Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Istri Mahathir Mohamad Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

2 min read
Istri Mahathir Mohamad Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dan sang istri Dr Hasmah Ali. (AFP/Mohd Rasfan)
  • Dr Hasmah Ali, istri mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, meninggal dunia pada 28 September 2026 di usia 100 tahun di Institut Jantung Negara.

  • Selain mendampingi Mahathir, Hasmah dikenal sebagai dokter dan advokat kesehatan masyarakat, mencakup kesehatan ibu, keluarga berencana, literasi, pencegahan narkoba, serta kesehatan mental.

  • Hasmah dan Mahathir bertemu saat kuliah kedokteran di Singapura, menikah pada 1956, memiliki empat anak serta mengadopsi tiga anak; ia termasuk perempuan Melayu pertama berprofesi dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Kabar duka datang dari keluarga mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. Istrinya, Dr Hasmah Ali, meninggal dunia pada Senin (28/9/2026) pada usia 100 tahun.

Hasmah mengembuskan napas terakhir di National Heart Institute atau Institut Jantung Negara (IJN). Dia meninggal sekitar pukul 09.25 waktu setempat.

Hasmah dikenal bukan hanya sebagai istri Mahathir, tetapi juga dokter yang aktif memperjuangkan berbagai isu kesehatan masyarakat. Dia menggunakan perannya di ruang publik untuk mengadvokasi kesehatan ibu, keluarga berencana, literasi, pencegahan penyalahgunaan narkoba, hingga kesehatan mental.

Dikutip dari Free Malaysia Today, Hasmah dan Mahathir pertama kali bertemu pada 1947 ketika keduanya menjadi mahasiswa di King Edward VII College of Medicine, Singapura. Keduanya kemudian menikah pada Agustus 1956.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat anak, yakni Marina, Mirzan, Mokhzani, dan Mukhriz. Keduanya juga mengadopsi tiga anak, yaitu Melinda, Mazhar, dan Maizura.

Hasmah merupakan anak keenam dari 10 bersaudara. Sejak menempuh pendidikan awal di Klang hingga melanjutkan studi kedokteran di Singapura, perjalanan hidupnya turut mencerminkan berkembangnya kesempatan bagi perempuan Melayu di Malaysia.

Dia menyelesaikan pendidikan kedokterannya pada 1955 dan menjadi salah satu perempuan Melayu pertama yang berprofesi sebagai dokter. Pada masa itu, kesempatan bagi perempuan untuk menempuh pendidikan dan berkarier masih terbatas.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More