Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nezar Ungkap Pola Pencurian Data Terbaru: Dicuri Hari Ini, Dibuka Nanti
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. (IDN Times/Herka Yanis)
  • Nezar Patria mengingatkan data terenkripsi dapat dicuri dan disimpan untuk dibuka saat teknologi masa depan mampu memecahkan enkripsi.
  • Pemerintah mengevaluasi arsitektur keamanan siber setelah serangan ransomware terhadap PDNS 2 dan menekankan keamanan sejak perencanaan sistem.
  • AI, termasuk agentic AI, dapat memperkuat pertahanan atau menjalankan serangan siber otomatis, di tengah kebutuhan talenta digital yang besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juni 2024

Serangan ransomware terhadap PDNS 2 menjadi pelajaran dalam evaluasi arsitektur keamanan siber.

Senin (10/8/2026)

Nezar Patria mengingatkan ancaman siber di era komputasi kuantum dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nezar Patria mengingatkan ancaman pencurian data terenkripsi yang dapat dibuka pada masa depan.
  • Who?
    Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria serta pelaku serangan siber.
  • Where?
    ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan.
  • When?
    Senin (10/8/2026).
  • Why?
    Teknologi komputasi kuantum berpotensi mampu memecahkan sistem enkripsi yang digunakan saat ini.
  • How?
    Pelaku mencuri dan menyimpan data terenkripsi hingga teknologi dekripsi tersedia, dalam pola harvest now, decrypt later.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pak Nezar bilang ada orang yang bisa mengambil data yang terkunci lalu menyimpannya. Nanti, saat komputer makin pintar, data itu bisa dibuka. Pak Nezar juga bilang keamanan harus dibuat dari awal. AI bisa membantu menjaga komputer, tetapi AI juga bisa dipakai untuk menyerang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penekanan pada keamanan sejak tahap perencanaan menunjukkan adanya upaya untuk memperbaiki pembangunan sistem digital. Evaluasi dari pengalaman PDNS 2 juga menjadi dasar untuk meninjau arsitektur keamanan siber. Di saat yang sama, perhatian terhadap post-quantum cryptography dan kebutuhan talenta digital menempatkan perlindungan data sebagai bagian penting dari kesiapan sistem.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan ancaman siber di era komputasi kuantum. Pelaku dapat mencuri dan menyimpan data terenkripsi untuk dibuka pada masa depan ketika teknologi mampu memecahkan sistem enkripsi yang digunakan saat ini.

“Ada data-data yang sudah mereka curi, mereka enggak bisa buka, karena sudah ada enkripsinya. Cuma data itu dia simpan, diambil,” ujar Nezar dalam ITSEC Cyber & AI Academy Grand Launching di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).

1. Data dicuri sekarang, dibuka di masa depan

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria (tengah) (IDN Times/Misrohatun)

Nezar menyebut, praktik tersebut sebagai harvest now, decrypt later. Dalam pola ini, pelaku tidak perlu langsung membuka data yang dicuri. Data terenkripsi disimpan hingga tersedia teknologi yang mampu mendekripsinya. Kondisi tersebut, menurut dia, mengubah cara pandang terhadap keamanan dan perlindungan data.

“Kita juga harus bersiap-siap, terutama untuk keamanan data kita, untuk sistem kriptografi kita, itu adalah post-quantum cryptography,” kata dia.

2. Keamanan harus dibangun sejak awal

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria (IDN Times/Lia Hutasoit)

Perkembangan ancaman siber membuat pemerintah mengubah pendekatan dalam pembangunan sistem digital. Pengalaman serangan ransomware terhadap PDNS 2 pada Juni 2024 menjadi pelajaran dalam mengevaluasi arsitektur keamanan siber. Nezar menekankan, keamanan harus diperhitungkan sejak tahap awal pembangunan sistem digital.

Securitys harus sudah masuk dalam perencanaan,” kata dia.

3. AI bisa jadi alat serangan siber

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria/IDN Times

Ancaman juga berkembang seiring kemajuan kecerdasan artifisial. Nezar mengatakan, AI dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan sekaligus melancarkan serangan siber. Perkembangan agentic AI bahkan memungkinkan serangan dilakukan secara otomatis, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada peretas manusia.

“Yang bekerja bukan lagi hacker, tapi agentic AI yang melakukan serangan-serangan siber itu,” ungkapnya.

Nezar juga menyoroti kebutuhan talenta digital. Pemerintah memperkirakan kebutuhan talenta mencapai sekitar sembilan juta orang pada 2030, sedangkan kemampuan menghasilkan talenta saat ini baru sekitar tiga juta lebih.

Editorial Team

Related Article