Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PDIP Bikin Gerakan Public Pulse 28 untuk Milenial-Gen Z, Apa Itu?
PDIP luncurkan gerakan Public Pulse 28 jelang 100 Tahun Sumpah Pemuda (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • PDIP meluncurkan Millennium Public Pulse 28 di Jakarta sebagai rangkaian menuju 100 tahun Sumpah Pemuda, dengan forum diskusi profesional dan mahasiswa.
  • Gerakan yang dirancang sejak 2024 ini diposisikan sebagai ruang dialog, kritik kebijakan, aspirasi, dan ekspresi anak muda yang disebut pemilik masa depan bangsa.
  • Hasto Kristiyanto menekankan pemahaman diri, narasi strategis, dan kepemimpinan intelektual; Public Pulse juga akan mengangkat kisah inspiratif serta praktik baik berbagai tokoh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PDI Perjuangan meluncurkan gerakan intelektual bernama Millennium Public Pulse 28 di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/2026). Gerakan itu dibuat sebagai rangkaian acara jelang 100 tahun peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026.

Acara tersebut merupakan tempat berdiskusi dengan menghadirkan narasumber dari profesional. Mahasiswa turut diundang sebagai peserta.

Narasumber dalam acara Public Pulse 28 edisi pertama ini, yakni Co-Founder What is Up Indonesia (WIUI) sekaligus penulis buku "Makannya Mikir!", Abigail Limuria, dan Ekonom INDEF, Berly Martawardaya.

Ketua DPP PDIP Bidang Pemuda dan Olahraga, MY Esti Wijayati mengatakan, gerakan Public Pulse 28 ini sudah dirancang sejak 2024.

"Di ruang inilah kita bersama anak muda diberikan ruang untuk melakukan dialog, untuk memberikan masukan, untuk mengkritik jika memang ada kebijakan-kebijakan yang kurang tepat. Ini pun juga menjadi ruang aspirasi, ruang berekspresi, ruang menyampaikan harapan," ujar Esty.

1. Anak muda adalah pemilik masa depan

Ketua DPP PDI Perjuangan, MY Esti Wijayati. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Esti mengatakan, anak muda merupakan pemilik masa depan. Oleh karena itu, anak muda harus diarahkan dan dirawat, suaranya tak boleh dibungkam.

"Kita gaungkan, dan kita nyatakan bahwa anak muda adalah pemilik masa depan bangsa, maka kekritisan harus dibangun tidak untuk dibungkam, dan itu adalah sebagai ruang memberikan tempat agar anak muda bisa memberikan warna indah bagi Indonesia Raya," kata dia.

2. Transformasi gerakan harus dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Dalam kesempatan itu, Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, merujuk buku The Daily of CEO karya Steven Bartlett. Pada buku itu, kata Hasto, transformasi organisasi atau gerakan harus dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri.

"Kita harus merumuskan the story-nya. Bagaimana narasi-narasi yang kita bangun, strategic communication dari anak-anak muda sehingga mampu mengubah dunia melalui intellectual leadership yang berkarakter," kata Hasto.

3. Hasto bawa buku kuliner era Sukarno

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Selain itu, Hasto juga membawa buku resep kuliner Nusantara berjudul Mustika Rasa. Buku tersebut disusun era Presiden pertama RI, Sukarno. Menurut Hasto, buku tersebut berisi konsep makan bergizi. Hasto berseloroh, ini merupakan buku MBG versi Sukarno.

"Mustika Rasa ini mengandung knowledge. Ini adalah MBG versi Soekarno. Tetapi bukan dengan proyek nasional dengan mengalihkan dana pendidikan, no! Tetapi dengan membangun kesadaran rakyat, menyajikan data informasi bahwa kalau kita makan daun kelor, daun pepaya, umbi-umbian, kita akan sehat. Di sini sudah dikaji dengan cara MBG yang memberdayakan rakyat Indonesia," kata Hasto.

Hasto menyampaikan, dalam buku tersebut, kandungan gizi pada sejumlah bahan makanan juga disebutkan, sehingga pembaca bisa langsung mengetahui kandungan apa saja yang ada pada bahan makanan yang ingin dimasaknya. Hasto mengatakan, Public Pulse juga nantinya bisa mengangkat kisah para tokoh yang dianggap menginsipirasi.

"Public Pulse ini nanti akan mengangkat kisah inspiratif dan best practices dari tokoh-tokoh kalangan rakyat biasa, budayawan, seniman, dan artis yang berjuang dengan jatuh bangun demi membuat legacy bagi masa depannya di luar batas-batas geografis maupun sekat partai politik," ujar Hasto.

Curated For You

Editorial Team

Related Article