaga lingkungan, terlibat dalam pembangunan, dan peduli terhadap persoalan tetangganya, di situlah nilai kebangsaan hadir dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

    Melalui rencana berkantor di RW, Tri ingin memperpendek jarak antara pemerintah dan masyarakat. Aspirasi warga diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan program pembangunan di tingkat lingkungan.

    “Prinsipnya sederhana, kita datang, kita dengarkan, kita lihat persoalannya, lalu kita cari jalan keluarnya. Pembangunan harus dirasakan masyarakat sampai ke lingkungan tempat mereka tinggal,” pungkas Tri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More